DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 90


__ADS_3

"Sayang, sebenernya kita mau kemana?" Tanya Nathan melajukan mobilnya sesuai instruksi dari sang istri


"Ke rumah sakit"


"Ke rumah sakit? Kamu nggak papa kan?" Tanya Nathan khawatir


"Aku nggak papa, kita kesana akan menemui dokter kandungan" Jawab Deva lagi


Citttt


Nathan memijak remnya secara mendadak dan membuat ban mobil dengan aspal bergesekan.


"Va?"


"Kenapa berhenti?" Tanya Deva bingung


"Kamu hamil?" Tanya balik Nathan di balas gelengan oleh Deva


"Aku sudah ada janji dengan dokter Karin, kita akan melakukan program kehamilan" Deva menjelaskan.


"Tidak"

__ADS_1


"Nathan.."


"Kamu melakukan ini hanya untuk memberiku seorang penerus perusahaan? Tidak akan pernah ku lakukan" Tegas Nathan memutar balik arah, "Nathan, perusahaan mu butuh penerus bukan? Chesa perempuan, dia sudah mewarisi perusahaan Gautama. Lalu bagaimana dengan perusahaan mu?" Balas Deva


Cittt


Lagi-lagi Nathan berhenti dengan kasar, memejamkan matanya sejenak dan mengatur nafasnya.


"Nathan"


"Sudah ku katakan, aku tidak akan melakukannya karena itu sama saja aku menyiksa mu. Kamu melakukan ini karena terpaksa agar aku mendapatkan penerus perusahaan. Biarkan semua mengalir seperti air, Sayang. Pikirkan saja masa depan Chesa, itu jauh lebih penting" Ujar Nathan menangkup wajah istrinya, "Va, kalau kita memang di percaya kembali mempunyai seorang anak, pasti Tuhan akan langsung memberikan nya. Semuanya sudah di atur, kita tinggal menjalankan nya"


Sampai di rumah, Nathan menggendong bridal Deva yang tertidur. Salah satu pelayan mengikuti Nathan sampai ke lantai atas untuk membuka pintu kamar.


Nathan merebahkan Deva di atas ranjang, tangan kekar-nya mengusap lembut pipi sang istri.


"Bukannya aku nggak mau punya anak lagi, Va. Tapi semuanya harus di persiapkan dengan matang, aku nggak mau kamu nantinya tertekan hanya karena untuk memberiku penerus perusahaan. Kalau nanti kita di percaya kembali, aku akan sangat bersyukur. Jika tidak, itu tidak masalah. Cukup kamu dan Chesa di sampingku" Ujar Nathan mengulas senyum, ia bangkit dari duduknya dan berlalu ke kamar mandi.


Sore menjelang malam, Nathan masih berkutat dengan alat dapur. Kali ini ia-lah yang akan menyiapkan makan malam.


"Daddy ngapain di dapur" Tanya Chesa berdiri di sebelah sang ayah, "Buat makan malam, mending kamu cek bunda ke kamar" Kata Nathan

__ADS_1


"Oke, Daddy"


Sepeninggalan Chesa, Nathan bergegas menyelesaikan masakannya.


"Nathan"


"Kamu udah bangun ternyata, aku tadi minta Chesa buat cek kamu ke kamar" Ujar Nathan menoleh sebentar, "Duduklah, biar aku yang teruskan" Timpal Deva


"Nggak usah, sedikit lagi selesai kok" Balas Nathan, "Maaf udah buat kamu marah tadi" Ucap Deva memeluk sang suami dari belakang


Nathan mematikan kompor nya, kemudian berbalik badan. Ia kaitkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri lalu menariknya mendekat.


"Nathan, nanti Chesa lihat" Tegur Deva, takut Chesa melihat karena posisi mereka begitu dekat


"Seperti ini" Tanpa aba-aba, Nathan langsung menyambar bibir tipis wanita nya. Lelaki itu melepas tautan bibir mereka setelah merasa butuh oksigen


"Kau ingin membunuhku!" Sungut Deva


"Bagaimana itu mungkin, Bunda Chesa. Aku hanya mencicipi nya sedikit" Kata Nathan santai sambil mengelap bibir istrinya


"Bunda, Daddy" Beruntung Chesa baru saja turun dari lantai atas, jadi ia tidak melihat kegiatan orang tuanya tadi.

__ADS_1


__ADS_2