
Membersihkan dapur, lantai dasar, dan kebun adalah hukuman yang pas untuk Ayah Nanda, Adnan, Deva. Tapi karena Deva sedang hamil, Bunda Lily sedikit membantunya yang mendapat bagian membersihkan dapur.
Ayah Nanda sibuk membersihkan kebun dan Adnan mendapatkan bagian membersihkan seluruh ruangan yang ada di lantai dasar.
"Astaga, ini mulut pake keceplosan segala. Jadi ginikan" Gerutu Nanda merapikan rumput, "Semoga saja nggak ada hukuman lain"
Di ruang tamu, Adnan sesekali mengelap keringat yang melewati pelipisnya.
"Di balik kelembutan bunda, ada sisi kejamnya juga" Ucap Adnan pelan.
Sedangkan di dapur, Deva baru saja menyelesaikan tugasnya di bantu oleh Bunda Lily. Meluruskan tangannya untuk meregangkan otot-otot yang mulai kaku
"Mau Bunda pijit?"
"Nggak, Bun. Cuma pegel dikit kok, nanti juga hilang" Kata Deva tersenyum, "Karena udah, Deva balik ke kamar dulu"
"Iya, hati-hati"
Deva meraih ponselnya yang berada di atas nakas, jari-jarinya dengan aktif mencari nomor Nathan. Pemuda itu tadi pamit keluar sebelum Deva ke kamar orang tuanya.
^^^"Assalamu'alaikum" Ucap Deva saat sudah terhubung dengan Nathan^^^
"Waalaikumsalam. Ada apa, Va? Kau ingin sesuatu"
^^^"Kamu di mana sekarang"^^^
__ADS_1
"Abis dari kantor ambil berkas, ini udah jalan ke rumah. Pengen sesuatu?"
^^^"Lagi nggak pengen apa-apa, kamu cepetan pulang"^^^
"Iya, bentar lagi nyampe kok. Yaudah, aku tutup dulu. Assalamu'alaikum"
^^^"Waalaikumsalam."^^^
Setelah sambungan terputus, Deva meletakkan ponselnya kembali lalu merebahkan tubuhnya. Tangan kanan Deva meraba ke perutnya yang sudah terlihat membuncit
"Sehat-sehat terus di sana, kami menunggumu" Ucap Deva tersenyum lembut
Ceklek
Deva menoleh dan melihat Nathan membuka pintu, ia bangkit dari tidurnya lalu menghampiri prianya.
Pemuda itu tersenyum, sebelum berlalu ke kamar mandi ia menyempatkan mengecup dahi istrinya. Setelah Nathan masuk ke kamar mandi, Deva segera menyiapkan baju untuk sang suami dan meletakkan nya di atas kasur
Deva memijit pelipisnya saat merasa kepalanya sangat berat. Mendudukkan diri di tepi ranjang lalu tangannya meraih segelas air yang ada di atas nakas
"Va, in–Va? Kamu kenapa? Kok pucet gini mukanya" Tanya Nathan khawatir, "Nggak papa, Nathan. Cuma pusing dikit, udah biasakan kalau wanita hamil pusing? Jangan khawatir" Jawab Deva menangkan suaminya
"Aku akan panggil dokter"
"Nathan, ini cuma pusing biasa. Aku akan istirahat, pasti nanti pusing nya hilang" Sahut Deva, "Yaudah kamu istirahat aja, nanti makan malamnya akan ku bawa kemari" Ujar Nathan, Deva hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
***
Waktu makan malam tiba, semua anggota keluarga sudah berada di ruang makan termasuk Oma Yosy.
"Menantu, makanan ini mau di bawa kemana? Dan di mana Deva" Tanya Oma Yosy, "Deva ada di kamar, Oma. Kepalanya agak pusing, jadi aku menyuruhnya istirahat" Jawab Nathan menyiapkan makan malam di atas nampan untuk di bawa ke kamar
"Deva sakit?" Bunda Lily cemas
"Katanya cuma pusing, Bun. Kalau begitu Nathan ke atas dulu" Pamit Nathan melangkah pergi dari ruang makan.
Nathan membuka pintu menggunakan kakinya, karena tadi ia sengaja membuka sedikit pintu kamar agar lebih mudah.
"Va, ayo makan dulu" Ajak Nathan meletakkan nampan yang ia bawa tadi di atas meja kecil yang ada di sebelah ranjang mereka
"Iya" Deva memposisikan dirinya bersandar di kepala ranjang.
"Gimana? Udah mendingan" Tanya Nathan, di balas anggukan oleh Deva.
Mereka makan bersama di dalam kamar, selesai makan Nathan membereskan bekas makanan mereka lalu membawanya ke dapur.
"Sayang" Bunda Lily masuk ke dalam kamar anak perempuannya
"Bunda? Bunda, ada perlu apa kemari" Tanya Deva, "Bunda kesini karena tadi Nathan bilang kamu sakit, apa karena tadi kamu bersih-bersih dapur? Maafin Bunda" Kata Lily merasa bersalah
"Nggak, Bunda. Wanita hamil bukannya memang kayak gini? Pusing itu sudah biasa, jadi Bunda jangan merasa bersalah seperti ini" Jelas Deva membuat lengkungan ke atas di bibirnya
__ADS_1
"Yasudah, kamu istirahat saja. Bunda mau balik ke kamar dulu, selamat malam"
"Iya, selamat malam."