DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 69


__ADS_3

Di kediaman Gautama, semuanya merasa sangat lega setelah pers tadi. Gelak tawa terdengar begitu keras di seluruh penjuru ruang tamu melihat tingkah Baby Chesa dan Anin


"Sepertinya mereka akan menjadi teman, lihat! Mereka terlihat begitu akrab walaupun jarang bertemu" Ujar Lily, "Kau benar, semoga mereka saling melindungi" Tambah Zoya tersenyum


"Bun—"


"Selamat pagi menjelang siang semuanya" Ucap Tn. Abraham masuk ke dalam rumah bersama Ny. Abraham, Nora, dan Rani.


"Seperti nya kita kedatangan tamu" Ucap Adnan menatap keempat orang itu dengan tatapan sinis, Deva meminta Arin dan salah satu pelayan untuk membawa Baby Chesa dan Anin masuk ke dalam.


"Apa-apaan ini Nanda! Kalian mengadakan pers tetapi tidak memberitahu kami?" Sentak Tn. Abraham, "Kami masih orang tua kandungmu! Darah yang mengalir di tubuhmu ada darah kami!" Lanjut Ny. Abraham marah


"Sepertinya kalian yang salah paham, kami sudah memberitahu kalian tentang pers yang akan kami adakan, tanyakan saja pada cucu kesayangan kalian" Timpal Deva bersidekap dada


"Rani?" Tn. Abraham, Ny. Abrahan, dan Nora menoleh ke arah Rani.


"A–aku kira itu bukan urusan kalian, jadi aku tidak menyampaikannya" Jawab Rani tegang


"Sekarang, siapa yang salah? Jika kalian kesini hanya ingin membuat keributan, lebih baik kalian pulang. Kasian besan, anak, dan cucu kami yang membutuhkan ruang nyaman di rumah ini" Timpal Nanda tersenyum paksa


"Mas.." Bunda Lily memegang lengan suaminya.

__ADS_1


"Ohya, saya dengar-dengar kalian sedang mencari pewaris untuk keluarga kalian. Tapi bukannya Rani ada? Kenapa kalian masih mencari" Sindir Adnan, "Adnan, jaga bicara mu. Mereka tetap Kakek dan Nenekmu" Tegur Lily. Ia sudah jengah dengan suami dan kedua anaknya yang selalu saja berbicara sinis kepada mertuanya


"Baiklah. Dengan segala hormat, saya Adnan putra dari tuan Adnanda mempersilahkan kalian untuk pulang. Pintu keluar nya masih sama dengan yang kalian gunakan untuk masuk ke sini" Ucap Adnan sedikit membungkukkan badannya.


Sudah merasa sangat malu karena Rani, keluarga Abraham langsung pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


***


Ayah Nanda dan Adnan tengah kalang kabut melihat Bunda Lily tidak ingin berbicara kepada mereka, jangankan bicara, melirik saja enggan.


"Bunda.."


"Bunda kenapa diam saja, kami ada salah?" Tanya Nanda resah, "Iya, Bun. Tolong katakan pada kami" Sambung Adnan


"Assalamu'alaikum" Deva datang sesuai panggilan dari Ayah Nanda.


Dahi wanita itu mengerut melihat wajah frustasi Ayah dan Abangnya. Alisnya terangkat sebelah meminta penjelasan


"Bunda mu marah dan nggak mau bicara sama kita berdua" Ucap Nanda, "Kalian buat salah?" Tanya Deva


"Itu yang sedang kita pikirkan, Dek. Coba bicara sama Bunda" Tutur Adnan, Deva mengangguk lalu menghampiri sang Ibu.

__ADS_1


"Bunda"


Bunda Lily melirik sekilas, kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.


"Bunda" Deva mengejar Bunda Lily ke lantai atas diikuti Ayah Nanda dan juga Adnan.


"Bunda" Bunda Lily berbalik menatap tajam ketiganya.


"Bun—"


"Lakukan apa yang menurut kalian benar, Bunda capek negur kalian setiap hari. Kalian sudah dewasa, jadi kalian bisa melakukan apapun sesuka kalian. Kalian bisa renungkan kesalahan kalian, Bunda mau ke rumah oma untuk sementara. Jangan ada yang menemui Bunda kalau kalian belum juga sadar dengan kesalahan kalian" Bunda Lily mengambil koper dari dalam almari lalu memasukkan satu persatu bajunya ke dalam


"Bunda.."


"Tidak, Deva. Kali ini Bunda sudah benar-benar capek dengan sikap kalian, silahkan kalau kalian masih ingin mempertahankan sikap buruk kalian itu" Tungkas Lily menyeret kopernya keluar dari kamar


Ayah Nanda menahan Adnan dan Deva yang ingin mencegah Bunda Lily pergi.


"Bundamu sedang marah, biarkan saja dulu" Ujar Nanda, "Tapi, Yah. Ini sudah malam, bagaimana kalau bunda kenapa-napa di luar" Sahut Adnan


"Tenang saja, Ayah sudah meminta pengawal untuk menjaga bunda kalian. Deva, lebih baik kamu pulang dan biarkan Abangmu yang mengantar" Titah Nanda diangguki pasrah oleh Deva.

__ADS_1


__ADS_2