Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 18


__ADS_3

Angga yang terus menyusuri jalanan namun masih saja tak menemukan keberadaan ayura, yang bagaikan memiliki kekuatan teleportasi itu, angga dengan lesu kembali ke kediaman utama wiranto.


"Besok pagi saja aku tanya, ke mana dia pergi dengan begitu cepat " ucapnya pada diri sendiri sembari memutar balik arah laju mobilnya.


Angga merasa bersalah pada ayura yang menariknya kedalam masalah perjodohan nya itu, belum juga sempat minta maaf angga telah kehilangan jejak perginya ayura.


"Mamah ini kenapa, harus mudah terhasut dengan perkataan orang, dan harus mengingkari kesepakatan yang telah kita buat " gerutunya yang serasa kesal dengan sang ibu.


Tak berapa lama angga pun sampai ke kediaman utama wiranto, yang mana di ruang tamu itu masih ada gabriel dan kedua orang tuanya.


"Ah... kamu sudah kembali angga, tolong antar kan El. pulang ya ini sudah malam bahaya buat anak gadis seperti dia pulang sendiri " ujar sang mamah saat melihat angga yang baru saja sampai itu.


"Mah.... biarkan angga mengambil napas dulu " tuan wiranto yang tadinya hanya diam iya pun angkat bicara.


"Iya.. pah mamah juga bukan langsung menyuruh angga mengantarkan El sekarang juga kok" jawab sang mamah dengan tanggapan suaminya tadi.


"Papah tidur , duluan ke kamar untuk istirahat " ucap tuan wiranto lagi sembari berjalan ke arah kamarnya.


Gabriel hanya tersenyum pada angga, namun angga tak menggubrisnya, iya duduk di sofa dengan diam tak ada sepatah katapun yang keluar iya hanya menunjukkan mimik muka yang kecewa.


"Mamah tau kamu kecewa, dengan keputusan mamah, tapi mamah juga gak bakal membantah kalian berpacaran jika dia emang perempuan baik-baik angga, kamu kan tadi denger dari El kalo dia itu wanita malam...?! " sang mamah tau saat melihat mimik muka anaknya itu.


Iya kembali menasehati anaknya dan mencoba memberi pengertian pada angga.


Namun angga tetap saja tak bergeming dan bersuara, iya merogok ponselnya yang ada di kantong celana nya, dan melihat ada pesan whatsapp dari bili mengenai sebuah pekerjaan yang harus cepat iya tangani.


"Mah,.. aku gak bisa ngantar suruh sopir saja, aku masih ada kerjaan " ujar angga yang langsung bangkit dari duduk nya dan mengambil kunci mobil.


"Ehhh..... mau kemana jangan bilang mau nemuin dan cari lagi wanita jalang itu...!!? mamah gak suka ya, pokok nya kamu anterin El" mamah angga mencoba mencegah angga agar tak pergi begitu saja.


"Gak.. papan kok tante mungkin emang angga masih ada pekerjaan buang harus di urus, aku bisa, pulang sendiri kok" ujar gabriel yang padahal iya berharap bahar angga dapat mengantarkan nya .


"Gak bisa gitu nak, ini sudah malam gak baik kamu pulang sendiri, ya paling angga juga bukan ada kerjaan mendesak, di malam hari gini kan " ujar mamah angga lagi.


Namun angga tak mendengar kan perkataan sang mamah iya keluar dari rumah untuk menuju vila nya yang mana di sana bili sudah menunggu.


"Dasar anak ini, keras kepala tak mau di kasih tau... " mamah angga mengomel sendiri karena anaknya yang membangkang.


"Tante ini sudah malam saya harus segera kembali, karena takut mamah cemas sudah malam belum kembali " gabriel berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah tambah larut.


"Ahhh... iya maaf ya, mungkin jika nanti kalian sering ketemu atau menghabiskan waktu lebih banyak maka akan ada rasa, sekali lagi tante minta maaf ya atas sikap angga tadi " ujar mamah angga meminta maaf atas sikap angga yang dingin pada gabriel.


"Iya gak papa tante, kalo aku ada waktu luang pasti main lagi kesini kok, untuk mencoba dekat sama angga tante " jawab gabriel sembari mengambil tasnya dan melangkah keluar dari rumah besar tersebut.


"Iya sayang, Hati-hati ya di jalan, sampaikan pada mamah kamu salam dari tante " mamah angga mengantar gabriel sampai depan pintu.


"Iya tante, " jawab gabriel dengan senyum manisnya sembari melambaikan tangan.


Lambaian tangan gabriel di balas dengan mamah angga yang juga melambaikan tangan .


Gabriel, yang merasa jengkel karena iya tadi di abaikan oleh angga, iya pun menelpon Yuda dan mengadu padanya, untuk menghancurkan ayura kalo bisa suruh dia pergi dari kota tersebut.


"πš‚πšŠπš’πšŠπš—πš... πšŠπš”πšž πšπšŠπšπš’ πš”πšŽπšπšŽπš–πšž πš–πšŠπš—πšπšŠπš— πš–πšž πš’πšŠπš—πš πš“πšŠπš•πšŠπš—πš πš’πšπšž, πšπš’πšŠ πšπšŽπš›πš—πš’πšŠπšπšŠ πšπšŽπš”πšŠπš πšπšŽπš—πšπšŠπš— πšŠπš›πšπšπšŠ,πš”πšŠπš•πš˜ πšπš’πšŠ πš–πšŽπš—πšŽπš–πš™πšŽπš• πšπšŽπš›πšžπšœ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ, πšžπšœπšŠπš‘πšŠ πš”πš’πšπšŠ πšŠπš”πšŠπš— πšπšŠπšπšŠπš•" πšžπš“πšŠπš› πšπšŠπš‹πš›πš’πšŽπš• πš–πšŽπš—πšπšŠπšπšž πš™πšŠπšπšŠ 𝚈𝚞𝚍𝚊 πšπš’ πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


"πšƒπšŽπš—πšŠπš—πš πšœπšŠπš’πšŠπš—πš πšŠπš”πšž πš™πšžπš—πš’πšŠ πšŒπšŠπš›πšŠ πšžπš—πšπšžπš” πš–πšŽπš—πš’πš’πš—πšπš”πš’πš›πš”πšŠπš—, πš πšŠπš—πš’πšπšŠ πš“πšŠπš•πšŠπš—πš πš’πšπšž, πšπšŽπš—πšŠπš—πš πšœπšŠπš“πšŠ πš”πšŠπš–πšž πš‹πšŽπš›πš–πšŠπš’πš— πšŠπš–πšŠπš— πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πš–πšŽπš›πšŠπš”πšŠ πšŒπšžπš›πš’πšπšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš›πšŽπš—πšŒπšŠπš—πšŠ πš”πš’πšπšŠ " 𝚈𝚞𝚍𝚊 πš–πšŽπš—πšŒπš˜πš‹πšŠ πš–πšŽπš—πšŽπš—πšŠπš—πšπš”πšŠπš— πšŽπš–πš˜πšœπš’ πšπšŠπš‹πš›πš’πšŽπš•.


"π™Έπš’πšŠ πšœπšŠπš’πšŠπš—πš πš™πš˜πš”πš˜πš”πš—πš’πšŠ πš”πšŠπš–πšž πš‘πšŠπš›πšžπšœ πšœπš’πš—πšπš”πš’πš›πš’πš— πšπš’πšŠ πš”πšŠπš•πš˜ πšπš’πšπšŠπš”, πšŠπš”πšž πšπšŠπš” πš–πšŠπšž 𝚝𝚊𝚞 πš™πš˜πš”πš˜πš”πš—πš’πšŠ "πšŠπš—πšŒπšŠπš– πšπšŠπš‹πš›πš’πšŽπš• πš™πšŠπšπšŠ 𝚈𝚞𝚍𝚊.


" π™Έπš’πšŠ.... πš’πš’πšŠ πšœπšŠπš’πšŠπš—πš πšπšŽπš—πšŠπš—πš πšŠπš“πšŠ πšπšžπš—πšπšπšž πš”πšŠπš‹πšŠπš› πš‹πšŠπš’πš” πš—πš’πšŠ πšπšŠπš›πš’ πšŠπš”πšž, 𝚒𝚊 πšœπšžπšπšŠπš‘ πšŠπš”πšž πš–πšŠπšœπš’πš‘ 𝚊𝚍𝚊 πš™πšŽπš”πšŽπš›πš“πšŠπšŠπš—, πš—πšŠπš—πšπš’ πš”πš’πšπšŠ πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš πš•πšŠπšπš’ πš˜πš” "𝚈𝚞𝚍𝚊 πš–πšŽπš’πšŠπš”πš’πš—πš”πšŠπš— πšπšŠπš‹πš›πš’πšŽπš• πšŠπš”πšŠπš— πš›πšŽπš—πšŒπšŠπš—πšŠπš—πš’πšŠ .


" π™Ύπš”...."πš“πšŠπš πšŠπš‹ πšœπš’πš—πšπš”πšŠπš πšπšŠπš‹πš›πš’πšŽπš• πšπšŠπš— πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš πš–πšŽπš–πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


Setelah Gabriel menutup telpon nya , iya tak sengaja melihat sebuah bar, diapun menghentikan sopir untuk putar balik dan menurunkannya di barat tersebut.


__ADS_1



Sedangkan ayura yang kini sudah minum habis sekitar sepuluh gelas , ayura yang kini sudah tertunduk di meja karena iya terlalu banyak minum.



"Hai.... cantik, sendiri aja nih, boleh gak nih kakak temani" goda salah satu pengunjung club tersebut.



Karena ayura yang memang sudah mabuk berat, iya hanya tertunduk diam tak merespon, karena ayura diam tak merespon pengunjung itu merasa ada kesempatan untuk menggangu ayura.



Namun Batista yang melihat ayura di perlakukan tak senonoh di hadapannya,iya pun menegurnya.



"Tuan jangan berbuat sembarang saat orang itu, dalam keadaan tak sadar " ujar barista itu sembari tangannya sibuk mengelap gelas.



"Tak usah ikut campur urusan ku, urusi saja pekerjaan mu " sahutnya yang tak senang karena aksinya di ganggu.



"Saya dapat melaporkan anda atas tuduhan pelecehan " gertak barista itu lagi.



Orang itu karena kesal dengan ucapan barista itu dan merasa takut juga, iya pun pergi dengan muka kesalnya.




"Heh.... masalah sepele seperti tadi itu, bukan masalah bagiku yang seorang pelacur jadi kau tak usah sok menjadi pahlawan " jawab ayura melantur.



"Memang apa lagi yang berharga dari seorang pelacur, harga diri atau mahkota seorang wanita pun sudah tak ada di badan ini, meski mati tak akan ada yang peduli " sambung ayura lagi sembari mengangkat kepala dan menenggak lagi wiski yang ada di gelasnya.



"Sudah nona anda sudah terlalu banyak meminumnya, itu akan tak nyaman " ujar barista itu lagi mengingatkan ayura.



"Hehehehehe....... hidup sebagai pelacur itu bukan pilihan kami, tapi terkadang kehidupan lah yang memaksa, namun berbeda dengan ku yang terjun ke dunia hina ini dengan cara yang membuat ku muak " ayura menyeringai dan berbicara entah apa yang iya layanan semua yang ada di hatinya iya tumpahkan di saat itu juga.



Barista, itu hanya diam mendengarkan sembari melakukan pekerjaan nya, dia sangat menyayangkan wajah cantik bodi seksi itu hancur di dunia yang gelap menjadi seorang psk.



"Kenapa anda tak keluar saja dari tempat hina itu, kenapa harus bertahan??? " tanya si barista yang ada benarnya kenapa tak lari dan pergi.



"Pergi..... memang sangat mudah untuk di ucap kan, jika aku ada kemampuan itu sudah kulakukan sejak pertama kali akan masuk, dan tak perlu menunggu hancur tak berbentuk " jawab ayura yang seakan iya dalam keadaan sadar 100%.



"Aku bertahan, karena aku tak ingin mati lebih cepat sebelum rasa sakit dan ke bencian ini terbayar lunas " Sambung ayura dengan mempererat iya memegang gelasnya.

__ADS_1



Ayura bangkit dari duduk nya dan pergi keluar dari club itu untuk pulang karena iya merasa sudah merasa lebih tenang setelah menghabiskan begitu banyak wiski, dan meluapkan semua isi hatinya meski tak tau pada siapa iya curhat.



Ayura berjalan sempoyongan dan hampir saja menumbuk apa saja yang ada di hadapan nya, namun iya masih bisa atau beruntung bisa terhindar dari itu semua.



"Ternyata.... sungguh kelam dan dalam dendam mu nona, ternyata cantik juga bisa menjadi petaka bagi diri "gumam barista itu sembari memperhatikan langkah ayura yang sempoyongan.



Ayura yang sudah lumayan jauh dari club itu karena iya terlalu banyak minum, ayura berjongkok dan muntah-muntah, setelah itu iya mencoba berdiri kembali, dan untungnya masih ada taksi yang lewat di malam itu ayura menaiki taksi untuk pulang ke rumahnya.



Karena hati itu sudah sangat larut jadilah tak ada kemacetan apa pun, ayura yang kini sudah turun dari taksi, iya langsung membayar dan berjalan untuk masuk ke rumahnya.


Dengan susah payah akhirnya ayura dapat membuka pintu dan masuk, karena badan sudah lelah dan efek mabuk iya oun langsung timbang di sofa ruang tamu.



Ayu yang malam itu tak bekerja sampai pagi pulang dengan badan lelahnya, saat membuka pintu yang ternyata tak di kunci boleh ayura.



"Ke biasan nih anak, kan udah gue bilangin sebelum tidur kunci dulu pintu, ceroboh amat sih. " ayu terus saja mengomel.



Saat sudah masuk dan mengunci pintu ayu mencium bau alkohol yang sangat menyengat di rumah nya.



"Siapa nih yang abis pesta wiski,?? " tanya ayu sembari berjalan ke arah sofa.



"Astaghfirullah....... ini bocah kenapa tidur disini?? mana nadanya bau banget lagi, kenapa lagi nih bocah apa abis putus cinta lagi??? " ayu terkejut saat melihat ayura yang sedang terlelap.



"Yur..... yur.... bangun mandi dulu sana badan loe bau banget..!! " ayu menggoyangkan tubuh ayura supaya bangun dan mau mandi.



"Yur.... bangun oy..... yur.... jangan bilang loe overdosis minuman alkohol ya, itu kan gak lucu yur.... bangun oy.... " ayu terus mengguncang tubuh ayura yang tak ada respon sedikit pun namun karena ayu berisik ayura, pun membuka matanya sedikit.



"Berisik amat si loe yu" ujar ayura yang setengah bangun itu.



"Bangun loe mandi sana bau tau??? " ayu menyuruh nya untuk mandi.



"Besok pagi aja gue ngantuk, capek loe tidur kamar biar gue tidur sini aja" setelah menjawab ayura kembali tertidur.



Ayu yang kesal karena ucapannya tak di dengar oleh ayura, ayu pun masuk ke kamar mengambil , handuk bersiap untuk mandi bersih-bersih, lalu di lanjutkan dengan tidur.

__ADS_1


__ADS_2