Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 91


__ADS_3

Malam pun sudah tiba, kini ayura yang sudah bersiap untuk pergi ke acara amal, begitu juga dengan Aditia yang akan ikut serta ke acara tersebut, karena iya juga mendapat undangan.


Aditia yang sudah bersiap, dia duduk di kursi yang ada di teras rumah, untuk menunggu ayura.


"Kamu udah siap...? " tanya ayura.


"Eh... iya kak udah, kakak udah siap..? " tanya nya balik.


"Em.. yok kita berangkat, agar kita tak ke malam untuk nanti kembali " ajak nya sembari berjalan menuju mobil.


Aditia mengikuti sang kakak dari arah belakang, ayura masuk kedalam mobil nya sendiri begitu juga dengan Adit, mereka menggunakan mobil masing-masing.


Karena jalanan cukup senggang hingga membuat keduanya, sampai dengan cepat di lokasi acara, di sana juga sudah terlihat banyak tamu yang sudah pada tiba, dan ayura juga melihat tak jauh dari tempat mobil dia parkir, iya melihat sepasang kekasih yang lebih tepat nya sepasang suami istri, yang baru saja keluar dari satu mobil yang sama.


"Heh.... tumben akur...?, seperti nya sudah di akui..? " gumam nya sembari melepas sabuk pengaman.


'Tok... tok.. tok.. '


Ada tiga ketukan yang terdengar dari luar kaca mobil ayura, dan iya menoleh untuk melihat siapa.


"Kenapa...? " tanya ayura sambil iya membuka pintu.


"Kaka sedang apa kok lama sekali...? " tanya Adit, ternyata tadi adit lah yeng mengetuk kaca mobil ayura, iya melihat sang kakak yang sudah cukup lama namun tak keluar juga dari mobil.


"Sedang merapikan Make-up " jawab nya singkat.


"Oh ya udah... kalo gak ada masalah, Adit duluan ya kak...? " ujar Adit sembari berjalan terlebih dulu.


"Em." ayura merapikan rambutnya sebentar dan setalah itu baru lah berjalan untuk masuk.


Gabriel melihat ayura dari dekat arah pintu masuk, dia pun kuni melancarkan aksinya kepada sang suami.


"Bekerjasama lah jika ingin mendapatkan hasil sempurna, target ada di belakang " bisik nya ke telinga Angga.


Gabriel merangkul tangan Angga dengan posesif nya, dan Angga mengikuti alur yang di buat oleh sang istri, dia menggandeng tangan nya dan memperlakukan nya dengan lembut.


Sedangkan yang ingin mereka buat panas iya bersikap acuh tak acuh, sibuk dengan dunia nya sendiri.


"Selamat malam nona ayura....! " sapa salah satu tamu pada ayura.


Ayura menoleh untuk melihat siapa yang menyapa nya.


"Ya selamat malam... cih.... sok formal loe buldozer...?" ketus nya saat melihat siapa yang menyapa dia.


"Heheh... habis nya loe dari tadi sibuk mulu sama dunia loe sendiri sih...?, sampek gak merhatiin apa ada yang berbeda di sekitaran sini... ? " ucap nya sembari menunjuk seluruh ruangan tersebut.


"Gue lagi masih banyak kerjaan, ngapain merhatiin orang, " jawab nya sembari terus melihat ponsel nya .


"Kerjaan apa sih... oh iya yur, kalo gue gak salah inget adek loe dapat undangan kan..? " ujar nya lagi.


"Em... emang kenapa...? " tanya nya.


"Gak ada masalah kerjaan yang mau gue bahas, soal nya dia tadi belum melapor ke kantor " Dito berbicara sembari memerhatikan pasutri yang tak berada jauh dari nya .

__ADS_1


"Eh yur kayak nya Angga udah nerima istri nya ya...?, berati saingan gue dah gugur satu dong ya...? " celetul nya lagi.


"Saingan ....?, lah apa urusan nya sama Angga yang udah nerima istri nya...? " tanya ayura yang tak mengerti dengan alur pembicaraan Dito.


"Ish... itu loh yur masa kamu gak ngerasa gitu kalo, gue Bili sama Angga itu lagi ngejar loe gitu...? " celetuk dito menjawab kepolosan ayura tau iya hanya pura-pura tak tau.


Ayura meletakan kembali ponsel nya ke dalam tas nya dan melihat ke arah Angga yang sedang berbicara dengan tamu yang lain, dan di sana juga Gabriel masih bergelayutan di tangan Angga.


"Menurut gue sih biasa aja, dan bagus dong kalo tuan Angga mau menerima istri nya, dan wajar memperlakukan istri nya dengan baik, dan apa emang nya hak ku, untuk mengomentari. " jawab ayura dengan tatapan masih menatap ke arah Angga dan gabriel.


"Emh... ya gak ada sih, apa kamu gak merasa iri gitu, dan kesal...? kamu mempunyai anak dari Angga, namun Angga malah memilih wanita lain...? " celetuk dito.


"Ada dan pernah ada, rasa kesal dan marah itu pernah ada, tapi aku kembali sadar... toh sebelum aku tau kalo dia adalah ayah dari anak-anak ku, aku juga bisa bertahan hidup, kenapa setelah tau, aku harus merasa, tak bisa bertahan hidup, aib dan sebutan ala lah itu aku sudah biasa mendengar nya " ucap ayura panjang lebar dengan tatapan sendu.


Tak terasa kini hari sudah semakin larut, ayura juga merasa sudah cukup karena acara juga sudah akan selesai, dia memutuskan untuk pulang lebih awal, karena pembahasan nya dengan Dito tadi yang membuat suasana hati nya menjadi tak karuan.


Seperti nya rasa marah dan kesal saat melihat Angga bermesraan dengan wanita lain itu timbul begitu saja, apa lagi dia mengingat kejadian tadi pagi, yang masih bergulat dengan Angga namun kini malam nya melihat Angga dengan wanita lain.


"Ck.. kenapa aku kesal..?? toh apa hak mu ayura untuk marah,..? dari awal juga dia memeng bukan milik mu...? " ucap nya pada diri sendiri.


Ayura mengendari mobil nya ,yang ternyata bukan untuk pulang ke rumah, melainkan iya pergi ke bar tempat biasa nya iya dulu suka nongkrong bareng ayuna.


Ayura masuk ke dalam bar, dan iya melihat suasana di sana sangat rami.


"Em... seperti nya lagi banyak tamu yang datang. " gumam nya sembari masuk kedalam.


Ayura mencari tempat kosong , sebelum itu dia memesan minuman terlebih dahulu , suara musik berdentum di seisi ruangan tersebut, dan padat nya para tamu yang sedang berjoget, ayura hanya melihat nya dengan malas.


"Mau minum apa yur....?! " tanya bartender itu yang mengenal ayura.


"Tidak ada madam, udah satu minggu ini gak di tempat dia lagi ada perjalanan ke luar kota, emang kenapa yur...?, loe juga tumben datang kesini sambil bawa muka kusut gitu...? " ujar nya sembari menyiapkan minuman pesanan ayura .


"Gak biasa aja tuh, aku kesini lagi pengen aja, "


"Tumben banget dia keluar kota..? biasanya setahun sekali, terus itu juga gak pernah lama..? " umar ayura lagi yang sembari mengingat-ingat.


"Sekarang alhamdulilah bisnis lagi lancar yur, jadi madam suka sibuk jarang lagi datang turun ke sini " ujar rudi sembari menyodorkan gelas yang berisi minuman.


"Oh... "


"Mana minuman gue... cepet ..! " pinta nya sembari tatapan tetap ke arah keramaian.


Rudi menyodorkan gelas yang berisi minuman, dan melihat ke arah tatapan ayura, yang sedari tadi mengarah ke satu kursi yang tak terlalu jauh dari nya.


"Samperin aja yur, dari pada penasaran " seloroh rudi saat melihat siapa orang yang ayura lihat.


"Gak.... males, oh iya gue ke sana ya " nunjuk meja yang mengarah ke arah belakang.


"Em.... mau ngapain di sana sendiri, sepi jarang orang ke sana yur...? " ucap nya saat melihat tempat yang di tunjuk ayura.


"Emang itu yang gue cari... " ayura berjalan menuju ke tempat yang emang pengen iya datangin.


"Hais... kalo mau sepi ya di rumah sendiri, kalo datang ke sini ya mana tempat yang sepi, emang lah pusing nih anak satu " gumam rudi yang sedikit bingung dengan pemikiran ayura itu .

__ADS_1


Rudi kembali dengan aktivitas nya, begitu juga dengan ayura dia asik kembali dengan diri sendiri, tak peduli dengan suara musik yang terus, berdentum di gendang telinga, begitu juga dengan suara sorakan para tamu yang datang.


"Hai... boleh gabung....? " sapa seseorang pada ayura.


"🤨🤨... em"


"Kenapa hanya sendiri aja...?, apa kamu gak datang ke perjamuan...?, kenapa ada di sini...? " tanya pria itu.


"Apa urusan nya aku, ada disini atau ada di mana, memeng nya anda siapa saya...? " celetuk aturan.


"Heheh..... cuman bertanya saja " pria itu merasa canggung dengan jawaban ayura.


"Kau memang tak ada berubah ayura, selama kau masih dengan ku, dan sekarang sudah ku tinggal, kau masih tetap sama ketus nya " cetus pria itu mencairkan suasana.


"Heh.... memang aku ultramen yang bisa berubah, atau power rangers..? " celetuk ayura lagi.


"Hahah.... bisa saja, kau menjadi pahlawan super...? " pria itu kembali tertawa canggung.


"Cek... Yuda... Yuda.....! bukan kah kau, yang telah merubah ku menjadi seperti ini....?! " pungkas ayura dengan , malas.


"Hahahahaha..... kau itu... bukan kah itu berkah tersendiri buat loe kan, yang ternyata sekarang loe mempunyai keturunan anak orang kaya.. " balas Yuda.


Ayura tak lagi merespon perkataan Yuda dia, berjalan kembali masuk dan menghampiri, seseorang yang sedang duduk sendiri di meja yang agak jauh dari keramaian musik.


"Saya tak butuh penghibur....! " ucap pria itu tanpa melihat siapa yang duduk di kursi sebab nya.


"Saya di sini bukan untuk, menghibur... " celetuk ayura yang sedikit kesal.


Pria itu mengangkat kepalannya dan melihat ke arah, lawan bicaranya, dan dia terkejut saat melihat siapa yang berbicara dengan nya.


"Eh.. kamu di sini yur....? " tanya pria itu saat tau siapa orang tersebut.


"Em..... aku lagi bosen " jawab nya sembari menyimpan gelas yang dia pegang.


" Eh... baik lah, Mari kita minum bersama " pria itu menyodorkan botol minuman milik nya.


"Bil bagai mana kabar bibi dan paman...? apa mereka susah lebih baik lagi sekarang....? " ayura basa-basi.


"Ya ayah seperti itu lah tak ada perubahan yang berarti " bili menyesap gelas nya.


"Kalo ayah emang rak akan ada lagi perubahan yur, udah gak ada lagi kemungkinan untuk bisa bangun, untuk sekarang saja itu sudah sangat baik "


"Em... ya tapi jika paman mau terapi dari dulu mungkin, dari dulu paman bisa sembuh "


"Ya harus nya kalo dia mau, tapi sekarang sudah terlambat tak ada lagi, kemungkinan itu yur "


Kedua nya asik mengobrol, hingga tak sadar jika ada yang melihat mereka berdua dari arah meja bartender, dengan tatapan tajam, karena tak senang melihat interaksi keduanya yang sangat akrap dan cukup dekat.


Ayura dan Bili mengobrol dengan sebagai dan bahagia seperti taka ada beben pikiran di kepala keduanya, namun nyata nya di kepala kedua nya itu sedang banyak pikiran yang bergentayangan.


"Yur.... kamu seperti tak ada beban, sepertinya enek ya hidup seperti mu , oh iya seperti nya tadi kamu sedang berbincang dengan tuan yuda ya...? " ucap Bili sembari menggoyangkan anggur di dalam gelas nya.


"Hahaha.... kata siapa, beban ku itu lebih besar, tapi jika aku melihat kebahagiaan anak-anak itu akan menghilangkan semua beban " seloroh ayura yang sudah sedikit mabuk.

__ADS_1


"Semua manusia itu memiliki beban nya masing-masing, tapi bagaimana cara kita untuk mengatasi masalah itu sendiri maka tak akan terasa berat jika di jalaninya "


Ayura mengalihkan pandangan melihat ke arah tembok yang sangat polos.


__ADS_2