
"Mereka berdua harus menikah, Anindita butuh status yang jelas" Ucap Oma Yosy
Arinda yang sedari tadi menunduk, kini mulai mengangkat kepala nya.
"Sepertinya tidak perlu ada ikatan pernikahan, Oma. Om Leo bisa menikah dengan wanita pilihannya, dan aku akan melanjutkan hidupku berdua dengan Anin. Aku juga nggak akan melarang Om Leo bertemu dengan Anin, permisi" Arinda bergegas pergi ke lantai atas.
"Leo" Oma Yosy mengisyaratkan agar Leo menyusul Arinda
"Iya, Ibu."
Di dalam kamar, Arinda memeluk erat tubuh kecil Anindita. Gadis kecil itu sibuk bermain dengan boneka beruang pemberian dari sang Ibu di hari ulang tahun nya yang pertama.
"Arinda"
"Om Leo?" Dengan cepat Arinda menghapus air matanya.
"Kita perlu bicara" Kata Leo, "Semuanya sudah di bicarakan di bawah tadi, Om Leo bisa bertemu dengan Anin kapan pun Om Leo inginkan dan aku tidak akan melarang. Tapi maaf, kita tidak bisa menikah" Balas Arinda
"Berikan saya alasan kenapa kamu menolak menikah dengan saya" Tanya Leo formal, Arinda diam.
__ADS_1
"Tidak ada alasan? Berarti kita akan tetap menikah, setidaknya untuk putri kita" Lanjut Leo mengusap pelan kepala Anindita
"Om, bagaimana kita bisa menikah tanpa ada rasa apapun? Sedangkan—"
"Kau masih mencintai Adnan" Sela Leo menatap serius Arinda, "Om Leo, Arin mohon mengertilah" Pinta Arinda
"Apa yang harus ku mengerti, Arinda? Aku tidak punya kekasih, dan kau juga sudah tidak punya hubungan apapun dengan Adnan. Jangan memikirkan dirimu sendiri, Arin. Anindita butuh status yang jelas, apa yang akan kamu jawab saat nanti Anin menanyakan kenapa ayahnya tidak ikut tinggal bersamanya" Balas Leo
"Beri Arin waktu sendiri, Om. Om Leo bisa pergi" Leo mengangguk kemudian keluar dari kamar Arinda.
***
"Bunda"
"Duduklah" Bunda Lily meminta Arinda duduk di kursi sebelahnya.
"Ya, Bunda"
"Kamu yakin tidak perlu ada pernikahan? Bagaimana dengan Anin" Tanya Lily hati-hati, "Arin belum tau, Bunda" Jawab Arinda seadanya
__ADS_1
"Bunda tidak bermaksud ingin membela Leo, tapi selama Bunda tinggal bersamanya, dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Seperti Nathan dan Deva, dulu mereka saling menutup diri karena masa lalu mereka, tapi lihat sekarang? Bahkan mereka tidak bisa berjauhan. Bunda akan selalu mendukung semua keputusan mu, pilih mana yang baik" Urai Lily tersenyum
"Tapi bagaimana dengan perasaan Arin yang masih mencintai mas Adnan?" Tanya Arinda pelan
"Adnan?"
Arinda mengangguk. "Arin nggak mau nyakitin perasaan om Leo, Bunda. Om Leo pria yang baik, dan om Leo berhak mendapatkan wanita yang bisa mencintainya secara utuh"
Hati dan fikiran Arinda sekarang sedang tidak seimbang. Hatinya masih mencintai Adnan sedangkan fikiran nya memikirkan Anindita yang membutuhkan status yang jelas di mata negara. Jika ia memaksakan diri menikah dengan Leo, itu sama saja dia menyakiti perasaan seorang Leonardo Smith.
Di lain tempat, Leonardo masih memikirkan bagaimana cara nya agar Arinda mau menikah dengannya.
"Aku harap kamu tidak mementingkan dirimu sendiri, Arin. Aku tau kamu masih mencintai Adnan, tapi lakukan lah demi Anindita. Tidak masalah bagaimana perasaan mu sekarang, yang terpenting adalah Anin" Ucap Leo menatap langit-langit ruang kerjanya
"Leo"
"Ibu? Ada keperluan apa Ibu kemari" Tanya Leo mempersilahkan Oma Yosy duduk, "Segera urus pernikahan mu dengan Arinda, Ibu nggak mau tau, kau harus menikahi nya dan membawanya ke rumah ini" Tegas Oma Yosy
"Ibu, Arinda butuh waktu. Aku ingin semuanya berjalan dengan baik tanpa ada rasa keterpaksaan, biarkan dia berfikir. Ini juga untuk masa depan Anin, pasti dia akan memilih yang menurutnya baik" Kata Leo
__ADS_1
"Jangan terlalu membuang waktu."