DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 33


__ADS_3

"Bunda, ada apa? Ayah perhatikan dari tadi Bunda diem terus" Tanya Nanda duduk di sebelah istrinya yang ada di atas kasur, "Bunda kepikiran Deva, Yah" Jawab Lily lesu


"Memangnya Deva kenapa sampai Bunda kayak gini" Tanya Nanda lagi


"Tadi pagi dia sama Nathan pergi ke makam Frans, Ayah tau sendiri bagaimana Deva yang sangat sensitif jika sudah menyangkut Frans. Keluarga kita dan Frans tau betul bagaimana cinta mereka dulu, dan kepergian Frans-lah yang membuat Deva menutup dirinya selama ini" Jelas Lily, "Bunda takut, Yah"


Tangan Ayah Nanda menggapai tangan istrinya. "Ya. Tapi percayalah, Deva tidak akan melihat kebelakang lagi. Sejauh ini kita sudah melihat perubahan pada diri Deva, dan itu semua karena Nathan. Dan terlebih lagi, mereka akan segera menjadi orang tua. Anak itu lah yang nanti akan mempererat hubungan Nathan dan Deva, Bunda jangan khawatir. Sekarang Bunda harus lebih fokus ke kesehatan Bunda dulu."


Di kamar Deva dan Nathan, seorang pemuda masuk dengan membawa dua kantong plastik berisi pesanan sang istri


"Deva, ini sate ayam sama cuanki pesenan kamu. Ayo di makan, aku akan mengambil mangkuk dan juga piring" Nathan meletakkan plastik tersebut di atas meja yang ada di balkon dan kembali keluar dari kamar mengambil mangkuk, piring, garpu, dan sendok di dapur.


Tidak lama, Nathan kembali lagi ke kamar.


"Suapin" Pinta Deva


"Baiklah" Dengan senang hati Nathan menyuapi Deva, pemuda itu sedikit lega melihat Deva seperti melupakan kesedihannya tadi.


"Nathan"

__ADS_1


"Ya, kau ingin sesuatu lagi?" Tanya Nathan, "Maaf, mungkin perkataan ku kali ini akan menyakitimu" Ujar Deva


"Bicaralah"


"Maaf untuk tadi, aku tidak bisa menahan air mata ku saat melihatnya. Dia masa lalu-ku, dan kau adalah masa depan-ku. Tapi walaupun begitu, aku tidak akan bisa melupakan nya. Dia mempunyai tempat sendiri di hatiku, begitupun juga denganmu. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memberikan hatiku sepenuhnya untukmu, Nathan. Ak—" Perkataan Deva terhenti ketika telunjuk Nathan mendarat di bibirnya


"Aku tidak pernah meminta hatimu sepenuhnya, hanya saja aku minta sedikit ruang untuk menempatinya. Aku tidak pernah mempersalahkan hal ini, aku tau keadaan mu. Percayalah, aku tidak keberatan jika kau mengunjungi nya kembali. Dia adalah orang yang sudah mewarnai harimu sebelum diriku" Jelas Nathan panjang lebar


Deva menggeleng. "Tidak, Nathan. Kisah ku dengannya telah usai, sekarang hanya ada kita. Kita akan buka lembaran baru bersama anak kita, dan aku tidak akan menatap ke belakang lagi"


Bibir Nathan melengkung ke atas, dengan perasaan senang ia menarik Deva ke dalam pelukannya. "Terimakasih, terimakasih sudah mau menerima ku dan mengandung anakku. Semua ini tidak pernah aku bayangkan, apa lagi sampai memiliki anak. Sekali lagi, terimakasih"


Deva mengangkat kepalanya. "Suapin lagi"


Di sore hari, Nathan mengajak Deva berjalan kaki di sekitar komplek. Berhubung jati diri Deva belum di publish di media, jadi Deva memakai topi dan masker. Berbeda dengan Nathan yang sudah di kenal di media sebagai penerus perusahaan keluarga Alexander.


"Nathan, aku mau bakso" Pinta Deva menunjuk ke arah pedagang bakso yang ada di ujung jalan, "Baiklah, tapi aku yang akan mencobanya dulu" Kata Nathan diangguki oleh Deva. Hanya untuk keamanan Deva dan bayi mereka, takut jika kejadian keracunan saat itu terulang kembali.


"Pak, baksonya dua porsi" Ucap Nathan

__ADS_1


"Siap, Den. Silahkan duduk dulu" Kata sang penjual mempersilahkan Nathan dan Deva duduk.


Nathan dan Deva duduk di kursi kosong yang tersedia. Asik mengobrol sambil menunggu pesanan datang, seseorang datang menghampiri mereka.


"Kalian disini?" Tanyanya, pasangan itu menoleh dan ternyata Rissa yang bertanya.


"Ya, ini tempat umum" Jawab Nathan cuek, "Kaau tidak keberatan, boleh aku gabung" Tanya Rissa


"Silahkan" Nathan menatap tak percaya mendengar Deva mempersilahkan Rissa duduk di meja yang sama bersama mereka


"Silahkan, Aden/Neng" Bapak penjual tadi menaruh dua mangkuk bakso di depan Nathan dan Deva.


"Makasih, Pak" Ucap Deva, "Nggak pesen?"


"Udah, tinggal nunggu" Jawab Rissa melirik sekilas ke arah Nathan


"Va, jangan banyak-banyak sambelnya" Larang Nathan, "Tapi aku pengen, Nathan" Kata Deva, "Kasian baby-nya" Balas Nathan


"Baby?" Nathan dan Deva melihat ke arah Rissa yang tampak bingung

__ADS_1


"Ya. Nggak lama lagi kita akan menjadi orang tua, lo pasti udah taukan kalo kita pasutri?" Ujar Deva santai, "Mm..ya, tapi berapa usia kandungan lo?" Tanya Rissa


"Dua belas minggu."


__ADS_2