DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 20


__ADS_3

Hari yang di tunggu Nathan dan Deva tiba, hari ini mereka akan mengambil hasil tes DNA yang Nathan lakukan beberapa minggu yang lalu.


"Bagaimana hasilnya, Dokter" Tanya Nathan, "Hasilnya positif, disini nyonya Maira jelas mempunyai hubungan darah dengan anda" Jelas Dokter memberikan sebuah kertas putih kepada Nathan


Perasaan Nathan tak karuan setelah melihat hasil tersebut, tanpa mengatakan apapun Nathan keluar dari ruangan Dokter.


"Maaf, kami permisi" Pamit Deva


"Silahkan."


Deva memiringkan tubuhnya menghadap Nathan yang bersandar di bangku kemudi.


"Hasilnya sudah keluar, sekarang ambil keputusan mu" Ucap Deva memegang bahu kiri sang suami


"Kita ke rumah ibu" Nathan menjalankan mobilnya menuju ke rumah ibu Maira.


Sampai di depan gang, mereka berdua turun dan melangkah masuk ke dalam sebuah gang kecil.


"Assalamu'alaikum" Nathan mengetuk pintu rumah milik ibu Maira


"Assalamu'alaikum, ibu. Tolong buka pintunya, ini Nathan" Kata Nathan terus mengetuk pintu


"Aden, Non, mau nyari bu Maira?" Tanya seorang ibu-ibu yang tak sengaja melintas, "Iya, di mana ibu Maira" Tanya Deva


"Jam segini bu Maira masih kerja, Non" Jawabnya, "Kerja? Di mana" Sahut Nathan, "Bu Maira kerja di sekitar sini jadi buruh cuci, Den. Kalau mau, ayo saya temani mencari bu Maira" Tawarnya

__ADS_1


"Antar kami" Mereka bertiga berjalan mengelilingi gang tersebut, dari kejauhan Deva tak sengaja melihat ibu Maira sedang menjemur pakaian di rumah yang berada di pojok.


"Itu ibu, Nathan" Ucap Deva menarik tangan Nathan


"Ibu" Panggil Nathan menatap sendu Ibu Maira yang terkejut melihatnya


"N–Nathan, kau disini" Wanita paru baya itu meletakkan baju yang berada di tangannya kembali kedalam ember


Tanpa permisi, Nathan langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Maaf, saya permisi dulu" Pamit Ibu tadi diangguki Deva dan Nathan yang sudah melepaskan pelukan nya.


"Kalian ada keperluan apa datang kemari?" Tanya Maira, "Menjemput Ibu pulang, hasil tes DNA kemarin sudah keluar. Dan aku sudah tau semuanya" Jelas Nathan tersenyum


"Tidak, Nak. Ibu akan tetap tinggal disini, Ibu sudah sangat bahagia mendengar kamu mengetahui semuanya" Tutur Maira, "Tidak, kami tidak akan membiarkan Ibu tinggal disini lagi. Bagaimana bisa kita hidup tenang di sana sedangkan Ibu tinggal disini dan mencari uang seperti ini, kalau Ibu mau tau kami tidak pernah menerima penolakan apapun" Imbuh Deva


"Tap—"


"Ibu bisa mengambil barang-barang yang menurut Ibu sangat di butuhkan, kami akan menyiapkan semuanya di sana. Ibu tenang saja" Sela Nathan


"Baiklah."


Di sepanjang perjalanan, Deva berusaha mencairkan suasana hening yang berada di dalam mobil


"Nathan"

__ADS_1


"Ya"


"Jus lemon" Pinta Deva, "Kau yakin? Itu sangat asam" Tanya Nathan, "Di mana-mana lemon memang asam, ayo kita beli" Kata Deva


"Oke"


Deva menyenderkan kepalanya di bangku yang ia duduki, sesekali ia memijit keningnya.


"Kau baik-baik saja, Nak" Tanya Maira, "Ya, hanya sedikit pusing. Mungkin karna akhir-akhir ini tugas kuliah sangat banyak" Urai Deva


"Aku akan membelinya, Ibu ingin sesuatu?" Tanya Nathan ketika mereka sudah berada di depan ruko penjual jus


"Kalian saja"


"Baiklah, kalian tunggu disini" Nathan pun keluar dari mobil.


Tak butuh waktu lama, Nathan kembali dengan beberapa kantong plastik di tangannya


"Kamu beli apa aja, banyak banget" Tanya Deva memeriksa satu per satu kantong plastik yang suaminya bawa


"Jus, cireng, sama tahu gejrot. Tadi aku lihat orang-orang makan kayaknya enak, jadi aku borong. Kalau kelebihan bisa di bagi di rumah" Jawab Nathan kembali melajukan mobilnya


"Ibu yakin tidak ingin sesuatu?"


"Iya, Nak."

__ADS_1


Setelah mengantar ibu Maira ke kamarnya, Deva langsung pergi ke kamar menemui Nathan. Terlihat pemuda itu sedang fokus ke layar laptopnya, ia mendekat dan duduk di sebelah nya


"Nanti kita makan malam di luar, aku sudah memberitahu yang lain" Ucap Nathan, "Hem, kita juga harus menghapus perbedaan antara papa sama ibu. Keluarga kita akan damai kalau semuanya bersatu" Tambah Deva.


__ADS_2