DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 41


__ADS_3

Bunda Lily tengah menyiapkan makanan untuk putri dan menantunya, perhatian nya teralih ketika mendengar suara langkah kaki dari arah tangga.


"Yang lain mana, Bunda" Tanya Deva, "Hei, apa kalian nggak lihat sekarang udah jam berapa? Ini sudah pukul tiga sore" Jawab Lily


Deva menggigit ujung jarinya dan Nathan hanya tersenyum kaku.


"Ya sudah, lebih baik kalian makan" Ucap Lily


"Iya, Bun"


"Dan ya, lain kali jangan sampai lupa mengaktifkan kedap suara kamar kalau kalian tidak ingin orang lain tau apa yang kalian lakukan" Lanjut Lily berlalu pergi sembari menggelengkan kepalanya


Sedangkan Nathan dan Deva hanya diam menatap kepergian bunda Lily, mereka berdua masih bingung dengan apa yang di katakan wanita paru baya tadi.


"Apa maksud bunda, Nathan?"


"Mana aku tau. Ayo kita makan, bukankah kau tadi bilang sudah sangat lapar" Kata Nathan, "Itu juga karena mu" Balas Deva


"Bukankah kau yang menggodaku terlebih dahulu? Jadi bukan salahku" Imbuh Nathan, "Ck, kamu saja mudah tergoda" Decih Deva


"Eh? Coba aku tanya, kucing mana yang nolak kalau di kasih ikan" Ujar Nathan


"Jadi yang terjadi tadi salahku?" Nathan mengangguk.


"Baiklah, lain kali jangan memintanya lagi" Kata Deva menatap sinis suaminya


"Kok gitu" Pemuda itu mengerucutkan bibirnya

__ADS_1


Deva mengedikkan bahunya.


"Va.."


"Hmm"


"Deva"


"Iya, Sayang" Runtuh sudah pertahanan Deva yang hendak mengerjai sang suami, melihat Nathan memelas membuatnya tidak tega


"Jangan gitu lah" Rengek Nathan, "Melihat mu sekarang, seperti anak kecil yang di larang bermain oleh ibunya" Ucap Deva terkekeh


"Deva.." Tawa Deva pecah saat melihat kedua mata Nathan mulai berair, ia menggeser kursi yang diduduki-nya lalu memeluk Nathan


"Bayi besar" Cibir Deva


Deva tertawa kembali. "Segitu takutnya aku marah sampai kamu mau nangis" Ledek Deva


"Va.."


"Ya ya baiklah, kita lanjut makan lagi" Deva tertawa geli melihat sikap manja Nathan.


Selesai makan, mereka berdua duduk berdua di ruang tengah. Deva memasukkan cemilan kedalam mulutnya dan sesekali ke mulut Nathan, sedangkan Nathan? ia merebahkan dirinya ke pangkuan Deva.


"Ekhem" Nathan maupun Deva menoleh dan ternyata Rani yang berdeham. Gadis itu duduk di sofa yang tidak jauh dari sofa yang di tempati Nathan dan Deva.


"Ada perlu?" Tanya Deva sinis

__ADS_1


"Tidak"


"Kalau kau kesini hanya ingin menarik perhatian suamiku, lebih baik kau pergi. Dengan bajumu yang kurang bahan itu, tidak akan membuat suamiku tertarik" Ketus Deva, "Aku tau kau tertarik dengan suamiku. Ohya aku lupa, kau dari kecil memang selalu ingin mendapatkan apa yang aku punya. Dan aku tetap diam karena aku menganggap mu sebagai adik, tapi untuk kali ini aku tidak akan membiarkan mu mengambil apa yang sudah menjadi milikku termasuk Nathan, suamiku"


Merasa kesal dengan penuturan sepupunya yang tepat sasaran, Rani memilih pergi.


"Menjengkelkan" Umpat Deva


"Kau sudah membuatku terbang dengan mengatakan kalau aku suamimu" Tutur Nathan, "Hem? Ada yang salah. Bukankah kau memang suamiku, Nathan" Balas Deva menaikkan sebelas alisnya


"Ya, hanya saja rasanya berbeda. Biasanya kalau orang sedang marah, orang itu akan meluapkan isi hatinya" Urai Nathan


"Begitukah?" Deva merundukkan kepalanya.


"Va, jangan memulainya" Peringat Nathan, "Aku hanya ingin mencium pipi mu, Nathan" Kata Deva mencium pipi kiri suaminya


"Ekhem"


Nathan mengubah posisinya saat melihat Bunda Lily dan Ayah Nanda berdiri di samping sofa, Deva? Ia memperlihatkan gigi rapinya untuk menutupi rasa malu.


"Dasar anak muda nggak tau tempat" Desis Nanda duduk diikuti Bunda Lily, "Ck, Ayah sama Bunda kayak nggak pernah muda. Lagian kalau Ayah ingin, Bunda kan ada" Ledek Deva pindah duduk di sebelah Bunda Lily, "Kapan Ayah pulang?"


"Udah dari tadi siang" Jawab Nanda


"Lalu abang?"


"Nggak tau, katanya ada urusan" Jawab Nanda lagi, "Ohya, Nathan. Bisa ikut Ayah sebentar"

__ADS_1


"Iya, Yah" Kedua pria beda generasi tersebut pun pergi dari sana.


__ADS_2