DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 27


__ADS_3

Deva melepas pelukannya dan menatap Nathan yang tersenyum.


"Tadi dari mana? Dan kenapa pesanku nggak di balas" Tanya Deva penasaran


Bukannya menjawab, Nathan malah mengambil sesuatu yang ada di samping ranjang. "Ini, tadi aku ambil ini di bawah" Sebuket bunga dan juga kotak kaca berukuran kecil di perlihatkan oleh Nathan


"Untukku?"


"Buat ibu" Jawab Nathan, "Tentu saja untukmu"


"Terimakasih" Deva menerimanya lalu memeluk kembali tubuh tetap suaminya, dengan senang hati Nathan membalasnya


Nathan mengambil kalung berlian dari kotak tersebut lalu memakai-kannya di leher Deva


"Cantik" Puji Nathan, "Dan kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu tadi"


Dahi Deva mengerut. "Tanggung jawab apa?"


"Hey? Kau tadi berpakaian begitu seksi di depan ku dan kau tidak ingin bertanggung jawab setelah membangunkannya?" Jelas Nathan dengan tanpa malu memperlihatkan sesuatu yang mengembung di balik celana


Deva terkekeh, kedua tangannya mengait di leher Nathan. "Sebagai hadiah anniversary kita yang pertama, kau boleh melakukan nya. Tapi, lakukan dengan pelan sesuai kata dokter"


"Aku selalu mengingatnya."


Pagi hari, Deva sudah bersandar di tembok kamar mandi setelah berusaha mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


Perutnya serasa di putar-putar dan ingin keluar, tetapi hanya ****** yang keluar.


"Deva, apa kamu di dalam" Tanya Nathan mengetuk pintu kamar mandi


"Ya!"


"Kau baik-baik saja?" Deva sudah tidak ada tenaga lagi untuk menjawab pertanyaan dari Nathan, ia diam dan tangannya menggapai pinggiran wastafel untuk berdiri


Membasuh mulutnya menggunakan air lalu berjalan keluar dari sana.


"Deva" Nathan menopang tubuh istrinya yang ambruk di dada bidangnya. Melihat Deva tidak ada tenaga, Nathan membawa Deva ke atas kasur


"Tetap disini" Pinta Deva pelan, "Akan ku membuat teh hangat untukmu, hanya sebentar" Kata Nathan, Deva menggeleng


Tok tok tok


Nathan beringsut turun dari ranjang dan membuka pintu


"Ibu? Kenapa Ibu yang membawa teh nya" Tanya Nathan, "Nggak papa. Apa Deva baik-baik saja, Nak" Tanya Maira, "Iya, Bu. Hanya tubuhnya yang lemas, tapi tidak papa" Jawab Nathan


"Boleh Ibu melihatnya?"


"Tentu, silahkan masuk" Ibu Maira pun masuk ke dalam dan melihat Deva yang terbalut dengan selimut tebal


"Nak"

__ADS_1


"Ibu? Maaf, Deva nggak tau kalau Ibu ada disini" Ucap Deva berusaha duduk, "Tetaplah berbaring, nggak papa" Lanjut Maira


Deva menurut.


"Ibu akan membuatkan salad untukmu, kau harus banyak-banyak makan buah dan sayur" Ujar Maira, "Nggak perlu repot-repot, Bu. Deva bisa membuatnya sendiri" Balas Deva tak enak


"Nggak repot sama sekali. Nathan, jaga istrimu. Ibu akan segera kembali" Titah Maira sebelum benar-benar pergi dari kamar Nathan dan Deva


"Baiklah" Nathan duduk di sebelah Deva yang berbaring


"Minumlah ini. Jika masih belum ada tenaga, hari ini kita cuti saja" Ujar Nathan, "Kita? Kau bisa berangkat, aku akan baik-baik saja" Balas Deva menolak


"Tidak tidak, jika kau di rumah aku juga akan di rumah. Nggak mungkin aku ninggalin kamu sendiri dengan keadaan seperti ini" Tolak Nathan


"Terserah kau saja" Pasrah Deva menempatkan kepalanya di dada bidang Nathan


Tok tok


"Nak, ini makanlah" Ucap Maira memberikan salad kepada menantunya, "Terimakasih, Ibu malah repot-repot" Kata Deva menerima nya


"Ohya, Nak. Hari ini Ibu akan pasar, bahan makanan di dapur udah mau abis" Ijin Maira, "Biar Nathan yang antar" Timpal Deva


"Nggak usah, Ibu bisa pakai kendaraan umum" Tolak Maira, "Deva benar Ibu, biar aku yang mengantar" Imbuh Nathan


"Baiklah, Ibu akan bersiap."

__ADS_1


__ADS_2