Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 22


__ADS_3

Ketiga nya genting tak satu pun di antaranya yang angkat bicara, tak berapa lama mereka sampai di halaman rumah sakit ayura tanpa ada kata basa-basi langsung keluar dan menutup pintu lalu pergi ke arah rumah sakit.


"Dasar wanita tak punya sopan santun.... " Gerutu nya kesal yang di abaikan begitu saja oleh ayura.


"Tuan apa kah kita akan langsung kembali ke kantor apa ke rumah??? " tanya bili yang ikut bicara.


Angga bukanya menjawab iya malah turun dari mobil dan mengikuti ayura masuk kedalam rumah sakit.


"Ya elah... gue gak di anggap sama sekali, kalian kira aku ini angin yang lewat " omelnya yang kesal di abaikan oleh mereka.


Bili hanya diam di dalam mobil dengan memainkan ponsel nya. sedang asik-asik nya bili bermain game ada telpon masuk padanya .


"Lah.... ganggu orang aja kan jadi kalah...!!! " gerutunya kesal pada sangat penelpon , bili menggeser tombol hijau dan terdengar lah suara di sebrang telpon.


"π™ΊπšŠπš–πšž πšπš’ πš–πšŠπš—πšŠ πš‹πš’πš•πš’???" πšπšŠπš—πš’πšŠ πš˜πš›πšŠπš—πš πš’πšŠπš—πš 𝚊𝚍𝚊 πšπš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


"πš‚πšŠπš’πšŠ, πšœπšŽπšπšŠπš—πš πš‹πšŽπš›πšŠπšπšŠ πšπš’ πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšœπšŠπš”πš’πš πš—πš’πš˜πš—πš’πšŠ?? " πš“πšŠπš πšŠπš‹ πš‹πš’πš•πš’ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πšœπšŽπšπšŠπš—.


"πš‚πš’πšŠπš™πšŠ πš’πšŠπš—πš πšœπšŠπš”πš’πš, πš‹πšŠπšπšŠπš’πš–πšŠπš—πšŠ πš”πšŽπšŠπšπšŠπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ πš‹πš’πš•πš’??? " πšπšŠπš—πš’πšŠ πš—πš’πšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš—πšŠπšπšŠ πšŒπšžπš”πšžπš™ πš™πšŠπš—πš’πš”.


"πš‚πšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš πš”πšŠπš•πš’πšŠπš— 𝚊𝚍𝚊 πšπš’ πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšœπšŠπš”πš’πš πš–πšŠπš—πšŠ??? " πšπšŠπš—πš’πšŠ πš—πš’πšŠ πš•πšŠπšπš’.


"πšƒπšŽπš—πšŠπš—πš πš—πš’πš˜πš—πš’πšŠ πš‹πšžπš”πšŠπš— πšπšžπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ πš’πšŠπš—πš πšœπšŠπš”πš’πš, πšπšŠπš™πš’ πšŠπš—πšŠπš”πš—πš’πšŠ πš—πš˜πš—πšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ πš’πšŠπš—πš πšœπšŽπšπšŠπš—πš πšπš’πš›πšŠπš πšŠπš, πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš πš”πšŠπš–πš’ 𝚊𝚍𝚊 πšπš’ πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšœπšŠπš”πš’πš πš”πš˜πšπšŠ " πš‹πš’πš•πš’ πš–πšŽπš—πšŒπš˜πš‹πšŠ πš–πšŽπš—πšŽπš—πšŠπš—πšπš”πšŠπš— πšπšŠπš— πš–πšŽπš–πš‹πšŽπš›πš’πšπšŠπš‘πšž πš”πšŽπš‹πšŽπš›πšŠπšπšŠπšŠπš— πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ.


"π™ΊπšŽπš—πšŠπš™πšŠ πš πšŠπš—πš’πšπšŠ πš’πšπšž πš•πšŠπšπš’??? πšŠπš™πšŠ πšœπšŽπš‹πšŽπš—πšŠπš›πš—πš’πšŠ πš‘πšžπš‹πšžπš—πšπšŠπš— πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ???!! " πš˜πšŒπšŽπš‘πšŠπš— πš˜πš›πšŠπš—πš πš’πšŠπš—πš πš–πšŽπš—πš“πšŠπšπš’ πš•πšŠπš πšŠπš— πš‹πš’πšŒπšŠπš›πšŠ πš‹πš’πš•πš’ πšπš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


"π™³πš’ πš–πšŠπš—πšŠ πšŠπš—πšπšπšŠ πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš 𝚜𝚊𝚒𝚊 πš’πš—πšπš’πš— πš‹πš’πšŒπšŠπš›πšŠ....!!!! " πšžπšŒπšŠπš™πš—πš’πšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš”πšŽπšπšžπšœ.


"π™ΌπšŠπšŠπš πš—πš’πš˜πš—πš’πšŠ πšœπšŽπš‹πšŽπš—πšπšŠπš› 𝚜𝚊𝚒𝚊, πšŒπšŠπš›πš’ πšπšžπšŠπš— πšπšžπš•πšž, πšœπš˜πšŠπš•πš—πš’πšŠ 𝚜𝚊𝚒𝚊 πšπš’ πšœπšžπš›πšžπš‘ πš–πšŽπš—πšžπš—πšπšπšž πšπš’ πšπšŠπš•πšŠπš– πš–πš˜πš‹πš’πš• " πšžπš“πšŠπš› πš‹πš’πš•πš’ πš’πšŠπš—πš πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš πšπšžπš›πšžπš— πšπšŠπš›πš’ πš–πš˜πš‹πš’πš• πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πš“πšŠπš•πšŠπš— πš–πšŠπšœπšžπš” πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšœπšŠπš”πš’πš.


"𝚈𝚊 πšŒπšŽπš™πšŠπš πš•πšŠπš‘......!!!! " πšœπšŽπšπšŠπš”. πš˜πš›πšŠπš—πš πšπš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš— πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš–πšŽπš–πšŠπšπš’πš”πšŠπš— πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


"Hais.... aku lagi yang kena semprot nyonya, aduh tuan kamu sih suka sekali buat masalah untu ku " gerutunya sedikit bad mood.


Bili berjalan dengan coll nya dan masih saja menggerutu, dan mengumpat di dalam hatinya dan iya bertanya pada resepsionis, ruangan tempat anak ayura di rawat.


"Nona saya ingin bertanya, di mana ruangan tempat dirawat nya anak dari nona ayura miland??? " tanya bili


"Sebentar tuan saya periksa terlebih dahulu " Jawab nya sembari melihat buku daftar pasien yang ada di dalam rumah sakit.


"Ini tuan, ada di ruangan reguler bagian rawat anak di lantai 5 di pintu no 108 tuan " jawab resepsionis itu.


"Ok terimakasih " bili berjalan menuju ke arah pintu lift untuk segera ke ruangan yang telah di sebutkan nya tadi.


Sedangkan saat ini di dalam ruangan rawat Galuh di sana ayura sedang memberi asi pada Galuh, angga masuk tanpa permisi hingga iya terdiam sejenak lalu membalikan badan.


Ayura yang kaget dia pun langsung membalikan badan.


"Apa yang kau lakukan di sini???!! " tanya ayura dengan kesal.

__ADS_1


"Aku tak melihat apa pun, akun hanya ingin menjenguk dia yang sedang sakit?" ujar angga dengan tenang seakan tak melihat apa pun. sembari tangan menunjuk ke arah Galuh.


Ayura menaruh Galuh ke atas ranjang nya lagi dan iya menghampiri angga yang masih berada di ambang pintu.


"Oh bener kah....? tapi kenapa aku tak percaya ??? " ucap ayura yang mulai menggoda lagi.


"Emh.... " Jawabnya acuh.


"Sungguh.... apa kau benar-benar tak akan tertarik dengan apa yang aku miliki???? " goda ayura dengan kancing baru bagian atas uang masih terbuka yang menampakan bagian dada yang membuat semua orang tergoda.


"Ya mana ada aku bukan tergoda dengan milik mu dengan ukuran S itu???!!! " jawab nya dengan tetep berusaha tenang dengan tangan menunjuk ke arah tonjolan di dada ayura.


"Bener kah ini hanya ukuran S, tapi sepertinya anda salah tuan ini ukuran L loh... masih lumayan, jika anda mau???? " ujarnya sembari terus menggoda.


"Heh..... sekecil itu kau bilang ukuran L, kau terlalu membanggakan diri " decit nya dengan mendekatkan diri ke arah ayura .


Saat sedang seperti itu bili yang dari luar tak tau kalo meraka sedang berada di balik pintu, iya pun masuk tanpa permisi dulu asal dorong pintu, hingga terjadilah kecelakaan yang membuat angga entah untung atau rugi.


Angga terdorong hingga terjatuh dan ayura berada di bawah angga hingga muka angga tersempal di bagian dua buah dada ayura, dan ayura merasa badannya sakit karena iya langsung jatuh ke atas keramik dan kepala membentur lumayan keras. Yang membuat ayura menjadi pingsan.


"Tuan.....apa yang anda lakukan di sini, dengan posisi itu???? " tanya bili yang dengan polos


dan berlagak tak tau.


Angga yang bangkit dari posisinya dia menghampiri bili dengan rasa canggung namun lebih besar ke rasa kesalnya pada bili yang masuk tanpa permisi itu.


"Kau bertanya.. seakan kau tak melakukan kesalahan apapun " ucapnya sembari menggerakkan giginya kesal.


Mereka berdua saling mengobrol dan lupa akan ayura yang masih terbaring pingsan di lantai, dengan baju yang berantakan.


Angga keluar untuk menelpon begitu juga bili iya juga ikut pergi, Bili merasa aneh karena sedari tadi iya tak melihat ayura ada di sasana.


"Kok aneh ya bukanya itu ruangan tempat anak nona ayura di rawat, tapi kok aku sedari tadi tak melihat nona ayura nya ya??? " tanya bili dalam hati.


Bili yang bergulat dengan pemikirannya dan angga yang sibuk dengan telpon nya, tiba-tiba mendengar jeritan dari arah kamar rawat Galuh yang membuatnya terkejut.


"Aaaaaaaahhhh.......!!!!!! " jerit seseorang.


Angga langsung berlari ke arah ruangan itu dan melihat suster yang sedang terduduk di lantai karena terkaget.


"Ada apa Sus.....???!! " tanya angga pada sangat suster.


"I.. itu... itu... tuan ada mayat.. " Tunjuk nya pada ayura yang terbaring masih pingsan.


Angga menoleh ke arah yang di tunjuk oleh suster tersebut dan terkejut, iya melupakan ayura sedari tadi. Angga dengan cepat langsung mengangkat ayura ke sofa yang ada di dalam ruangan tersebut dan membaringkan nya di sana.


"Sus.... coba di periksa apa ada luka atau tidak ..!!! " pinta ngga pada suster yang masih merasa gugup karena melihat orang yang terbelalak di lantai.


"Baik tuan.... tapi dia tidak matikan??? " tanya suster yang masih sedikit ragu.

__ADS_1


"Tidak... " jawab nya singkat.


Suster memeriksa ayura dengan teliti dan tak menemukan luka yang serius hanya ada memar dan benjolan di bagian kepala, karena akibat benturan keras kepalanya ke lantai.


"Allhamdulilah nona ini tak apa-apa , hanya agak memerlukan di bagian kepala yang membuatnya pingsan tua " suster itu menghela napas lega saat mengetahui wanita itu baik-baik saja.


"Emh.... " jawab nya singkat angga merasa tak enak pada ayura yang membuatnya terjatuh kelantan dan pingsan malah iya tinggalkan juga di lantai.


Suster pun beralih ke arah ranjang rawat anak untuk memeriksa Galuh, apakah demam nya sudah turun, dan memeriksa infus nya.


Angga hanya memandang ayura dengan pandangan yang datar, tak lama pintu ada yang mengeruk dari luar dan ada seseorang yang masuk ke sana yang tak lain adalah bili.


"Tuan... ada apa tadi saya mendengar ada jeritan????! " tanya bili yang merasa khawatir.


"Tak ada..!! " jawabnya acuh.


"Eh.... nona ayura sedang tidur toh " gumam bili yang melihat ayura terbaring di sofa.


Angga melihat ke mana tatapan bili dan mengikutinya hingga sampai pada ayura yang sedang terbaring. Angga langsung menarik bili keluar ruangan tersebut.


"Bili.... kau tau tidak gegara kau tadi masuk tanpa permisi, aku dan ayura terjatuh dan yang lebih parahnya, ayura pindang kau tak menolongnya saat aku pergi untuk menelpon,!!! " angga nyerocos pada bili yang tak tahu apa-apa.


"Aduh.... berati gue tadi nabrak orang, tapi gue kira cuman bos aja yang gue tabrak.... " gumam nya dalam hati.


"Maaf tuan saya tadi tak melihatnya, maka dari saya juga langsung bergegas pergi dari tempat " ujar bili.


"Lalu bagai mana sekarang keadaan nona ayura???! " tanya bili yang sedikit khawatir.


"Untung saja tak ada yang membuatnya terluka parah, iya hanya mengalami memerlukan di bagaian kepala, karena terbentur lantai cukup keras " jawab nya dengan sedikit malas.


"Oh.... syukur lah kalo begitu " ucapnya lagi sembari ekpresi datar.


"Oh... iya bili kita harus kembali sekarang, ada sedikit malah di kantor. " ajak nya dengan mukanya yang masih tak senang.


Kini bili dan angga pergi dari rumah sakit untuk menuju ke kantornya kembali, karena ada sedikit permasalahan sedikit di sana, tapi mengharuskan angga datang karena sebagai direktur penanggung jawab.


"Tuan.... sepertinya ada sedikit keributan di kantor, karena Meri menelpon saya tadi yang menanyakan keberadaan kita, dan dia menyuruh kita untuk segara kemabli " ucap bili menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya.


"Ya saya tau tadi Meri juga menelpon saya, nenek lampir mereka. buat ulah di sana " ketus angga dengan malas.


"Nenek lampir....????? " tanya bili dengan penuh rasa penasaran dengan nama yang di sebutkan angga.


"Di sini bosnya aku tau kau???, banyak tanya cepat jalan kan saja mobilnya tak usah banyak bicara...!! " bentuknya yang sudah merasa sangat kesal, karena bili banyak bicara dan lagi masalah di kantor yang mana gabriel membuat masalah.


"Maaf tua... " jawab bili dengan merasa tak enak karena telah terlalu banyak bertanya.


Angga hanya diam tak menanggapi, iya menatap ke arah luar kaca mobil, yang mana terlihat sangat ramai di siang itu.


"Eh... bukanya itu anak sedang sama, yuda rekan bisnis ku lalu untuk apa iya merusuh di kantor????! " tiba-tiba pertanyaan itu berkelibat di pemikiran angga.

__ADS_1


Angga tak memperdulikan lagi pemikiran nya karena iya tak mau ambil pusing.


__ADS_2