
Tanpa kabar apapun, di kediaman Gautama di kejutkan dengan kedatangan Nyonya Besar Gautama–Oma Yosy–Ibu dari Bunda Lily. Adnan dan Arin yang masih berada di luar kota terpaksa harus kembali, dan tak lupa meminta Deva dan Nathan untuk datang.
Tetapi kali ini kedatangan Oma Yosy sedikit berbeda, dari tau wajah wanita lansia tersebut sudah membuat suasana mencengkam.
"Ibu, kenapa Ibu datang tidak memberi kabar" Tanya Lily hati-hati, karna ia tau aura yang di keluarkan dari sang Ibu
"Tidak ada alasan"
"Oma, apa Oma bawa coklat?" Tanya Deva santai, "Tentu, ambillah di dapur. Oma tadi menyuruh pelayan menaruhnya di sana, jangan banyak-banyak nanti gigi mu sakit" Jawab Oma Yosy tersenyum simpul
"Aku tidak janji" Deva menarik tangan Nathan menuju dapur.
"Bagaimana dengan perusahaan yang kamu urus, Adnan?" Tanya Oma Yosy, "Semuanya baik, Oma. Adnan pastikan tidak akan ada kesalahan" Jawab Adnan
"Tidak sengaja Ibu mendengar ada yang ingin membunuh cucu perempuan ku dengan racun, tetapi malah cucu menantu yang kena? Bagaimana dengan itu?" Tanya Oma Yosy
"Oma, tenanglah. Cucu mu ini baik-baik saja, lagian apa yang ingin Oma lakukan jika menemukan pelakunya? Memukulnya? Oh tidak, aku rasa cukup untuk menguliti tubuhnya lalu kita buat alas meja makan" Sahut Deva sambil memakan coklat
"Ide bagus" Imbuh Oma Yosy. Ayah Nanda, Bunda Lily, dan Adnan menatap Deva dan Oma Yosy bingung, pembahasan wanita beda generasi tersebut langsung tersemat teka-teki di otak mereka
"Deva"
__ADS_1
"Kalian penasaran?" Mereka semua yang ada di sana mengangguk
Shett
Lemparan pisau dari Deva menancap tepat di samping Arinda
"Dek, apa yang kamu lakukan? Kalau meleset bisa melukai Kakak ipar mu" Tegur Adnan, "Ohya, bagaimana kalau aku tadi sengaja melempar nya tepat di dadanya?" Deva mencengkam kuat lengan Arinda dan melempar nya ke lantai
"Deva?" Adnan yang ingin menolong Arinda langsung di tahan oleh Oma Yosy
Dengan cepat tangan Deva mengambil sesuatu di saku celana Arinda
"Racun? Apakah ini racun yang sama dengan yang waktu itu, Kakak ipar" Tanya Deva dengan seringai, "Berdiri!!"
"Oma, kita apakan musuh dalam selimut ini? Apa aku harus melakukan apa yang ku katakan tadi, seperti nya alas meja makan di rumah ini sudah harus di ganti. Lumayan, kulitnya sangat halus bahkan piring pun akan tergelincir" Ujar Deva
"Arinda? Deva, katakan yang sebenarnya" Kata Lily, "Kalian bisa membaca tiga map yang ada di tangan Oma" Titah Deva
Mereka berempat termasuk Nathan langsung mengikuti ucapan Deva.
"Dek.."
__ADS_1
"Iya, Bang. Istri yang Abang sayangi selama ini sudah mencoba membunuh adikmu hanya karna iri. Bukankah sudah peraturan keluarga kalau anak perempuan akan menjadi pewaris? Dan bahkan Abang sendiri tidak keberatan dengan peraturan tersebut, Abang dengan senang hati mengurus perusahaan raksasa itu sampai umurku sudah cukup
"Dan kau? Kau hanya orang luar, sampai kapan pun kau tak akan pernah mendapatkan sepeser hartapun dari keluarga ini"
"Tap—"
"Bunda percaya kalau anak yang dia kandung anak Bang Adnan, coba baca lagi dengan teliti laporan tadi. Ada data lengkap yang ku dapatkan tentang ayah bayi ini" Lanjut Deva mengusap perut Arinda yang sedikit membuncit
"Mungkin dia akan mendapatkan secuil harta kita kalau dia memang mengandung anak Bang Adnan, tetapi tidak"
"Aku akan membebaskan mu sampai anak ini lahir, setelah itu? Ucapankan selamat tinggal" Dua bodyguard Oma Yosy membawa Arinda pergi.
"Bang"
"Makasih dan maaf" Ucap Adnan memeluk adik kesayangannya, "Sejak kapan kau tau tentang ini? Dan Oma?"
"Sudah ada hampir satu bulan yang lalu, dan aku memberitahu Oma untuk memikirkan apa yang harus di lakukan. Melihat wanita itu sedang mengandung, jadi tidak akan ada kekerasan" Jelas Deva
"Jadi, akhir-akhir ini kamu irit bicara karna mencari ini?" Tebak Lily diangguki Deva
"Dan Nathan yang tersiksa, dia terus mencari kesalahannya saat melihat ku bersikap dingin" Tambah Deva meledek Nathan
__ADS_1
"Ck."