
Sesuai rencana Nathan, Keluarga Alexander dan Keluarga Gautama makan malam bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota tersebut.
"Dek, ibu itu siapa?" Tanya Adnan berbisik kepada adiknya, "Mau tau aja atau mau tau banget" Balas Deva juga berbisik, "Abang serius, es krim coklat deh" Kata Adnan
"Kalian kenapa bisik-bisik begitu" Tegur Lily, "Ini, Bunda. Kata Bang Adnan, dia mau nikahin nenek-nenek yang biasanya ada di ujung komplek. Jatuh cinta pada pandangan pertama, Bun" Ejek Deva menahan tawanya
"Adnan"
"Nggak, Bunda. Deva bo'ong, selera Adnan masih tinggi kali" Balas Adnan menatap kesal sang adik.
"Dan ya, tujuan Nathan mengajak kalian makan malam untuk memberitahu bahwa Ibu Maira akan tinggal bersama Nathan dan Deva" Tutur Nathan, "Nathan rasa, kalian tidak ada yang keberatan sama sekali"
"Bisa tolong beritahu siapa ibu Maira" Timpal Adnan, "Ibu Maira adalah Ibu kandung Nathan, Bang. Dan untuk yang lain, tidak perlu Nathan jelaskan lagi" Jawab Nathan
Keheningan terpecah saat tiba-tiba Deva pergi tanpa pamit ke arah toilet.
"Deva"
"Bunda, biar Nathan yang menyusul Deva. Bunda disini saja" Cegah Nathan, "Hey, kau ingin masuk ke toilet wanita? Bisa-bisa kau di pukuli di dalam sana" Ledek Adnan
__ADS_1
Nathan menggaruk tekuk nya dan mempersilahkan Bunda Lily menyusul istrinya.
"Deva, kau baik-baik saja" Tanya Lily melihat Deva berdiri di wastafel
"Ya, Bunda"
"Sayang, wajahmu pucat sekali. Kamu sakit, hm?" Ucap Lily menangkup wajah putrinya, "Nggak, Bun. Mungkin Deva kecapean karna akhir-akhir ini tugas kuliah sangat menumpuk" Kata Deva tersenyum tipis
"Nak, jangan terlalu capek. Kesehatan itu sangat penting, kerjaan tugasmu sesuai waktu. Jangan di paksa, atau kau akan sakit" Pesan Lily menatap sendu anak perempuannya
"Iya, Bunda. Deva janji nggak ngulangin lagi" Kata Deva, "Ayo kita kembali."
Bunda Lily dan Deva kembali bergabung bersama yang lain.
"Dek, kamu bunting" Bisik Adnan bertanya, Deva reflek langsung memegang perut ratanya dan menatap Adnan. "Masa sih udah ada?"
"Cuma nebak, Abang masih inget waktu dia kayak kamu ini" Kata Adnan
"Kayak aku?"
__ADS_1
"Mual?" Deva mengangguk. "Tapi nggak ada yang keluar"
"Wajah pucet dan ini kau makan banyak. Lalu, setau Abang kamu nggak suka yang asem-asem, terus ini kamu pesen jus lemon" Jelas Adnan lagi-lagi menggunakan nada pelan.
"Adnan, Deva"
"Abang konsultasi biar bisa cepet nikahin nenek-nenek itu, Bunda. Iya kan, Bang" Ucap Deva cepat, Adnan tersenyum tertahan ketika kakinya diinjak dengan keras oleh sang adik.
Nathan, Deva, dan Ibu Maira sekarang sudah dalam perjalanan ke rumah.
"Nathan, kita mampir ke apotek dulu" Ucap Deva, "Untuk apa? Kau sakit?" Tanya Nathan
"Kepala ku agak pusing, jadi aku ingin membeli obat sakit kepala" Kilah Deva, sebenarnya ia ingin memastikan apa yang di katakan Adnan tadi.
"Baiklah"
Sampai di depan apotek, Deva turun dan masuk ke dalam apotek. Tak lama, Deva kembali masuk ke dalam mobil.
"Sudah?" Deva mengangguk.
__ADS_1
Di tengah malam, Deva terus mondar-mandir tak jelas. Ia melirik ke arah Nathan yang sudah tertidur pulas lalu beralih ke benda di tangannya
"Kalau nggak gimana? Semuanya gara-gara abang, kalau dia nggak bicara kayak tadi pasti aku udah tidur pules" Gerutu Deva, "Mending besok ajalah, udah ngantuk juga" Deva menyimpan benda tersebut di dalam tasnya.