DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 60


__ADS_3

Seorang wanita duduk termenung di jendela, menatap bulan yang bersinar terang di langit. Sampai tepukan di bahu mengejutkan dirinya.


"Sudah malam, kenapa belum tidur" Tanya Nathan, "Nggak ngantuk" Jawab Deva singkat


Wanita itu masih memikirkan penjelasan oma Yosy tadi sore yang menjawab semua yang mengganjal di hatinya kecuali satu yaitu tentang Frans. Ia masih penasaran tentang pria itu.


"Ayo tidur" Bukannya menjawab, Deva malah pergi membuka laci yang ada di samping ranjang.


Deva kembali dan berdiri di depan Nathan. "Kalau kau memang suamiku, kau pasti akan memakai kan cincin ini di jariku"


"Dengan senang hati" Balas Nathan senang, ia mengambil cincin yang berada di kotak kecil tersebut lalu memakaikan nya di jari Deva


"Di mana cincin mu?"


"Disini" Nathan memperlihatkan cincin pernikahan mereka di kalungnya.


"Maaf, sebelum aku bisa mengingat semuanya. Aku masih belum bisa melayani mu bagaimana semestinya" Ucap Deva, "Tidak masalah, aku tidak pernah menuntutmu untuk melakukan hal yang tidak kau inginkan. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya" Kata Nathan memberanikan diri menangkup kedua pipi istrinya


"Boleh aku memelukmu?" Nathan tertawa mendengar pertanyaan dari sang istri


"Ya, tentu. Peluklah sepuasmu" Jawab Nathan, ada rasa nyaman di hati Deva saat ia memeluk tubuh tegap Nathan. Dan ada kepuasan tersendiri dalam dirinya mendapat pelukan hangat seperti saat ini.


"Ayo kita tidur, ini sudah malam" Sambung Nathan lagi, Deva mengangguk kecil


"Tidurlah di tempat tidur, masih cukup untuk di muat bertiga" Ujar Deva duduk di tepi ranjang, "Aku takut menindih nya nanti" Balas Nathan


"Nggak akan, tidurlah" Dengan ragu Nathan membaringkan diri di sebelah bayi mungil itu.

__ADS_1


Deva terkekeh dalam hati melihat Nathan begitu kaku saat berhadapan dengan bayi mungil yang sudah tertidur pulas. Ia sedikit menggeser tubuh mungil itu ke arahnya agar Nathan lebih sedikit leluasa


"Tidurlah."


Di tengah malam, Deva terbangun saat mendengar suara tangisan bayi. Ia membuka matanya dan melihat bayi perempuan yang tidur di sampingnya menangis kencang


"Hei, kenapa dia menangis" Deva mengecek bagian bawah bayi itu dan ternyata basah.


"Kau menangis karena ini? Baiklah, ayo kita ganti" Deva beringsut turun dari ranjang mengambil popok dan tisu basah untuk membersihkan bagian bawah bayi itu


Tiba-tiba saja senyuman terukir di wajah Deva melihat bayi perempuan itu tertidur kembali.


"Selesai" Deva merapikan semuanya, lalu kembali berbaring.


Manik matanya menatap lekat wajah bayi mungil di samping nya.


Aku akan berusaha mengingat mereka, tapi aku masih belum tau di mana Frans berada. Batin Deva


***


Jam sarapan pagi tiba, Deva dan dua pelayan baru saja selesai membuat sarapan untuk semua orang.


"Pelayan, boleh saya bertanya?" Tanya Deva


"Silahkan, Nona Muda"


"Sejak kapan saya menikah?" Tanya Deva lagi, "Hampir dua tahun ini, Nona Muda" Jawabnya

__ADS_1


"Sudah selama itu?"


"Iya, Nona Muda"


"Baiklah, terimakasih" Kedua pelayan itupun pergi ke belakang melanjutkan pekerjaan yang lain.


"Deva, kok kamu ada di dapur" Tanya Maira, "Membuat sarapan. Aku memasak apa yang ku bisa karena aku tidak tau makanan kesukaan kalian" Jawab Deva


"Tidak masalah, Nak. Lebih baik kamu kembali ke kamar"


"Iya" Deva pamit kembali ke kamar, ia masuk dan melihat Nathan sudah bermain di atas kasur bersama bayi perempuan yang terus menatap sang ayah


"Aku kira kalian belum bangun" Ucap Deva duduk di tepi ranjang, "Kamu dari mana?" Tanya Nathan


"Dapur" Nathan hanya mengangguk


"Ohya, kau belum memberitahu ku siapa namanya" Ujar Deva, "Aku sudah menyiapkan nama untuknya, karena dia perempuan, jadi aku menambahkan nama keluarga mu di belakang namanya" Jawab Nathan


"Siapa?"


"Chesa Pradita Gautama"


"Chesa"


"Hem. Ohya, aku sudah menyiapkan air untukmu mandi. Chesa biar aku yang jaga, sebentar lagi ibu akan datang untuk memandikan nya"


"Terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2