
Nathan sedari tadi terus memerhatikan wajah Deva yang tak seperti biasanya, gadis itu kembali irit bicara. Bahkan saat ia tanya, Deva hanya membalasnya tidak lebih dari tiga kata.
Di dalam kelas, Deva benar-benar kacau. Ingin sekali ia melampiaskan amarah nya dengan menghancurkan apa saja yang di dekatnya
Ia berlalu pergi dari kelas tanpa memperdulikan panggilan guru yang sedang mengajar, tujuannya saat ini mencari tempat sepi. Menancap gas mobil meninggalkan sekolah
Dengan kecepatan tinggi, Deva menabrak kencang pagar besi yang menjulang tinggi. Para bodyguard keluarga Gautama yang sedang berjaga bergidik ngeri melihat aksi Deva yang datang, mereka paham betul bagaimana suasana hati Deva jika sedang tak baik-baik saja
"Kesini!" Ada hampir dua puluh bodyguard yang berjaga di pintu utama datang dan berbaris rapi di depan Deva.
Bugh
Secara bergantian para bodyguard tersebut, Deva pukul dengan sangat keras
"Siapkan ruangan latihan" Deva berlalu masuk ke dalam rumah yang besarnya hampir sama dengan kediaman Gautama, tetapi tempat itu khusus untuk para bodyguard.
Di sekolah, Nathan terus mencari keberadaan istrinya. Dia terus menelfon dan juga mengirim pesan tetapi tidak balasan sama sekali
"Ada apa dengannya?" Gumam pemuda itu
"Nathan!" Sadar berlari mendekati temannya
__ADS_1
"Hm?"
"Lo kenapa? Wajah lo panik gitu, dan kenapa tadi si Deva? Main pergi-pergi aja" Ujar Sadam, "Mana gue tau, dahlah" Balas Nathan sekenanya dan berlalu pergi.
Ayah Nanda dan Bunda Lily yang mendapat laporan dari bodyguard nya kalau Deva ada di tempat 'G2' pun segera kesana. Sesampainya di sana, mereka melihat pagar kokoh sudah tumbang dan body mobil bagian depan milik Deva hancur. Setiap bodyguard yang berjaga di depan terdapat luka lebam di wajah mereka.
"Dimana?" Beda lagi jika di luar, orang tua Adnan dan Deva akan bersikap dingin.
"Ditempat latihan, Tuan" Tanpa menunggu lagi, mereka berdua menuju ruangan untuk berlatih
Bunda Lily membuka pintu ruangan tersebut dan melihat ada tujuh sasaran panahan dan dua samsak hancur. Seluruh pisau yang tersimpan rapi di lemari kaca sudah tak ada di tempat, darah terus menetes dari kepalan tangan Deva Parameswara Gautama.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu ada masalah, cerita sama Bunda" Perempuan itu mengusap lembut kedua bahu anak perempuannya mencoba meredakan amarah gadis di depannya
"Bunda obati dulu tangan kamu, nanti bisa infeksi kalau nggak di obati" Dengan telaten, Bunda Lily mengobati luka di tangan putrinya. Tak ada reaksi apapun di wajah Deva, hanya ada wajah dingin yang akhir-akhir ini sempat memudar.
"Deva, bilang sama Ayah/Bunda. Ada apa?" Tanya Nanda
"Tidak ada"
"Kamu nggak bisa bohong sama kami, bicara sejujurnya" Desak Lily
__ADS_1
"Aku ingin istirahat" Deva beranjak pergi menuju ke salah satu kamar yang ada di sana.
Sedangkan di tempat Nathan, ia merasa sedikit lega ketika mendengar kalau Deva ada bersama kedua orang tuanya. Tetapi Nanda mengatakan kalau untuk sementara agar Deva bersama mereka
Nathan terus mencari kesalahan pada dirinya yang membuat Deva untuk sementara harus bersama mertuanya
"Gue ada salah? Kayaknya nggak" Ucap Nathan bermonolog, "Ck, nggak ada si Deva gue jadi kelaperan kan. Masakan sama kayak yang di masak Deva tapi rasanya beda, tu anak napa nggak pulang sih"
"Mending tu anak di rumah terus adu mulut sama gue, dari pada pegi kayak gini? Sepi kek hati gue kalo nggak ada dia, astaghfirullah" Perubahan pada diri Nathan bisa di rasakan oleh Nathan sendiri, sekarang ia sudah mulai boros suara saat bersama Deva atau seperti sekarang.
"Deva, ini Bunda. Buka pintunya, Sayang" Pinta Lily resah. Dari siang sampai lewat jam makan malam, Deva belum juga keluar dari kamar
"Nak, tolong jangan kayak gini. Kamu sama aja nge-hukum Bunda, keluarlah sebentar" Bunda Lily menghembuskan nafasnya, percuma ia berbicara dengan Deva kalau sudah seperti ini
"Makan malam udah Bunda siapin di meja makan, keluarlah untuk memakannya. Selamat malam" Ucap Lily meninggalkan depan kamar Deva.
Di dalam kamar, Deva tersenyum sangat puas melihat infomasi-informasi yang ia dapat. Informasi yang ia pegang tak akan bisa membuat orang tersebut mengelak
"Kita lihat nanti."
👤 : "Maaf untuk masalah keterlambatan up, ponsel lagi ada masalah di tambah kondisi Author lagi drop. Jadi mohon sabar sedikit, ceritanya akan terus lanjut sampai tamat."
__ADS_1