Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 23


__ADS_3

Angga dan bili terjebak macet yang cukup panjang, angga tak peduli iya memeng merasa senang jika iya rak perlu harus bertemu dengan gabriel nantinya.


"Tuan apa kah kita harus putar balik dan mencari jalan tikus ?? agar kita lebih cepat sampai kantor?? " tanya bili sebelum melakukan iya meminta pendapat terlebih dahulu.


"Tak usah.. " jawab nya dengan santai dengan tatapan yang masih tak teralihkan dengan tatapan nya keluar kaca mobil.


"Aneh yang biasanya dia selalu menekan ku untuk mencari jalan alternatif, agar segara sampai tapi kenapa kali ini iya sangat enggan " gerutu bili dalam hatinya banyak pertambangan yang aneh tentang tuan mudanya itu.


"Tak usah membatin, aku hanya enggan cepat sampai dan bertemu dengan si pengacau, aku hanya berharap iya akan bosan dan pergi dengan sendirinya, tak perlu harus aku yang turun tangan mengusirnya " celetuk nya seakan bisa membaca pikiran bili.


"Ehhh..... tuan anda dapat membaca apa yang sedang saya pikirkan, maaf tuan bukan niat saya untuk mempertanyakan anda " ujar bili yang merasa kikuk karena merasa pemikirannya di ketahui oleh angga.


"Aku hanya menebak, memeng kau sedang memekik ku apa???!! "tanya angga dengan penuh selidik.


" Ahhh... tak ada tuan maaf " bili menjadi merasa tak enak.



Sedangkan sekarang di kantor yang mana gabriel, sedang membuat semua karyawan di sana harus bekerja ekstra, karena iya nanya berkomentar.



"Hai kalian.... bukanya bekerja malah santai ...!!! " ujarnya pada karyawan yang sedang berbincang mengenai masalah pekerjaan.



"Maaf anda siapa di sini nona jangan sok mengatur anda di sini bukan atasan kami...??! " salah satu karyawan yang geram karena tingkah gabriel.



"Heh... kalian berani mempertanyakan aku siapa??? " tanya nya dengan galak.



"Aku disini adalah, calon nyonya direktur di masa depan, jadi kalian harus menurut apa yang aku katakan kalo tidak aku akan adukan kalian pada angga agar memecat kalian karena kerja tak becus "gertak nya dengan sombong seakan emang bener dia akan menjadi nyonya direktur .



" Baik nona "Mereka pun tak berani berkata lagi karena takut akan perkataan gabriel barusan untuk melaporkan nya pada atasan mereka dan mereka di pecat dari pekerjaan tersebut.



" Aduh.... kemana sih tuan angga kok belum sampai juga, gimana lagi bili ini katanya secepatnya akan sampai kesini, aku dah kesel nih "gerutu Meri sebagai sekertaris di sana kesal melihat tingkah gabriel namun iya juga tak berani membantah.



" Hei.... kamu kemari buatkan saya late jangan terlalu banyak gula dan jangan juga terlalu panas "gabriel menyuruh Meri untuk melayaninya.



" Maaf nona, sebaiknya anda suruh yang lain saja soalnya saya masih baru menyusun semua berkas untuk, rapat nanti " ujar Meri memberitahu .



"Tak usah banyak alasan cepat....!!! " gabriel tak mau tau iya tetap mau apa yang iya mau.



Meri dengan hati kesal mau tak mau harus menunda pekerjaan nya dahulu untuk melayani tuan putri nya tersebut.



Tak lama angga dan bili pun sampai di kantor, bili melihat semua karyawan terlihat lesu, dan dia juga melihat arloji nya yang mana sekarang sudah waktunya semua karyawan untuk makan siang tapi kenapa mereka masih pada sibuk bekerja.



"Tuan... " ujar bili namun langsung di potong oleh angga.



Angga melihat kerumunan orang di bagian ruang sekertaris.



"Kamu ini bagai mana sih saya kan minta itu bukan dingin, tapi jangan terlalu panas kenapa ini dingin sih...!!! dasar tak becus dalam melakukan hal sepele begini!!!! " maki gabriel pada Meri di depan banyak karyawan di sana.


__ADS_1


"Maaf nona tapi ini late nya hangat tidak dingin " bela Meri yang di perlakukan semena-mena.



"Kamu ya sudah tau salah masih saja mengelak!!!! " bentak nya lagi.



Gabriel melihat angga sedang berjalan ke arah situ, dia pun menarik tangan Meri dan memberikan gelas yang berisi late itu padanya dan dengan sengaja iya menumpahkan nya ke badannya.



"Aaaauuuuu......!!!! panas.... " rintihnya sembari memegangi tangannya yang terciprat.



"Ada apa ini?? kenapa pada berkumpul?? " tanya angga yang baru datang.



"Lihat ini loh angga karyawan kamu numpahin air panas ke badan ku...! " keluhnya dengan nada yang tertindas.



"Ti... tidak.. tuan.. itu ulah nona sendiri yang menarik tangan saya tuan" ujar Meri dengan rasa takut.



"Sayang... lihat orang itu sudah tau salah masih saja mengelak... " gabriel berlaku manja dan kasihan di hadapan angga.



Semua orang yang ada di sana merasa jijik dengan tingkah gabriel, dan kepada Meri yang ditindas olehnya.



Angga saat mendengar kata sayang dari mulut gabriel, dia menjadi merasa merinding dan muak, apa lagi sikap nya yang sok manja itu. Namun angga hanya diam dan menyaksikan saja.



"Meri dan kamu ikut keruangan saya " perintah angga pada keduanya, iya berjalan menuju ruangan nya.




"Kalian semua kembali kerja,dan ingat makan lah terlebih dahulu karena ini sudah mau berlalu waktu istirahat kalian " ujar bili membubarkan kerumunan dan menyuruh meraka untuk makan terlebih dahulu.



Semuanya bubar dan pergi untuk makan siang sejenak, karena cacing-cacing di perut meraka sudah berdemo sedari tadi minta di beri makanan.



Sedangkan kini mereka sudah ada di dalam ruangan angga, gabriel berjalan hendak menghampiri angga yang duduk di kursinya.



"Siapa yang menyuruhmu kemari kau di sana saja " ujar angga yang tak memberi muka pada gabriel di hadapan Meri.



"Tapi kan sayang... " keluhnya manja.



Angga hanya menatap nya dengan sinis dan dingin pada gabriel yang membuatnya, menjadi terdiam dan takut akan kemarahan angga.



"Nona saya tanya pada anda siapa yang menyuruh anda datang ke kantor saya dan mengacau hah...!!!?? " tanya angga dengan datarnya.



"Sayang aku akan tunangan kamu?? " ujarnya sembari memelas.


__ADS_1


"Sejak kapan saya menerima pertunangan itu, bukan kah kau sudah tau dengan jelas malam itu juga aku menolak bertunangan dengan kamu " jelas angga dengan jelas.



"Dan kamu Meri, apa kah sudah selesai menyusun berkas yang sudah saya suruh tadi???! " tanya angga pada Meri.



"Maaf tuan saya belum menyelesaikan nya" jawab Meri dengan rasa takut.



"Bukan kah aku sudah menyuruh mu untuk menyelesaikan nya, lalu kenapa jika belum selesai kamu malah melayani orang ini hah...??! " tanya angga yang mulai marah dengan pekerjaan Meri yang belum selesai.



"Maaf tuan, karena tadi nona ini mengaku sebagai tunangan anada, jadi saya harus dengan baik mengikuti perintahnya" jelas Meri dengan keadaan nya tadi.



Angga menatap ke arah gabriel yang telah tertunduk karena malu, telah di ungkap identitasnya dan deng jelas angga menolaknya di hadapan Meri karyawan angga.



"Ingat nona jika anda membuat perusahaan saya dalam rugi besar, saya akan mengakhiri kontrak kerja sama dengan perusahaan YD Kolgs.. " ucap angga dengan jambalang.



Gabriel terkejut iya berpikir apa lah angga telah mengetahui sesuatu atau telah di ketahui hubungan nya dengan Yuda,.



"Ap... apa hubungannya saya dengan YD Kolgs, jika kamu ingin memutuskan kontrak, itu tak akan merugikan saya " pungkas gabriel dengan membela diri dan mengalihkan agar tak di curigai oleh angga.



"Sudah lah aku tak perhitungan dengan mu, sebaiknya kau jangan berani lagi menginjakan kaki di sini..! pergilah " usir angga dengan dingin.



"Dan kamu Meri cepat kerjakan semua yang telah aku perintah kan padamu tadi..! " perintah angga pada Meri juga untuk keluar dari ruangan nya.



Gabriel keluar dengan muka kesalnya karena di permalukan, di depan Meri hanya seorang karyawan.



Sedangkan kini di rumah sakit yang mana ayura


baru saja tersadar dari pingsan nya, iya melihat ada suster yang sedang merawat putrinya.


"Eh... Sus... maaf ya udah ngerepotin suster " ujar ayura yang terbangun dan menghampiri.


"Gak.. papa bunda, dadi suami anda berpesan pada saya untuk menjaga kalian " ujar suster yang salah mengira jika angga adalah suaminya ayura.


Ayura hanya tersenyum sembari berpikir siapa yang di anggap suster tersebut bagai suaminya, Namun yang ada dipikiran ayura hanya terlintas nama angga saja.


"Apa kah dia si cowok nyebelin?! " tanya ayura dengan pelan.


"Ya sudah anda juga sudah sudah sadar saya pamit untuk, melanjutkan kerja, anda harus hati-hati bunda jangan sampai terjatuh lagi di lantai " ujar sang suster sembari berjalan keluar.


"Emh... iya baik Sus sekali lagi terimakasih " ucap ayura dengan merasa sungkan.


Suster pergi keluar untuk melakukan tugasnya kembali sedangkan ayura iya hanya duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur anaknya.


"Eh.. bukanya tadi aku sedang menggoda si bos songong ya, lah kenapa suster bilang aku pingsan, eh... tapi seingat baku pas terakhir kali sepertinya pintu ada yang membuka tanpa permisi, dan aku tertumbur keras selalu itu aku tak ingat apa pun " gumamnya sembari mengingat kejadian tadi.


"Aih..... siapa tadi yang begitu tak sopan asal masuk??! " pertanyaan itu berkelibat di benak ayura.


Ayura menatap anaknya yang terbaring dengan banyak nya selang yang berbelit di tubuh mungilnya tersebut, iya membayangkan andai nya ayah mereka ada sekarang mungkin dia tak akan sendiri, merasa sedih saat melihat anaknya yang terbaring lemah seperti itu.


"Sayang bunda tinggal sebentar untuk beli minum ya, kamu jangan nangis " hajar ayura sembari mengelus puncak kepala Galuh dengan lembut.


Ayura pergi keluar untuk mencari makan dan minum, karena iya merasa bosa di dalam. Saat sedang berjalan di lorong rumah sakit ayura tak sengaja melihat ayahnya sedang bersama seorang perempuan yang lebih muda darinya keluar dari ruang dokter kandungan.


"Apa kah mereka akan memiliki anak lagi??? " tanya ayura , namun iya tak mau untuk menghampiri mereka.

__ADS_1


Ayura terhenti dan terduduk di kursi duduk yang ada di setiap lorong tersebut, sembari tertunduk.


"Ibu.... apa kah ibu bahagia, bu ... ibu di sana tak usah merasa kesal atau marah ya, ini emang salah yura yang gak bisa menjaga ayah dengan baik, hingga dia bisa mencari wanita lain " ucap nya sembari tertunduk mengenang almarhum ibunya.


__ADS_2