DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 67


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Kita sepakat untuk mempublikasikan pernikahan Nathan dan Deva di hari yang sama dengan pempublish-an identitas Deva sebagai pemimpin resmi perusahaan?" Tanya Nanda


Keluarga Gautama, Keluarga Alexander, dan Keluarga Smith, kini tengah berkumpul untuk merundingkan rencana pempublish-an pernikahan Nathan dan Deva.


"Bagaimana baik saja, lagian sekarang sudah ada Chesa. Jadi kita tidak boleh menunda-nunda masalah ini, atau nanti akan ada berita miring yang merugikan pihak keluarga" Balas Surya, "Bagaimana dengan kalian?"


"Kamu ikut saja, Pah. Jika kalian semua setuju, kami juga setuju" Tambah Nathan, "Tapi untuk Chesa, kita tidak akan membawanya ke hadapan publik"


"Itu pasti. Kita semua tidak ingin mengambil resiko dengan mengenalkan Chesa pada publik" Sahut Nanda, "Ibu, bagaimana?"


"Lakukan apa yang menurut kalian benar, dan jangan lupa pengamanan ketat untuk acara itu" Ucap Oma Yosy memperingati.


***


Melihat baby Chesa tertidur, Deva mengambil kesempatan itu untuk merapikan baju ke dalam almari. Ia dan Nathan memutuskan untuk menginap di kediaman Alexander untuk beberapa waktu kedepan


"Kau butuh sesuatu, suamiku" Tanya Deva yang menyadari Nathan berdiri di belakangnya, "Bagaimana kau tau aku ada belakang mu, hm?" Tanya balik Nathan, kedua tangannya mengait di perut sang istri

__ADS_1


"Ayah Chesa, istrimu ini sudah mengenal aroma tubuhmu. Jadi tidak sulit untuk diriku mengenalimu" Jawab Deva seraya melepas kaitan tangan Nathan di perutnya


"Begitu? Lalu bagaimana kalau ada orang lain yang menggunakan wangian yang sama denganku, apa kau akan tetap mengenaliku?" Tanya Nathan lagi


"Tentu"


"Bagaimana?"


"Dengan hati"


"Hati? Bagaimana kau bisa menggunakan hatimu untuk mengetahui diriku, sedangkan hatimu sudah berhasil ku curi" Goda Nathan


"Nggak perlu, Nathan. Mending kamu lanjut ke pekerjaan mu saja" Kata Deva, "Pekerjaan ku masih bisa di kerjakan nanti" Sahut Nathan, Deva pun mengangguk pasrah.


Selesai menata baju, Deva maupun Nathan beralih mengerjakan tugas kantor. Sedikit demi sedikit Adnan memberikan tugas untuk Deva agar mulai terbiasa, tetapi setelah peresmian nanti, Deva lah yang akan menanggung semua beban perusahaan.


Di tempat lain, Adnan sedang mengisi perutnya di warung pinggir jalan. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memperhatikan dirinya mengenakan setelan jas kantor, yang terpenting perutnya terisi

__ADS_1


"Kita bertemu lagi, Tuan" Ucap seorang gadis berdiri di dekat meja yang Adnan tempati, Adnan melirik sekilas lalu kembali melanjutkan makannya.


Gadis itu berdecak kesal, kemudian duduk di depan Adnan. "Saya kira orang seperti anda gengsi makan di tempat seperti ini"


"Ada masalah?" Tanya Adnan cuek, "Nggak juga, saya tadi cuma nyapa" Balas sang gadis, "Masih banyak meja yang kosong, anda bisa pindah dari meja saya" Titah Adnan


"Ini tempat umum, siapa saja boleh duduk disini" Kata sang gadis ketus, Adnan memutar bola matanya malas. "Siapa namamu?"


"Intan"


"Oh"


"Sampai lupa, saya mau ngucapin terimakasih untuk waktu itu" Ucap Intan


"Hm" Adnan berdehem lalu berdiri dari tempatnya.


"Mau kemana?" Tanya Intan secara tidak sadar menahan pergelangan tangan Adnan, "Tidak ada urusannya dengan anda saya pergi kemana, dan tolong lepas tangan anda dari tangan saya, Nona" Jawab Adnan

__ADS_1


"Maaf" Adnan berdecak lalu memanggil sang pemilik warung untuk membayar makanannya. Selesai membayar, ia pun segera pergi


"Dasar, lagian ni tangan ngapain juga main pegang-pegang. Cakep sih, tapi cuek gitu. Pasti istrinya nggak bakalan betah sama dia" Gumam Intan.


__ADS_2