
Seorang pemuda membuka kasar pintu utama kediaman Alexander, wanita paru baya yang sedang membersihkan vas bunga kaget mendengar nya
"Nathan? Tum—"
"Apa ini semua bisa membuat anda bahagia, Nyonya Alexander" Ucap Nathan melempar foto tadi, "Bahagia karna berhasil merebut yang bukan hak anda?"
"Nathan, Mama bis—"
"Cukup!! Anda seorang wanita, bagaimana bisa anda menyakiti wanita lain? Sangat menarik, di saat anda tidak bisa memiliki keturunan anda mengambil anak wanita lain? Ups..bukan anaknya saja, tetapi juga suami wanita itu"
Lengan kekar Nathan menahan pergelangan Mama Zoya yang hendak menampar nya.
"Anda marah setelah saya mengetahui semua ini? Di mana rasa malu anda, Nyonya. Coba bayangkan kalau anda di posisi wanita itu, sakit hati? Oh tentu. Tetapi anda egois, memikirkan diri sendiri tanpa melihat penderitaan wanita yang sudah anda rebut hak nya" Tekan Nathan menghempas kasar tangan Mama Zoya
Mama Zoya menunduk dalam, isakan tangisnya terdengar di telinga Nathan.
"Untuk apa anda menangis setelah apa yang sudah anda perbuat? Tangisan anda tidak akan ada gunanya, semuanya sudah hancur berantakan karna kalian!!" Pemuda itu melenggang pergi dari kediaman Alexander.
Deva mengerutkan keningnya melihat cara Nathan mengemudikan mobilnya, untung kelasnya sudah selesai setelah Nathan mengirimkan pesan kalau pemuda itu menunggunya di depan.
"Nathan, pelan kan mobilnya. Kita bisa kecelakaan" Tegur Deva
__ADS_1
Nathan tidak mendengarkan ucapan Deva, ia semakin melaju kencang menuju rumah. Sampai di rumah, Nathan masuk terlebih dahulu.
Deva menatap punggung Nathan yang menghilang di balik pintu.
"Apa aku ada salah? Haishh..." Dengan langkah lebar, Deva menyusul Nathan ke dalam.
Prangg cyarr cyarr
Deva masuk ke kamar dan melihat barang-barang di dalam sudah tak berbentuk.
"Nathan, apa yang kau lakukan!" Deva menghentikan Nathan yang hendak melemparkan barang kembali
Nathan memalingkan tubuhnya.
"Nathan"
"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Deva hati-hati, tanpa permisi Nathan menubruk Deva dan membuat tubuh wanita itu sedikit terhiyung ke belakang
"Hem?" Deva bingung mendengar isakan pelan Nathan, baru pertama kali selama menikah ia mendengar Nathan menangis.
"Nathan" Deva menangkup rahang tegas Nathan menggunakan kedua tangannya. "Kenapa?"
__ADS_1
Perlahan Nathan mengusap air matanya, dengan perasaan tak menentu Nathan menceritakan tentang pertemuan nya dengan ibu Maira.
"Kau langsung percaya dengan ibu itu?" Tanya Deva, "Melihat papa diam dan mama menangis setelah aku memperlihatkan foto ini, itu sudah membuatku sangat yakin tentang masalah ini" Kata Nathan memperlihatkan foto yang ia dapatkan dari ibu Maira
"Tetapi aku tidak akan percaya begitu saja, Nathan" Imbuh Deva berdiri, "Kita lakukan tes DNA, dengan cara itu semuanya akan lebih jelas. Kalau hanya bicara saja tidak bisa sepenuhnya kebenaran"
"Hem..ya, kamu benar."
Di restoran tepatnya ruangan privat, Papa Surya menemui Ibu Maira untuk membicarakan masalah Nathan.
"Untuk apa kau datang, Maira" Tegas Surya, "Kenapa? Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak-ku, Surya. Aku sudah rela melepasmu untuk wanita itu, tapi tidak dengan anakku!" Balas Maira marah
"Nathan juga anakku, jadi aku ada hak atas dirinya" Papa Surya tak ingin kalah
"Hak? Di mana kamu saat aku berjuang memberikan Nathan kehidupan di dunia? Kau bersenang-senang dengan wanita itu sampai lupa kalau dulu aku masih menjadi istrimu!" Sentak Maira
"Berapa nominal yang kau inginkan, tulis semaumu disini dan pergilah" Ucap Surya memberikan selembar cek dan bolpoin kepada Maira
"Ceh, kau menghargai Nathan dengan uang? Seluruh uang mu tak ada apa-apa nya jika di banding dengan Nathan"
"Jangan sombong, Maira. Aku tau selama ini kau hidup susah, jadi terima ini dan pergi dari kehidupan ku" Kata Surya, "Aku tidak butuh uangmu, aku hanya butuh hak-ku yaitu Nathan" Tambah Maira
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mu membawa Nathan pergi, Maira. Dia sudah tidak membutuhkan mu lagi, kasih saya ibunya yang sekarang jauh lebih baik dari dirimu"
"Mau bagaimanapun aku tetap ibu kandungnya! Dia merebutmu dari ku, aku diam. Tapi untuk Nathan, aku tidak akan tinggal diam. Nathan putraku, dan akan selama nya seperti itu" Ibu Maira beranjak pergi dari sana meninggalkan Papa Surya yang menggeram kesal.