DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 89


__ADS_3

"Nathan, bagaimana kabar papa mama di negara A? Apa mereka baik-baik saja" Tanya Deva menyenderkan kepalanya di bahu sang suami, "Ya, tadi sebelum aku pulang, papa menelfon. Kemungkinan, mereka akan memilih menetap di sana" Jawab Nathan


"Menetap?"


"Ya, keluarga dari pihak papa meminta mereka untuk tetap di sana" Kata Nathan, "Dan mungkin adiknya Chesa juga akan segera menetap di sini" Lanjut Nathan memegang perut istrinya


"Tapi aku masih belum yakin untuk memberikan Chesa seorang adik, Nathan. Kesibukan kita di perusahaan, terkadang membuat kita sampai lupa waktu" Jawab Deva, "Aku mengerti, tidak masalah kalau kita hanya punya Chesa. Rezeki sudah ada yang mengatur" Imbuh Nathan


"Kamu nggak marah?" Deva menatap ragu ke arah suaminya, karena ia tau Nathan menginginkan anak laki-laki.


"Untuk apa aku marah, hm? Yang mengandung, melahirkan, menyusui itu kamu, bukan aku. Jangan terlalu di pikirkan" Jawab Nathan


"Sayang"


"Aku takut kalau kamu sampai punya anak dari wanita lain, Nathan. Kamu membutuhkan penerus bukan?"


"Sayang, buang fikiran burukmu itu. Selama hidupku, aku hanya akan menyentuhmu karena kamu istriku. Masalah penerus itu masalah nanti, semuanya sudah di atur oleh Tuhan" Urai Nathan merengkuh tubuh istrinya, "Ini sudah malam, ayo tidur"


"Nathan.."


"Jangan di pikirkan, kalau Tuhan menghendaki, itu pasti yang terbaik" Kata Nathan, "Tidurlah, atau besok kau akan menjadi bahan tertawaan karena ada lingkaran hitam di matamu"


Deva mengangguk patuh lalu merebahkan tubuhnya.


"Jangan di pikirkan, selamat malam" Ucap Nathan mengecup kening Deva sebelum pergi ke alam mimpi

__ADS_1


"Ya, selamat malam."


Keesokan harinya, semua orang mulai melakukan aktivitas mereka, termasuk keluarga kecil tuan muda Alexander.


"Selamat pagi, Bunda/Daddy" Sapa Chesa lalu duduk di sebelah sang Ibu.


"Pagi juga, Sayang"


"Ayo, habiskan sarapan mu. Ohya, Sayang. Nanti kamu pulang sekolah di jemput supir ya, Bunda nanti ada urusan di luar"


"Iya, Bunda."


"Haaaaah..." Seorang wanita menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya


Tok tok tok


Kana, sang sekretaris masuk ke dalam ruangan Deva dengan membawa sebuah berkas.


"Nona, ini jadwal anda selama seminggu. Anda bisa mengeceknya kembali" Ucap Kana meletakkan berkas tersebut


"Mulai besok dan seterusnya, setelah jam makan siang, kosongkan semua jadwal saya" Titah Deva, "Tapi bagaimana dengan janji yang sudah kita buat, Nona" Tanya Kana


"Kau saja yang atur, kembalilah bekerja" Kana mengangguk lalu pamit keluar.


Di tempat lain, Nathan baru saja selesai dengan rapatnya. Ia melangkah keluar dari ruang rapat diikuti sekretaris dan juga asisten pribadinya.

__ADS_1


Drrttt drrttt drrttt


"Tuan Muda, nyonya Deva menelfon" Ucap sang asisten pribadi menyodorkan ponsel milik Nathan yang ia bawa selama rapat berlangsung


"Hm" Nathan memberikan isyarat kepada keduanya untuk pergi.


^^^"Halo, Sayang. Ada apa?"^^^


"Apa nanti bisa makan siang bersama di luar?"


^^^"Ya, tentu"^^^


"Aku akan mengirim alamatnya nanti"


^^^"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu"^^^


"Ya, sampai nanti."


Waktu jam makan siang pun tiba, Deva sudah standby di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan nya.


"Maaf menunggu lama" Ucap Nathan duduk bersebrangan dengan kursi Deva


"Nggak papa" Deva memberikan kode kepada pelayan untuk mengantarkan makanan yang sudah ia pesan


"Habis ini, bisa antar aku sebentar" Tanya Deva memasukkan makanan ke dalam mulutnya

__ADS_1


"Kemana?"


"Kamu akan tau nanti" Nathan pun mengangguk.


__ADS_2