DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 49


__ADS_3

"Nanda, Adnan, Nathan, sehabis makan kalian langsung ke kamar Oma. Ada sesuatu yang ingin Oma bicara kepada kalian. Nanda, jangan lupa ajak istrimu kesana. Untuk Deva? Dia sudah Oma kasih tau terlebih dahulu. Hanya anggota keluarga Gautama" Tekan Oma Yosy


"Iya, Oma/Ibu."


Sesuai perintah oma Yosy, anggota keluarga Gautama langsung ke kamar oma Yosy. Sedangkan yang lain tengah merasa kesal dengan sikap oma Yosy.


"Apa-apaan ini, dia tidak menganggap kita ada. Dia dengan cucu perempuan nya sama saja" Gerutu Ny. Abraham, "Mama benar, si tua itu bertingkah seenaknya sendiri" Sahut Nora


"Tetapi kita harus bisa merebut hatinya agar dia mau bekerja sama dengan perusahaan keluarga Abraham, perusahaan keluarga Smith ada di posisi ketiga setelah perusahaan keluarga Alexander. Kita akan dapat untung banyak" Tutur Tn. Abraham


"Ya, Papa benar. Posisi pertama di duduki perusahaan keluarga bang Nanda, posisi kedua perusahaan keluarga suaminya Deva. Kita harus merebut hati si tua itu" Nora membayangkan bagaimana jika ketiga perusahaan besar tersebut bekerja sama dengan perusahaan keluarga Abraham.


"Tapi ini akan sangat mustahil mengingat siapa yang ada di balik ketiga perusahaan besar itu" Timpal Rani meruntuhkan senyuman Bibi Nora


"Kami ini orang tua kandung Nanda, tidak akan sulit memintanya untuk menyetujui kerja sama antara perusahaan Papa dengan perusahannya" Lanjut Tn. Abraham dengan bangga.


Di kamar Oma Yosy, Ayah Nanda, Bunda Lily, Adnan, dan Nathan tengah menimbang ucapan Oma Yosy.


"Kalian terlalu lama berfikir" Kesal Oma Yosy, "Tapi, Ibu. Apa tidak sebaiknya dia ada di sana, Lily hanya khawatir" Kata Lily

__ADS_1


"Apa yang perlu di khawatirkan, Ibu tidak akan melepaskan nya begitu saja. Dia disini sebagai baby sitter, bukan menantu" Jelas Oma Yosy, "Kalian gimana?"


"Nathan terserah Oma saja, apa yang baik? Nathan ikut" Jawab Nathan, "Kalian berdua?" Tanya Oma Yosy


"Kita sama kayak Nathan, Oma" Jawab Adnan diangguki oleh Nanda


"Semuanya sepakat, jadi semua akan di atur. Kalian bisa keluar dari sini" Papar Oma Yosy.


***


Sore hari, Nathan mengajak Deva berenang di kolam renang yang ada di samping rumah. Nathan dengan lincah berenang kesana kemari sedangkan Deva hanya berada di pinggiran kolam sambil memerhatikan aktivitas suaminya


"K–kenapa? Ayo kita ke rumah sakit" Tanya Nathan cemas, "Haha!! Nathan, aku hanya bercanda" Ucap Deva mengalungkan kedua tangannya di leher Nathan


"Jangan di ulangi, aku khawatir denganmu" Peringat Nathan, di dalam hati ia merasa lega karena tidak terjadi apa-apa. "Iya, maaf. Tadi aku hanya mengetes dirimu saja" Kata Deva mencium pipi sang suami, "Setakut itu?"


"Kau itu bicara apa, tentu saja aku sangat takut. Kamu dan anak kita sama berharga untukku, jadi jangan ulangi hal seperti tadi" Urai Nathan menatap dalam kedua bola mata istrinya


Deva tersenyum melihat mata Nathan yang memperlihatkan kejujuran atas ucapannya. "Terimakasih"

__ADS_1


Di kejauhan, Rani menggeram kesal melihat kedekatan antara Deva dan Nathan.


"Seharusnya aku yang ada di sana, kenapa harus Deva yang selalu mendapatkan apa yang aku mau. Dari kecil aku selalu berhasil mendapatkan apa yang Deva miliki, kali ini aku juga harus merebut Nathan darinya" Ucap Rani dengan penuh tekat lalu pergi dari sana


Kembali ke Deva dan Nathan yang masih bermesraan di kolam renang.


"Kira-kira nanti anak kita mirip siapa?" Tanya Nathan, "Dia nanti akan mirip denganku, kau hanya akan ke bagian hidungnya saja" Jawab Deva


"Hanya hidung?"


"Ya, karena aku suka hidungmu yang mancung ini" Imbuh Deva menoel hidung suaminya, "Hem, tapi aku ingin semuanya mirip denganmu. Kalau aku merindukan mu yang lagi sibuk di dapur, aku bisa menatap wajahnya saja" Ujar Nathan


"Itu tidak adil, bagaimana kalau aku merindukanmu? Aku mau lihat wajah siapa?" Protes Deva


"Adiknya nanti akan mirip denganku" Kata Nathan santai


"Dasar, kamu sudah merencanakan memberikannya adik padahal dia belum lahir" Desis Deva, "Tentu, lima adik cukup untuknya nanti" Balas Nathan


"Lima adik? Kau gila, Nathan!"

__ADS_1


"Aku hanya bercanda" Nathan tertawa lepas. "Ayo kita ke atas, udah mau gelap."


__ADS_2