
"Tuan muda Derandra sudah tiada sejak kelas dua SMA, Nona. Tuan muda mengidap penyakit kangker hati dan tidak ada yang tau termasuk tuan dan nyonya" Jelas salah seorang pelayan keluarga Derandra
"K–kau mengatakan yang sejujurnya 'bukan?" Tanya Deva memastikan, "Iya, Nona. Apa yang saya katakan tadi adalah kebenaran yang ingin anda ketahui" Jawabnya lagi
"Kau bisa pergi, ini bayaran mu" Deva menyodorkan segepok uang merah kepada pelayan tadi
"Terimakasih, Nona. Kalau begitu saya permisi" Pamit sang pelayan diangguki Deva.
Deva masuk ke dalam rumah orang tuanya tanpa permisi, ia ingin memastikan apa yang dapatkan tadi adalah kebohongan.
"Ayah! Bunda! Ayah!"
"Deva, kenapa kamu berteriak? Dan lagi, kau kenapa kesini? Kondisimu belum—"
"Frans masih hidupkan, Bunda?" Sela Deva menatap serius Bunda Lily, "Jawab Deva, Bunda. Frans masih hidupkan?"
"Deva.."
"Frans masih hidupkan, Bunda!"
__ADS_1
"Frans sudah tiada, Deva! Dia sudah tiada, dan sampai kapanpun kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi!" Ujar Lily tanpa sadar meninggikan suaranya
Tubuh Deva luruh ke lantai mendengar jawaban yang sama dari Bunda Lily.
"Hiks kenapa kalian menyembunyikan semuanya dariku, termasuk tentang kematian Frans! Lebih baik kalian membiarkan ku tiada setelah kecelakaan kemarin!"
"Sayang.." Bunda Lily mensejajarkan tubuhnya dengan Deva
"Deva kecewa sama kalian" Wanita beranak satu itupun beranjak pergi dengan air mata yang masih mengalir, tanpa menghiraukan panggilan dari sang Ibu.
Brukk
Tubuh Deva terjatuh di dekat makam tuan muda Derandra, Frans. Kepalanya menunduk dan tangannya mengepal kuat meremas tanah merah di depannya
"Kau senang di sana melihatku menjadi milik orang lain? Katakan, Frans. Apa kau senang melihat ku menjadi milik orang lain?!"
"Bawa aku ikut bersamamu, Frans. Selama ini kau selalu mengajakku kemana pun kau pergi, bahkan saat ada acara keluarga kau selalu mengajakku tanpa aku minta. Tapi kali ini, aku yang akan meminta untuk ikut bersamamu"
Semakin lama pandangan Deva semakin kabur sampai kesadarannya hilang.
__ADS_1
"Astaga!" Seorang wanita tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang
"Kita bertemu lagi" Ucap orang yang menepuk bahu wanita tadi
"Frans" Wanita itu pun langsung memeluk erat tubuh pria di depannya
"Kau datang ingin membawaku pergi 'bukan? Aku sangat senang" Ucap Deva tersenyum
"Tidak, Sayang. Aku datang bukan untuk membawamu" Spontan Deva langsung melepas pelukannya
"Kenapa? Ini pertama kalinya aku memintamu untuk membawaku pergi bersamamu tapi kau menolak?" Balas Deva menitikkan air matanya, "Maaf, Sayang. Tapi kita sudah berbeda, kehidupan ku dengan dirimu sudah berbeda. Kita tidak akan pernah bisa bersama, aku mohon mengertilah" Imbuh Frans
"Apa yang harus ku mengerti? Aku tidak mengingat siapa pria yang berstatus menjadi suamiku, dan yang aku ingat hanya kamu Frans"
"Sayang, aku senang sekaligus lega melihatmu bersama pria itu. Aku sudah melihat nya sendiri, dia baik dan bertanggung jawab. Dia bahkan tidak keberatan kalau kamu mengunjungi ku" Ujar Frans, "Dia sangat mencintaimu, Sayang"
"Pergilah, dan kembali padanya. Dia sudah menunggumu" Sambung Frans mengukir senyum di wajahnya
"Tapi aku ingin ikut bersamamu, Frans"
__ADS_1
"Aku selalu bersamamu, Sayang. Jaga orang-orang yang kamu sayangi, terutama Chesa"
Hati Deva bergetar mendengar nama Chesa di sebut oleh Frans, wanita itu akhirnya mengangguk setuju.