DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 88 ′ 5 TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

Alarm ponsel berbunyi begitu keras sampai membuat seorang wanita yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya teralih ke fokusan-nya.


"Untung aku pasang alarm, kalau terlambat pasti dia merajuk" Ucapnya bermonolog sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya


Tok tok tok


"Masuk!"


Seorang wanita yang menjabat sebagai sekretaris masuk ke dalam ruangan atasannya dengan membawa sebuah iPad.


"Nona, setelah makan siang anda ada meeting dengan perusahaan R" Ucap sang sekretaris, "Batalkan meeting hari ini, saya masih ada urusan yang lebih penting" Balas sang wanita


"Tapi, Nona. Mereka sudah menunggu meeting dengan perusahaan kita satu bulan yang lalu" Tambah sang sekretaris


Wanita itu menghela nafas. "Undur satu jam lagi, saya ada urusan"


"Nona Gautama" Lagi-lagi sang sekretaris harus menambah stok kesabaran untuk menghadapi sikap arogan dari nona Gautama, Deva.


Deva melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana anak perempuannya menimba ilmu, sampai di sana, ia turun dan segera menghampiri sang putri yang berdiri di dekat gerbang sekolah.


"Chesa" Gadis berusia enam tahun itu tersenyum melihat melihat sang Ibu sudah datang untuk menjemputnya.


"Maaf, Bunda terlambat" Ucap Deva, "Nggak papa, Bunda. Apa Bunda masih ada pekerjaan?" Tanya Chesa

__ADS_1


"Ya, memangnya kenapa?" Tanya balik Deva seraya menggandeng tangan kecil Chesa menuju ke mobil, "Boleh Chesa ikut, Chesa bosan di rumah" Kata Chesa


"Ya, tentu saja. Lima belas menit lagi Bunda masih ada meeting, jadi kamu tunggu Bunda di ruangan saja. Kalau butuh apa-apa, minta sama paman Eja (Reza)"


"Siap, Bunda."


Tak tak tak


Suara derap kaki yang di hasilkan oleh Deva memenuhi lorong menuju ke ruang meeting.


"Maaf, menunggu lama" Ucap Deva duduk di kursi kebesaran-nya, "Tidak masalah, Nona. Kami tau anda sangat sibuk" Balas pria B


Selama meeting berlangsung, Deva mendengarkan nya dengan cermat dan teliti setiap kata yang di ucapan sekretaris dari perusahaan R tersebut.


"Bagaimana, Nona?"


Deva masuk ke ruangannya, dan melihat Chesa tengah bermain dengan iPad-nya. Arah matanya teralih ke dua kotak styrofoam yang ada di atas meja.


"Sayang, kenapa makan siangnya masih utuh?" Tanya Deva, "Chesa nunggu Bunda, makanya masih utuh" Jawab Chesa meletakkan iPad-nya


"Lain kali kalau sudah waktunya makan, dan Bunda belum datang, Chesa makan duluan saja. Nanti Chesa bisa sakit kalau sampai telat makan" Ujar Deva, "Terus gimana kalau Bunda yang sakit gara-gara telat makan?" Balas Chesa


Deva hanya tersenyum. "Ayo makan"

__ADS_1


Selesai makan, Deva membersihkan sisa makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah plastik sebelum ia masukkan ke tempat sampah.


"Chesa udah bosen?" Gadis itu mengangguk.


"Ayo kita pulang" Ajak Deva, "Kerjaan Bunda udah selesai?" Tanya Chesa


"Nanti Bunda selesein di rumah, ayo" Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk.


Di sisi lain, seorang pria yang usianya sudah menginjak kepala tiga, kini masih mengerjakan pekerjaan nya di sebuah cafe.


"Ekhem"


Pria itu melirik sebentar kemudian kembali fokus ke laptop di depannya.


"Jika tidak ada urusan, jangan mengganggu saya" Ketus sang pria kepada gadis yang berdiri di depannya, "Siapa juga yang mau ganggu anda, Tuan. Kurang kerjaan banget, saya disini kerja" Balas sang gadis


"Kerja? Memangnya harta orang tua anda masih kurang sampai anda rela bekerja" Balas sang pria, "Saya kerja karna kemauan saya sendiri, kerja bukan berarti tuntutan. Saya kerja untuk senang-senang" Jawab sang gadis lagi


"Hem"


"Intan!"


Gadis yang bernama Intan tersebut menoleh. "Ya, sebentar"

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun, Intan pergi begitu saja setelah temannya memanggil.


"Gadis aneh, tiba-tiba selalu muncul" Gumam sang pria, "Tapi bukankah dia temennya Deva yang waktu itu datang ke rumah?"


__ADS_2