DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 32


__ADS_3

Senyum Nathan terbit ketika melihat Deva masih terlelap di dekapan nya, jari telunjuknya perlahan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik wanitanya.


"Ayo bangun, udah pagi" Bisik Nathan di telinga Deva, wanita itu hanya mengeliat kecil dan mulai membuka matanya


Deva mengangkat kedua sudut bibirnya membuat lengkungan tipis. "Morning"


"Morning, ayo bersiap. Kau tidak lupakan hari ini aku akan mengajakmu kemana" Deva tampak terdiam, ia masih ragu untuk datang kesana.


"Aku baik-baik saja, percayalah" Lanjut Nathan, "Baiklah, aku akan bersiap" Balas Deva turun dari ranjang.


~


Mobil hitam kesayangan Nathan baru saja berhenti di area pemakaman, pemuda itu menoleh dan melihat istrinya masih berdiam di tempat.


"Ayo kita turun" Ajak Nathan


Deva tidak bergeming, ia berusaha agar tidak terbawa perasaan saat ini. Kenangan yang ia pendam selama ini seakan berputar di kepalanya.


"Deva"


"Ah i–iya" Deva terkejut ketikan Nathan memegang bahunya.


Deva maupun Nathan keluar dari mobil, mereka masuk ke pemakaman dengan membawa sebuket bunga.

__ADS_1


Nafas Deva seakan berhenti di tenggorokan saat melihat batu nisan bertuliskan nama sosok yang selama ini membuatnya menutup diri.


Frans. Batin Deva


Wanita itu berjongkok tepat di samping gundukan tanah tersebut.


"Sepertinya ponselku tertinggal di mobil, aku akan mengambilnya" Itu hanya alasan Nathan, ia ingin Deva memiliki waktu berdua dengan mantan kekasihnya.


"H–hai, bagaimana kabarmu?" Deva menengadahkan kepalanya menahan air matanya agar tidak jatuh


"Jika aku di suruh jujur tentang perasaan ku padamu, jawabannya masih sama seperti dulu, aku masih tetap mencintaimu. Tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda, Frans"


"Aku tidak pernah memberikan tempatmu kepada siapapun selama ini, tapi kali ini ijinkan aku memberikan suamiku tempatnya sendiri di hatiku. Aku harap kau tidak marah dengan ucapan ku barusan"


"Deva" Melihat Nathan mendekat, dengan segera Deva menghapus air matanya.


Sekarang hanya ada Nathan yang berjongkok di samping gundukan tanah di mana mantan kekasih sang istri beristirahat.


"Sebelum itu, gue mau perkenalin diri. Nama gue Nathan Alexander, gue mau ngucapin terimakasih karena lo udah ngejaga Deva sebelum gue hadir. Lo orang yang berharga di hidup Deva, dan gue nggak bisa ngehapus lo dari ingatan nya"


"Sekarang semuanya udah beda, gue harap lo bahagia di sana. Ijinin gue buat jagain Deva sampai napas terakhir gue"


Setelah mengatakan itu semua, Nathan pamit menyusul Deva yang sudah berada di dalam mobil. Pemuda itu masuk ke mobil dan melihat sang istri tengah memejamkan matanya

__ADS_1


Mendengar suara pintu mobil tertutup, Deva membuka matanya.


"Kita langsung pulang atau jajan dulu" Tanya Nathan, "Pulang aja, aku capek" Jawab Deva diangguki Nathan.


Di sepanjang perjalanan, tangan kiri Nathan terus menggenggam dan mengusap pelan tangan kanan Deva. Sedangkan Deva, ia menatap ke arah luar. Mencoba menetapkan hatinya untuk Nathan tanpa menyingkirkan Frans dari kenangan nya.


"Ayo kita turun, kita sudah sampai di rumah" Ucap Nathan, untuk beberapa hari mereka berdua akan tinggal di kediaman Gautama sampai keadaan bunda Lily lebih baik.


"Iya" Balas Deva keluar dari dalam mobil.


"Kalian dari mana?" Tanya Lily yang berada di halaman depan, "Jalan-jalan, Bun. Kenapa Bunda ada disini" Tanya balik Deva menghampiri sang Ibu diikuti Nathan di belakang


"Deva.."


"Iya, Bunda"


"Apa ini? Kau habis menangis" Selidik Lily, "Nggak, Bun. Deva nggak abis nangis" Kilah Deva


"Apa kalian bertengkar?" Bunda Lily menatap menantunya


"Nggak, Bunda" Kata Nathan


"Lalu? Katakan dengan jujur" Desak Lily, "Bunda, t–tadi k–kita habis ke makam Frans" Jawab Deva pelan

__ADS_1


Bunda Lily menghela nafasnya. "Istirahatlah di kamar. Jangan terlalu stress, karena itu nggak baik buat keadaan mu yang sekarang. Nathan, bawa Deva ke kamar"


"Iya, Bunda. Ayo" Nathan menuntun Deva masuk ke dalam menuju ke kamar.


__ADS_2