DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 31


__ADS_3

Seorang pemuda kini tengah duduk bertiga di sebuah cafe bersama kedua orang tua nya, tatapan datar masih terlihat jelas di matanya.


"Nathan" Kali ini Papa Surya yang membuka suara.


"Aku mengajak kalian kesini untuk memperbaiki semuanya, karena aku tidak ingin masalah ini berimbas pada anakku nanti" Ucap Nathan, senyuman terulas di wajah Mama Zoya dan Papa Surya.


"Terimakasih, Nak. Mama senang kamu mulai bisa memaafkan kami" Ucap Zoya tersenyum haru, "Hanya itu, aku masih ada urusan lain. Aku permisi" Pamit Nathan


"Tunggu, Nathan!"


Nathan membalikkan badannya.


"Boleh Mama memelukmu, hanya sebentar" Pinta Zoya penuh harap


"Tentu saja" Mama Zoya mendekap erat tubuh anak laki-laki yang ia rawat dengan kasih sayang selama ini. Ia mengakui dalam hati kalau perbuatan nya dulu adalah kesalahan, tetapi sekarang ia juga akan memperbaiki nya.


"Terimakasih" Ucap Zoya seraya melepas pelukannya.


"Aku permisi"


Nathan melangkah keluar dari cafe lalu masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, tetapi sebelum itu ia membeli martabak dan juga buah-buahan untuk Deva dan juga bunda Lily.


Sampai di rumah sakit, ia turun dari mobil dengan menenteng belanjaannya tadi.


"Assalamu'alaikum" Nathan masuk ke ruang rawat Bunda Lily


"Waalaikumsalam"


Hanya ada Deva yang menjaga Bunda Lily di sana, tanpa bertanya yang lain ia menaruh kantong plastik berisi martabak dan buah-buahan tadi di atas meja.


"Kamu bawa apaan?" Tanya Deva menghampiri suaminya, "Martabak sama buah, aku akan mengupas buahnya" Nathan bangkit dari duduknya mencari pisau di laci


Setelah mendapatkan nya, ia mengupas buah-buahan itu lalu menaruhnya di dua piring.


"Untukmu dan juga Bunda" Kata Nathan memberikan sepiring buah kepada sang istri dan Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kenapa repot-repot, Bunda bisa mengupasnya sendiri" Ujar Lily, "Sekalian, Bunda. Ini hanya pekerjaan kecil" Balas Nathan tersenyum


"Baiklah, terimakasih"


"Dan siang ini Bunda udah boleh di bawa pulang, aku sudah membereskan semuanya. Tinggal bagian administrasi nya" Urai Deva


"Biar aku saja."


~


Seperti yang di katakan Deva, siang harinya Bunda Lily di perbolehkan pulang ke rumah. Bunda Lily juga harus memakai kursi roda dan akan melakukan terapi secara teratur agar bisa kembali berjalan dengan normal.


Ayah Nanda mendorong kursi roda Bunda Lily menuju ke kamar diikuti Deva di belakang.


"Bunda, aku taro obatnya di laci. Jadi Bunda nggak perlu jauh-jauh ngambilnya" Ujar Deva menata rapi obat milik Bunda Lily di sebuah kotak lalu memasukkan nya ke dalam laci


"Iya"


"Dan Bunda nggak boleh kemana-mana, kalau butuh apa-apa panggil saja" Oke, sekarang Bunda Lily sudah seperti tahanan.


"Iya iya, lebih baik kamu kembali ke kamarmu. Nathan pasti sudah menunggumu di sana" Ujar Lily, "Bundamu benar, kasian Nathan nungguin kamu kelamaan" Tambah Nanda


"Bilang saja kalian mau berduaan" Decih Deva


"Kau memang pintar, sudah sana pergi. Biarkan Ayah sama Bunda memberikan mu adik" Goda Nanda


"Bunda..."


"Jangan dengarkan perkataan Ayahmu, istirahatlah di kamarmu" Ucap Lily, Deva mengangguk lalu pergi dari kamar kedua orang tuanya.


"Kenapa Ayah suka sekali menggodanya, kasian kan" Omel Lily, "Sudah beberapa hari ini aku tidak menggoda anak itu, saat ada kesempatan aku tidak akan melewatkan nya" Balas Nanda


Bunda Lily hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami.


"Nathan, lihatlah tubuhku. Sekarang makin berisi" Keluh Deva membolak-balikan badannya di depan cermin

__ADS_1


Nathan mengalihkan pandangan nya dari buku ke Deva, ia meletakkan buku itu lalu menghampiri istrinya.


"Nggak masalah, tubuhmu makin berisi karena ada anak kita di sini" Balas Nathan memegang perut Deva, "Tapi aku nggak PD, Nathan" Imbuh Deva


"Kau menyesal?"


"Apa yang kamu katakan, aku tidak menyesal sama sekali. Aku hanya kurang PD dengan tubuhku yang sekarang" Jelas Deva, "Jangan pikirkan pandangan orang lain, tetap jadi dirimu sendiri. Ini hanya sementara, semua akan kembali seperti semula" Nathan mencoba menghilangkan rasa minder istrinya


"Bagaimana kalau kau tertarik dengan wanita lain, hm?" Tanya Deva mengaitkan kedua tangannya di leher Nathan, "Apa selama ini kau pernah melihat ku melirik wanita lain selain dirimu?" Tanya balik Nathan memeluk pinggang ramping istrinya


Deva hanya tersenyum dan menempatkan kepalanya di dada bidang Nathan.


"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku, aku sudah pernah merasa kehilangan. Aku tidak ingin semuanya terulang lagi" Pinta Deva


"Kau rindu dengan Frans?" Deva mendongakkan kepala menatap bingung Nathan yang tiba-tiba berbicara seperti itu


"Jika iya, besok aku akan mengantarkan mu kesana. Bicaralah dengannya, aku mengijinkan mu" Urai Nathan


"Kau serius dengan perkataan mu?"


"Hem, lepaskan beban yang ada di hatimu dengan datang kesana. Aku tidak pernah memintamu mengeluarkan nya dalam hatimu, aku hanya ingin kamu memberiku ruang tersendiri di hatimu" Ujar Nathan


Deva menangkap teka-teki di setiap kata yang di lontarkan oleh suaminya.


"Katakan dengan jelas" Desak Deva menatap serius sang suami


Nathan tersenyum melihat istrinya mengerti dengan ucapannya. "Aku mencintaimu, Deva Parameswara Gautama"


"Nathan"


"Jangan mengatakan apapun, lebih baik kamu istirahat" Ucap Nathan. Bukannya menurut, Deva malah menarik tekuk Nathan dan mencium bibir pemuda itu


Nathan yang mendapatkan serangan mendadak hanya diam.


"Aku juga mencintamu, Nathan Alexander."

__ADS_1


__ADS_2