DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 47


__ADS_3

Cadillac CT6-V berwarna hitam berhenti dengan sempurna tepat di depan pintu utama kediaman Gautama. Salah seorang pria berpakaian hitam dengan segera membuka-kan pintu mobil untuk majikan nya, terlihat seorang wanita lansia turun keluar dari dalam mobil.


"Oma!" Deva berjalan cepat menuju ke arah Oma Yosy yang baru saja masuk.


"Dasar, kau ingin cicit Oma kenapa-napa" Dengus Oma Yosy, "Ayolah, Oma. Jangan marah-marah, nanti cepet tua" Kata Deva menggiring sang oma ke ruang tamu


"Oma memang sudah tua, mau tua kayak gimana lagi" Jika saja keadaan Deva sedang tidak hamil, sudah di pastikan tongkatnya sudah mengenai betis cucu perempuannya.


"Bagaimana kabar, Ibu" Tanya Lily mencium punggung tangan Oma Yosy bergantian dengan Ayah Nanda, Adnan, lalu Nathan


"Ibu baik, Lily. Ohya, siapa mereka?" Sebenarnya Oma Yosy sudah mengetahui semua yang sudah terjadi di kediaman Gautama, hanya saja ia sedang berakting.


"Besan, kami orang tua dari Nanda. Dia Nora, adik Nanda dan yang ada di sampingnya adalah Rani, putri dari Nora" Ucap Ny. Abraham ramah


"Oh" Ingin sekali Deva dan Adnan tertawa dengan sangat keras mendengar jawaban begitu singkat dari Oma Yosy.


"Apa Oma lupa?" Tanya Deva, "Tenang saja, coklat mu ada di mobil. Ambil saja" Sahut Oma Yosy mengerti


"Untuk Adnan?"


"Ada di garasi" Jawab Oma Yosy, "Oma memang terbaik, terimakasih" Adnan, Nathan dan Deva pergi meninggalkan ketujuh orang di ruang tamu.


"Ibu, jangan terlalu memanjakan mereka" Pinta Lily, "Biarkan Ibumu ini bersenang-senang dengan cucunya" Balas Oma Yosy

__ADS_1


"Ya tap—"


"Oma, makasih!" Adnan kembali dengan membawa sebuah kunci motor, Deva dan Nathan juga kembali dengan membawa begitu banyak kotak coklat.


"Siapa namamu?" Tanya Oma Yosy kepada putri kandung Nora


"Rani"


"Rani, nama yang bagus" Senyum cerah langsung terbit di wajah Nora, Rani, Tn. dan Ny. Abraham setelah mendengar pujian dari Oma Yosy.


"Tapi tidak sebagus tingkahnya, bagaimana bisa dia dari tadi terus mencuri pandang ke arah cucu menantu laki-laki ku" Ketus Oma Yosy dan luntur sudah senyuman yang mereka banggakan tadi


"Maafkan putri saya" Ucap Nora, tetapi Oma Yosy tak menggubris.


"Sementara? Selamanya juga nggak masalah" Timpal Adnan, "Kau ini. Ayah dan Bundamu punya kehidupan sendiri, Oma nggak bisa ikut campur urusan mereka" Balas Oma Yosy menyindir


"Nanda"


"Ya, Ibu"


"Perusahaan pusat keluarga Smith akan berpindah ke kota ini, jadi Ibu harap kau bisa membantu mengurusnya" Ujar Oma Yosy, "Akan Nanda urus semuanya, Ibu tenang saja" Balas Nanda


"Ibu percaya kepadamu" Oma Yosy beranjak ke lantai atas menuju kamarnya, ia tau pasti semuanya sudah di persiapkan.

__ADS_1


"Sayang, nanti gigimu sakit kalau kebanyakan makan coklat" Tegur Lily, "Bunda, Deva baru makan sedikit" Protes Deva


"Jangan bertingkah seperti anak kecil, pewaris tetapi tingkahnya seperti bocah" Gerutu Ny. Abraham, "Deva sama sekali tidak pantas menjadi pewaris dengan sikapnya yang seperti anak kecil" Lanjut Tn. Abraham


"Lalu siapa yang pantas? Rani. Ceh, yang ada perusahaan langsung bangkrut kalau dia yang mengelola" Balas Adnan, "Akan saya ingatkan, ini keluarga Gautama. Kalian disini hanyalah seorang tamu tak di undang, jadi kami mohon kalian tau diri"


"Adnan" Ayah Nanda menegur


"Maaf, Yah"


"Nathan, sebaiknya nanti kau pakai kostum badut saja. Aku tidak ingin berbuat jahat dengan mengambil mata orang yang selalu saja melirik mu secara diam-diam" Usul Deva melirik sekilas ke Rani yang memalingkan wajahnya.


Tetapi Nathan hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Ohya, Ayah. Bagaimana dengan kuliah Rani? Dan bukanlah Ayah juga sudah mencarikan dia pekerjaan" Ujar Deva


"Apa? Pekerjaan? Nanda, kau menyuruh keponakan mu untuk bekerja?" Tanya Tn. Abraham


"Ya, itu semua demi masa depannya. Rani juga nggak akan bisa terus bergantung, dia juga harus belajar mandiri" Jawab Nanda, "Dan untuk kuliah Rani akan tetap di kampus yang lama"


"Tapi itu jauh, Bang. Abang tega menyuruh Rani melakukan perjalanan jauh? Bahkan Abang juga menyuruhnya untuk bekerja setelah kuliah" Sahut Nora tidak terima


"Boleh Deva bicara?" Tanya Deva

__ADS_1


"Silahkan, Nak" Ayah Nanda mengijinkan.


__ADS_2