
"Boleh Deva bicara?" Tanya Deva
"Silahkan, Nak" Ayah Nanda mengijinkan
"Ayah/Bunda, bagaimana kalau kita menjual rumah Bibi Nora yang kebakar waktu itu lalu kita membelikan rumah yang lain di sana. Walaupun kita akan rugi, tapi itu tidak banyak" Usul Deva, "Adnan setuju dengan apa yang di katakan Deva, Ayah. Setidaknya, jarak rumah dengan kampus Rani masih sama" Timpal Adnan
"Gimana, Bibi?" Tanya Deva
"Terserah kalian" Jawab Nora singkat. Sebenarnya ia dan Rani berniat untuk tinggal di istana mewah milik keluarga Gautama, tapi pupus sudah.
"Apa tidak sebaiknya Nora sama Rani tinggal disini, lagian disini mereka akan aman dengan penjagaan ketat" Imbuh Tn. Abraham, "Memangnya siapa yang ingin menculik mereka berdua, Tuan. Penculiknya bukannya untung malah buntung karena mereka" Sahut Deva tertawa sinis
"Kurang ajar!! Apa maksud mu berkata seperti itu, ha?!" Geram Nora, "Deva, sudah cukup. Jaga bicara mu, mereka lebih tua darimu" Tutur Lily
"Bundaku terlalu baik memperlakukan orang-orang yang selalu merendahkan nya" Kata Deva
"Kami masih dengan baik hati membantu Nora dengan membelikan rumah baru, dan tenang saja, untuk keamanan semua nya akan di atur" Urai Nanda
"Seharusnya kalian bangga mempunyai putra seperti Nanda, tapi apa yang kalian lakukan? Mengusirnya?" Sahut Oma Yosy dari tangga
"Oma mau kemana?" Tanya Adnan, "Menemui seseorang yang membuat Oma harus datang kemari" Jawab Oma Yosy diangguki paham oleh Adnan
Oma Yosy pun pergi dengan membawa dua pengawal yang selalu setia berdiri di belakangnya.
***
"Bagaimana kabarmu" Tanya Oma Yosy menatap datar Arinda yang sedang memberikan ASI kepada putri kecilnya
"O–Oma?"
"Oma sudah mendengar perubahan hukuman yang akan kamu dapatkan, pasti kau sudah tau tentang hal itu" Ujar Oma Yosy
"I–iya, Oma. Deva dan mas Adnan sudah menjelaskan nya, dan aku tidak keberatan sama sekali" Jawab Arin
__ADS_1
"Oma ada penawaran dan yang pastinya akan lebih menguntungkan untukmu" Kata Oma Yosy
"Apa itu"
"Jadilah baby sitter untuk anak ini dan rawat dia di kediaman Gautama, kau akan bisa terus bersamanya jika menerima ini?" Urai Oma Yosy, "Lalu bagaimana dengan Deva dan yang lain?" Tanya Arin
"Masalah itu, biar Oma yang atasi. Tapi ingat satu hal, ubah cara berpakaian mu agar orang luar tidak tau dan jangan sampai anak ini tau kalau kau adalah Ibunya"
Perkataan Oma Yosy yang terakhir membuat hati Arinda teriris, tapi demi bisa selalu bersama putrinya, ia akan melakukan semuanya
"Baiklah, aku menerimanya" Jawab Arin dengan berat hati.
Selesai urusannya dengan Arinda, Oma Yosy langsung kembali ke kediaman Gautama.
"Tidak masalah jika Ibu harus menjadi baby sitter untuk mu, asal Ibu bisa selalu bersamamu" Lirik Arin.
***
"Apa?! Oma, apa yang Oma lakukan? Aku menolak perintah Oma kali ini, aku sudah berbaik hati dengan tidak menyingkirkannya" Tolak Deva setelah mendengar penjelasan dari Oma Yosy
"Ck, ya baiklah" Pasrah Deva melenggang pergi dari kamar sang oma.
Di lain kamar, Rani merengek kembali agar ia bisa pindah ke kampus yang sama Deva untuk meningkatkan kepopuleran nya dan bisa ia pamerkan kepada teman-temannya kalau dirinya pindah ke kampus elite dan tinggal di rumah mewah.
"Rani, mengertilah. Posisi kita sekarang sedang tidak baik-baik saja, terlebih lagi dengan kedatangan nyonya Smith. Dengan Deva saja kita kalah, apa lagi sekarang ada nyonya Smith" Ujar Nora memberi pengertian
"Kita minta kakek sama nenek saja, mereka kan juga punya kekuasaan" Kata Rani, "Kau saja yang bicara dengan kakek-nenek, Ibu capek" Dengus Nora.
Waktu terus berjalan, kini sudah saatnya jam makan siang. Oma Yosy, Ayah Nanda, Bunda Lily, Tn. Abraham, Ny. Abraham, dan Nora sudah berada di meja makan tinggal menunggu para manusia muda.
Dari arah tangga, terlihat hanya ada Adnan, Rani, dan Nathan yang turun ke lantai dasar.
"Nathan, di mana Deva" Tanya Lily, "Deva ada di kamar, Bun. Katanya mau makan di atas" Jawab Nathan menyiapkan makanan di atas nampan
__ADS_1
"Kamu duduk disini saja sama yang lain. Biar Deva, Bunda yang urus" Titah Lily
"Nggak papa, Bun. Biar Nathan saja"
"Duduklah" Nathan pasrah lalu duduk di tempat nya. Posisi kursi Nathan di apit dengan kursi Adnan dan Deva, jadi tidak akan ada yang berani duduk di samping Nathan.
Tok tok tok
"Sayang, ini Bunda"
"Masuk aja, Bun!" Balas Deva dari dalam
Bunda Lily membuka pintu kamar milik putrinya, dan melihat Deva sedang duduk di kursi meja belajar.
"Kamu lagi ngapain?"
"Tugas kampus, minggu depan harus di kumpulkan. Nggak mungkin aku minta bantuan Nathan, dia juga sedang repot" Jawab Deva
"Minta bantuan abangmu saja"
"Nggak ah, Bun. Deva masih bisa sendiri" Kata Deva, "Yaudah kalau begitu, ini udah waktunya makan siang. Bunda udah bawain makanan untukmu" Ujar Lily
"Nathan mana?"
"Bunda menyuruhnya makan di bawah sama yang lain" Jawab Lily, "Kenapa Bunda repot-repot, ada pelayan disini" Imbuh Deva
"Nggak repot sama sekali, malah Bunda seneng bisa nganterin makanan buat kamu" Jawab Lily, "Terimakasih, tapi apa Bunda sudah makan?" Tanya Deva
"Nanti, kau makanlah"
"Makanan ini sangat banyak, bisa untuk berdua" Ucap Deva, "Kamu saja yang makan, Bunda bisa makan nanti" Balas Lily
"Bunda.."
__ADS_1
"Oke, kita makan sama-sama."