
Gabriel sudah sampai di rumah sakit, dan kini iya sedang menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari ruangan, di mana ayura di rawat saat susah iya menanyakan nya pada resepsionis sebelum nya.
"Ruang reguler... nomor 205 ... " gumam nya sembari mengingat di mana ruangan itu, dan melihat setiap nomor pintu yang iya lewati.
"Seperti nya di depan sana... Kira-kira siapa yang menunggu dia ya..? " iya bertanya-tanya pada diri nya sendiri.. siapa yang ada di dalam ruangan ayura.
Saat gabriel sampai di depan pintu ruang rawat ayura, sebelum iya , masuk iya mengintip sebentar ke arah dalam melewati kaca yang tertera di pintu.
"Siapa pria.. itu...? seperti nya aku baru melihat nya.. tapi aku juga merasa tak asing seperti pernah bertemu " Gumam nya dalam hati saat iya melihat Adit yang ada di dalam ruangan tersebut.
Adit yang sadar jika ada orang di balik pintu, dia pun berjalan menuju pintu untuk melihat siapa, yang ada di balik pintu itu. Sedangkan gabriel hanya menjadi bengong akibat memikirkan siapa pria muda yang ada di dalam dan dimana iya pernah melihat nya sebelum ini.
"Permisi... ada yang bisa di bantu nona...?? " sapa seseorang dari balik pintu.
"Eh... tidak ada... " Gabriel terkejut saat melihat ada orang yang menyapa nya dari balik pintu yang kini sudah terbuka.
"Apa anda teman ayura...?? , jika ingin menjenguk masuk saja tak usah mengintip " ucap pria itu lagi yang membuat Gabriel merasa malu karena iya ketahuan mengintip.
"Heheh... tidak usah saya di sini saja.. bagai mana sekarang keadaan ayura..? " gabriel hanya tersenyum canggung dan dia pun hanya menanyakan keadaan ayura pada pria itu.
"Bener tak ingin masuk saja biar tau lebih lengkap nya keadaan dia ..? " tanya pria itu lagi..
"Iya tak usah.. "
"Keadaan nya masih sama kaya pertama kali.... masih belum sadar dari koma nya.. " jawab pria itu sembari menoleh ke arah belakang.
"Oh... separah itu kah... maaf aku baru tau setelah melihat berita.. oh iya kalo boleh tau jiga anda siapa nya ayura ya...?? soalnya saya baru melihat anda..? " tanya gabriel dengan penasaran .
"Iya.. bahkan ada beberapa tulang rusuk nus yang patah... dan ada kemungkinan dia juga mengalami kelumpuhan, oh iya tak apa nona,saya aditia adik ayura nona " jawab Adit menjelaskan dan menjawab pertanyaan gabriel.
"Em... ya sudah makasih ya.. aku juga lagi buru-buru maaf ya, bilang saja sama ayura maaf gak sempat lihat lain kali saja saya kesini lagi " ujar gabriel sembari tersenyum.
"Ah.. iya tak apa nona " jawab Adit dengan membalas tersenyum.
Gabriel pun melangkah pergi, meninggalkan ruang rawat inap ayura, saat sudah mendapat informasi tentang keadaan ayura dari Adit, adit hanya melihat sampai punggung wanita itu tak tampak lagi oleh nya, dan iya baru lah nampak ada kedua bocah yang berjalan dengan seorang wanita yang menggandeng mereka menuju ke tempat nya, yang tak lain adalah ayu dan kedua keponakan nya.
"Asalamualaikum paman..?? paman ada di sini juga ya..? " tanya gadis kecil itu saat melihat Adit yang berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam... iya sayang " jawab nya sembari berjongkok untuk menyetarakan tinggi badannya dengan bocah yang berusia lima tahun tersebut.
"Gimana dit...ada perkembangan...?? " tanya ayu.
"Masih sama kak... " jawab Adit sembari mendongak melihat ke arah ayu.
"Emh... ya sudah yok aji.. Galuh... kita masuk "ajak ayu pada kedua bocah itu.
" Ayok paman kita lihat teman mamah di dalam "ajak Galuh yang masih belum tau kalo bunda nya lah yang di dalam sana.
Saat aji dan Galih masuk kedalam ruangan mereka terkejut ternyata teman yang di maksud oleh, mamah nya adalah bunda mereka.
" Eh... mah.. bunda ke apa... kepa bunda banyak luka di badannya...?? "tanya Galuh saat melihat sang bunda yang terbaring tak sadarkan diri.
" Maaf sayang mamah baru kasih tau kalian.. kalo bunda kemaren siang mengalami kecelakaan mobil sayang.. maaf.. "ucap ayu dengan menunduk..
" Sudah mah... tak usah menyalahkan diri sendiri... kami tak apa kok... kami juga sudah tau... kalo bunda.. kecelakaan... kami melihat berita "ucap aji dengan muka polos nya.
" Iya sayang..."ayu mengusap lembut puncak kepala aji
"Hai... paman...apa paman tak merindukan aku si cantik ini " gadis kecil itu menghampiri adit.
"Oh tentu saja paman merindukan mu princess... " balas adit sembari memangku gadis kecil itu ke pangkuannya.
__ADS_1
"Tapi maaf sayang... paman harus segera kembali ke jakarta sekang..... maaf ya paman tak bisa bermain dengan kalian " ujar Adit sedikit enggan untuk pergi.
"Ok... paman.. " jawab gadis kecil itu dengan sedikit rasa kecewa.
"Paman setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya.. akan kembali ke sini sayang... nanti kita baru bermain ok " bujuk nya yang kasihan melihat keponakan nya itu.
"Kamu akan berangkat sekarang dit..? " tiba-tiba tanya ayu.
"Iya kak... aku sudah memesan tiket nya untuk penerbangan siang ini , karena sore ini akan ada pertemuan nya " jawab adit sembari menurunkan Galuh dari pangkuan nya.
"Ok... kamu hati-hati.. kami tak bisa mengantar... karena di sini ayura tak ada yang menjaga.. " ujar ayu... mengantar adit sampai depan rumah sakit.
"Iya kak tak apa.... bay... bay... keponakan paman yang tampan dan cantik... paman pergi dulu ya.. " ujar nya berpamitan sebelum adit benar-benar pergi dia sempat mencium teebih dahulu pipi kedua ponakan nya itu.
"Asalamualaikum "
"Waalaikumsalam"
Kini ketiganya menatap kepergian adita... sampai mobil yang di tumpangi nya tak tampak lagi oleh mereka, baru lah mereka masuk kembali untuk melihat ayura.
Tak lama saat ketiganya baru sampai di ruangan inap ayura, ada orang yang atang untuk berkunjung kesan.
"Asalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam... "
"Eh... paman dito....? " ucap Galuh saat melihat siapa yang datang.
"Hai... ada kalian juga ya.... " sapa nya sembari melambaikan tangan.
"Iya paman... kami mau temanin bunda di dini " ujar nya
"Eh... ayu bagai mana keadaan ayura...? apa sudah ada kemajuan..?? " tanya dito sembari melirik ke arah ayura yang masih terbaring.
"Hah.... kalian sudah pada makan belum...?? " tanya dito pada anak-anak.
"Em... belum paman.. " sambar Galuh yang padahal sebelum mereka ke rumah sakit.. ayu membawa mereka makan terlebih dahulu.
"Kalo begitu ayok ikut paman kita makan sayang " ajak nya sembari menggandeng tangan galuh.
Kini dito dan Galuh pergi keluar untuk mencari makan sedangkan aji yang tadi di ajak, namun iya memilih untuk tinggal karena malas untuk keluar, Pikir nya lebih baik iya menemani bunda nya saja bersama ayu.
Ayu tampak terlihat sedih saat melihat, ayura yang terbaring lemah tak berdaya... dan belum juga sadar dari koma nya, iya berpikir mungkin ayura sungguh sudah leleh dengan kehidupan... di dunia ini jadi iya lebih baik tertidur saja, dan tak usah memikirkan pikiran duniawi.
"Bunda... bagai mana kabar bunda... ini aji.. datang jenguk bunda..? apa bunda masih betah bobok nya... apa bunda gak mau main sama aji " aji mengajak ayura bicara saat ayu pergi ke kamar mandi.
"Bunda.. bangun ya.. aji janji aji gak bakal nakal lagi.. aji jiga bakal nurut omongan bunda, tapi bunda bangun ya dari bobok nya " ucapan gm aji yang terdengar ayu saat bari saja keluar dari kamar mandi.
"Yur... cepet sadar yur... kasian Anak-anak mereka butuh loe... " ucap nya lirih di dam hati sembari memandang punggung bocah berusia lima tahun itu.
Sedangkan evan yang masih ada di cafe dia, dengan cekatan, membersihkan semuanya karena, iya ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sang kaka. karena dari salam dia belum sempat menjenguk nya. Tapi sebelum itu iya pergi ke sebuah restoran untuk membeli makan, untuk iya bawa ke rumah sakit.
"Em.. bagai mana ya keadaan kak yura... apa dia udah baikan..? " gumam nya pelan sembari memandang makan dalam kantong plastik di tangan nya.
__ADS_1
Iya agak terlambat karena tadi di cafe sempat iya sedikit berdebat dengan bambang dan teman yang lain karena mereka menyusul ke sana saat sudah di beri tahu oleh bambang.
Iya menaiki sepeda motor nya, berbaur dengan kendaraan lain memecahkan kemacetan jalanan kala sore itu, tak berapa lama evan sampai di lobi rumah sakit, sebelum iya mencari kamar inap sang kakak , dia terlebih dulu menghubungi ayu, dia tak bertanya kepada resepsionis.
Dan tak lama ayu datang menghampiri evan yang sedang duduk di kursi tunggu lobi.
"Van.. ayok... " ajak ayu.
"Eh.... iya kak... " evan mengambil kantong plastik yang ada di kursi sebelah nya, dan berjalan mengikuti ayu.
"Kak... apa bang adit tau.. kalo kak yura kecelakaan..? " tanya evan sembari berjalan.
"Sudah... dia sudah tau... tapi dia masih ada pekerjaan, baru lah tadi siang dia berangkat lagi ke Jakarta " jawab ayu.
"Oh... emh..apa aji dan Galuh.... ada di sini..? " tanya evan lagi.
Ayu hanya menjawab dengan anggukan dan membuka pintu, avan masih mengekori ayu dari belakang, sampai sebelah matanya melihat ke arah ranjang pasien, dan di sana iya melihat wanita yang sedang terbaring belum sadarkan diri. Dan tampak juga kedua bocah kecil yang sedang terlelap tidur di sofa.
Evan menaruh makan yang iya bawa di atas meja dan kini iya berjalan menghampiri ranjang pasien.Evan menatap dengan lekat wanita yang sedang terbaring itu yang biasanya iya melihat wajah wanita itu selalu cantik dan segar untuk di pandang, namun berbeda dengan kali ini, iya tampak pucat... dan banyak luka di wajah... entah lah itu akan hilang atau akan membekas.
"Kak.... cepat pulih ya... maaf kalo evan banyak salah sama kakak...dan maaf juga evan baru sempat menjenguk kaka.. sekarang, " ucap nya dengan sendu dangan tatapan masih menatap ke arah wajah gadis itu.
"Paman evan.... sejak kapan paman di sini...?? " tanya gadis kecil itu saat bangun dan melihat evan yang duduk di sebelah ranjang pasien.
"😊😊Sudah setengah jam yang lalu sayang.... kalian lapar tidak...? tadi paman sebelum kesini sempat membeli makanan untuk kalian... "ujar nya sembari membalikan badan dan tersenyum lembut.
" Wah kebetulan sekali Galuh lapar paman.. 😁😁"jawab nya sambil nyengir.
"Kapan sih kamu tak lapar nya Galuh... setiap orang menawari makan pasti saja kau bilang lapar... " gerutu sangat adik.
"Hei... kalo ada rezeki itu jangan di tolak.... apa lagi kalo makan... sudah lah kalo kau tak mau tak usah makan " jawab nya ketus, sembari berkacak pinggang.
__ADS_1
Evan hanya tersenyum melihat tingkah kedua ponakan nya itu yang, terkadang terlihat tidak akur... namun jarang dan terasa aneh juga kalo meret aku dan diam-diam saja, tak berbuat ulah.