DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 65


__ADS_3

Seorang pria yang usia nya hampir menginjak kepala tiga, kini tengah berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Menyesap kopi hitam yang berada di tangannya sembari menunggu seseorang.


Ia membalikkan badannya ketika merasa ada seseorang masuk ke ruangannya.


"Katakan"


"Dari informasi yang saya dapatkan, nona muda Gautama sebenarnya sudah berencana melenyapkan nya setelah anak yang di kandung wanita itu lahir. Tetapi nona muda berubah difikiran—"


"Aku akan membaca laporan itu sendiri, kau bisa keluar" Sela pria itu


"Baik, Tuan" Sang asisten pun meletakkan sebuah berkas di atas meja sebelum keluar dari ruangan atasannya.


Pria tadi meraih berkas yang ada di atas meja lalu membacanya dengan teliti. Tanpa sadar ia menggigit ujung jarinya melihat laporan yang ia baca


"Tidak ada yang bisa menebak perbuatan anak ini" Gumam pria itu melempar berkas tersebut ke meja, "Aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini, atau semuanya akan semakin rumit."


Di kediaman Gautama, Arinda bingung dengan Anindita yang terus menangis. Ia sudah melakukan berbagai cara tetapi masih tetap tidak ingin diam.


Bunda Lily yang melihat Arinda kerepotan pun mendekatinya.


"Arin, ada apa? Kenapa Anin terus menangis" Tanya Lily mengambil alih Anindita dari gendongan Arinda, "Aku juga nggak tau, Bun. Dari tadi Anin nggak mau diem, aku cek badannya juga nggak papa" Jawab Arinda


"Dia udah makan?" Arinda mengangguk


"Biar Bunda coba tenangin, kamu masuk saja ke dalam" Titah Lily

__ADS_1


"Tap—"


"Anin aman sama Bunda, udah nggak papa" Potong Lily


"Baiklah" Arinda melangkah pergi masuk ke dalam rumah


Bunda Lily terus berusaha menenangkan Anindita yang menangis.


"Benar kata Arin, dia baik-baik saja. Suhu badannya normal dan perutnya juga baik" Gumam Lily bermonolog


"Bunda" Dua pria kesayangan Bunda Lily terlihat gagah dengan setelan jas mereka.


"Ayah, Adnan? Ini hari libur, kalian mau kemana pakai jas" Tanya Lily, "Ada pekerjaan di luar, Bun. Ohya, ini si Anin kenapa?" Tanya Nanda


"Nggak tau, Yah. Dari tadi dia nangis terus" Jawab Lily


"Bunda suruh dia ke dalam, Bunda liat dia kecapean" Jawab Lily, "Adnan, coba kamu gendong"


"Nggak"


"Adnan..."


"Ya, baiklah" Adnan mengulurkan kedua tangannya mengambil alih Anindita dari tangan Bunda Lily


Entah perasaan apa yang di rasa balita itu yang membuatnya langsung terdiam, mata bulatnya terus menatap wajah Adnan

__ADS_1


"Adnan, dia langsung diam saat kamu gendong. Mungkin dia menyukaimu" Ucap Lily tersenyum, "Hanya kebetulan saja, Bunda" Jawab Adnan cuek lalu kembali menyerahkan Anindita ke Bunda Lily


"Ayo, Ayah. Kita sudah terlambat"


Dari kejauhan, Arinda melihat semuanya. Hatinya tercelos saat mantan suaminya bersikap begitu berbeda, tetapi berusaha ia memaklumi nya.


"Aku akan pergi bersama Anin secepatnya, tidak masalah jika harus tinggal di tempat yang sederhana. Keluarga ini sudah begitu baik dengan perbuatan ku waktu itu" Arinda bergegas ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya dan juga Anindita.


"Arin, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Lily masuk ke kamar Arinda bersama Anindita di gendongannya, "Maaf, Bunda. Sebaiknya aku dan Anin pergi dari sini, kalian sudah begitu banyak membantu kami" Ujar Arinda


"Apa yang kau katakan? Kau ingin membawa Anindita kemana, tetaplah disini" Balas Lily membujuk Arinda, "Bunda terlalu baik untuk orang yang sudah berusaha membunuh putri Bunda sendiri, aku dan Anin akan pergi jauh dari kalian" Sambung Arin tersenyum sembari mengambil alih Anindita dari gendongan Bunda Lily


"Arin.."


"Bunda, disini aku dan Anin hanya orang asing. Kami tidak ada hak untuk tinggal disini, apa lagi menikmati fasilitas di rumah ini. Aku mohon, ijinkan kami pergi"


"Kamu berhak menikmati fasilitas di rumah ini, bukankah oma yang menyuruhmu tinggal disini? Tetaplah disini. Bunda yakin, oma pasti ada alasan untuk menempatkan mu di rumah ini"


"Lalu bagaimana dengan mas Adnan, Bunda. Aku masih bisa tahan kalau dia membenci diriku, tapi tidak kepada Anin" Ujar Arinda, "Jangan pedulikan sikap Adnan, dia masih dalam keadaan marah. Lama kelamaan dia akan kembali seperti semula" Kata Lily sedikit ragu dengan ucapannya


"Apakah Bunda lupa kalau aku pernah hidup bersama mas Adnan selama empat tahun? Aku sudah mengenalnya begitu baik, Bunda. Sekali dia membenci orang, dia tidak akan pernah memaafkan orang itu. Jalan terbaiknya adalah, aku dan Anin pergi jauh dari kalian dan tidak akan pernah kembali lagi" Urai Arinda


"Fikirkan sekali lagi"


"Aku akan tetap pergi bersama Anin, Bun. Bunda tenang saja, aku masih ada simpanan untuk mencari tempat tinggal. Terimakasih untuk semuanya, aku titip salam untuk yang lain dan sampaikan maafku untuk Deva dan mas Adnan. Assalamu'alaikum" Arinda, tangan kanannya menenteng dua tas dengan ukuran sedang dan tangan kirinya menggendong Anindita

__ADS_1


"Arin.." Arinda hanya tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.


__ADS_2