Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 32


__ADS_3

Kini ayura sudah sampai di kompleks perumahan yang telah iya pilih di online, di sana termasuk perumahan kelas alit juga dan untuk sekolah di sana sangat bagus terus tempat juga tidak terlalu jauh dari kantor, dengan ditempuh rumah kantor sekitar 30 menit saja.


"Nona ayura...?? " ujar perbendaharaan perumahan tersebut saat melihat ayura.


"Iya, bagai mana tuan apa, saya bisa melihat sekarang rumah uang saya tunjukan??? " tanya ayura.


"Bisa nona maris aya antar kan anda menuju rumah anda " ujar pria itu menuntun jalan pada ayura.


Ayura mengikuti pria itu untuk melihat rumah yang iya beli, ayura membeli rumah itu dengan menggunakan uang tabungannya yang dulu selama iya menjadi psk, dan tambahan dari iya selama beberapa tahun ini.


"Ini nona rahasia anda dan kapan saja sidah siap untuk di tempati, ini kami ada sedikit renovasi seperti yang Anda minta nona " ujar pria itu karena memang terlihat ada beberapa orang tukang yang sedang melakukan renovasi.


"Oh... baik sepertinya lusa saya baru akan pindah kesini tuan, saya sekarang datang hanya ingin tanda tangan dan mengambil sertifikat rumah ini saja " ujar ayura.


"Oh ok nona, kalo begitu besok kami akan dengan segera menyelesaikan renovasi nya "pria itu mengikuti ayura berkeliling melihat ke sekeliling rumah tersebut.


Tak teras hari pun sudah siang, ayura telah tandatangan di surat jual beli tanah dan telah mendapatkan sertifikat.


" Baik lah tuan, ini juga sudah siang saya harus segera kembali, terima kasih karena sudah menemani saya melihat-lihat "ucap ayura sembari menjulurkan tangannya.


" Iya nona sama-sama, dan Terima kasih juga anda telah percaya kepada kami untuk mencari hunian nona "pria itu menyambut uluran tangan ayura.


Kini ayura pergi dari ruangan perbendaharaan tersebut untuk kembali ke hotel tempat iya menginap, Ayura pergi dengan menggunakan mobil yang di berikan oleh pihak kantor pada ayura untuk memisahkan perjalanan ayura kemana pun nantinya.



Sedangkan di tempat angga yang mana dia sedang duduk di bangku taman belakang rumah nya dengan murung.



"Bikin kemana seharian ini kenapa dia tak ada datang...?? " gumam angga yang merasakan heran karena seharian bili tak ada datang.



Angga mengambil ponsel nya dan langsung mencari kontak bili untuk menelponnya dan menanyakan iya di mana.



"π™·πšŠπš•πš˜... πš”πšŠπšž πšπš’πš–πšŠπš—πšŠ??? "πšπšŠπš—πš’πšŠ πšŠπš—πšπšπšŠ 𝚜𝚊𝚊𝚝 πšπšŽπš•πš™πš˜πš— πšπšŽπš•πšŠπš‘ πšπšŽπš›πš‘πšžπš‹πšžπš—πš.



" 𝚈𝚊 πš‘πšŠπš•πš˜ 𝚝𝚞𝚊 𝚜𝚊𝚒𝚊 πšœπšŽπšπšŠπš—πš πš‹πšŽπš›πšŠπšπšŠ πšπš’ πš•πšžπšŠπš› πšπšžπšŠπš—, πšŠπš™πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πš’πšŠπš—πš 𝚜𝚊𝚒𝚊 πš‹πšŠπš—πšπšž...?? "πš“πšŠπš πšŠπš‹πšŠπš— πšπšŠπš›πš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.



" πš‚πšŽπšπšŠπš—πš πšŠπš™πšŠ πš”πšŠπšž πšπš’ πš•πšžπšŠπš›??? "πš„πš“πšŠπš› πšŠπš—πšπšπšŠ πš’πšŠπš—πš πš™πšŽπš—πšŠπšœπšŠπš›πšŠπš—.



" πš‚πšŠπš’πšŠ πšœπšŽπšπšŠπš—πš πš‹πšŽπš›πš“πšŠπš•πšŠπš—-πš“πšŠπš•πšŠπš— πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš”πšŽπšπšžπšŠ πšŠπš—πšŠπš” πš—πš˜πš—πšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ πšπšžπšŠπš— "πš“πšŠπš πšŠπš‹ πš‹πš’πš•πš’ πš™πš˜πš•πš˜πšœ.



π™°πš—πšπšπšŠ πšπšŽπš›πšπš’πšŠπš– 𝚜𝚊𝚊𝚝 πš–πšŽπš—πšπšŽπš—πšπšŠπš› πšŠπš—πšŠπš”, πšœπšŽπš‹πšŠπš‹ πš—πš’πšŠ πšπšŽπš›πšŠπš”πš‘πš’πš› πš”πšŠπš•πš’ πšŠπš—πšπšπšŠ πš–πšŽπš•πš’πš‘πšŠπš πšŠπš—πšŠπš” πš—πš’πšŠ 𝚜𝚊𝚊𝚝 πš’πšπšž πšπš’ πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšœπšŠπš”πš’πš πšœπšŽπšπšŠπš•πšŠπš‘ πš’πšπšž πšπšŠπš” πš™πšŽπš›πš—πšŠπš‘ πš•πšŠπšπš’ πš–πšŽπš•πš’πš‘πšŠπš πš–πšŽπš›πšŠπš”πšŠ.



" π™ΊπšŠπšž πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš πšπš’ πš–πšŠπš—πšŠ πšŠπš”πšž πšŠπš”πšŠπš— πš”πšŽ πšœπšŠπš—πšŠ...??! "πšŠπš—πšπšπšŠ πš‹πšŽπš›πšπšŽπšπšŠπšœ πš–πšŠπšœπšžπš” πš”πšŽπšπšŠπš•πšŠπš– πšžπš—πšπšžπš” πš–πšŽπš—πšπšŠπš–πš‹πš’πš• πš”πšžπš—πšŒπš’ πš–πš˜πš‹πš’πš•.



" πš‚πšŠπš’πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πšπš’ πšπšŠπš–πšŠπš— πšπšŽπš”πšŠπš πš‘πš˜πšπšŽπš• 𝚠𝚝 πšπšŽπš–πš™πšŠπš πš”πš’πšπšŠ πš”πšŽπš–πšŠπš›πš’πš— πš‹πšŽπš›πšπšŽπš–πšž πš—πš˜πš—πšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ πšπšžπšŠπš— " πš“πšŠπš πšŠπš‹ πš‹πš’πš•πš’ πš–πšŽπš–πš‹πšŽπš›πš’ πšπšŠπš‘πšžπš”πšŠπš— πšŠπš•πšŠπš–πšπšŠπš—πš’πšŠ.



Angga langsung mematikan sambungan telpon, langsung menaiki mobil sport miliknya yang berwarna hitam untuk menuju ke tempat yang sudah di sebutkan oleh bili tadi, ada rasa gembira di dalam hatinya untuk bertemu dengan sang buah hati nya yang telah lama iya tak melihatnya.



"Sayang... ayah kangen, akhirnya ayah akan melihat kalian lagi nak " gumam angga sembari menyetir di keramaian hari itu.



Namun angga tak butuh waktu lama dapat lolos dari ke macetan kota bandung tersebut, kini iya sudah sampai di taman yang mana bili dan kedua anak nya yang sedang bermain.



"Anak-anak ini paman belikan kalian es krim "ucap bili dengan es krim di kedua tangannya.



" Wah.... aku mau paman "Galuh langsung menghampiri bili.



" Iya ini punya Galuh, dan yang ini punya aji, dan ini untuk mu nona "bili cukup adil membelikan semuanya es krim.



" Terima kasih tuan πŸ™‚πŸ™‚"ucap Mia sembari menerima es krim dari tangan bili.



Angga yang sudah melihat keberadaan mereka langsung menghampiri mereka yang sudah seperti keluarga bahagia.



"Anak ku....??? kalian ternyata sudah tumbuh besar nak...? " gumam angga dalam hati dengan senang.



"Tuan angga anda juga di sini...?? " tanya Mia yang terlebih dahulu melihat keberadaan angga.



"Saiap tante...?? " tanya aji yang penasaran.



"Ini tuan angga sayang dia tuan muda keluarga wiranto, pemilik hotel tempat kita menginap " jawab Mia pada aji.



Aji melihat ke arah angga dari bawah hingga atas, sejenak aji terdiam saat melihat wajah angga yang iya rasa familiar baginya.



"Hai sayang kenalin.... " sapa angga pada aji tapi iya bingung harus memperkenalkan dia sebagi siapa.



"Tuan... anda sudah sampai " ujar bili yang baru tersadar.



"Emh... " Jawabnya singkat.



"Hah... kenapa wajah paman ini mirip dengan wajah ku saat aku bercermin ya??? " ucap aji dalam hatinya bertanya saat melihat wajah angga.



"Paman... saya boleh berbicara sebentar...?? " ujar aji berbicara pada angga.


__ADS_1


"Saya....??? " tanya angga sembari menunjuk dirinya sendiri.



Aji mengangguk mengiyakan lalu berjalan agak menjauh dari yang lain .



"Iya nak apa yang ingin di bicarakan??? " tanya angga yang merasa senang bosa berbicara dengan putranya.



"Tidak ada aku hanya ingin melihat muka anda, saya mengira anda mirip seseorang orang, sudah lah aku leleh bilang pada yang lain aku kembali ke hotel " ujar aji dengan acuh dan berlalu meninggalkan angga yang masih merasa tak percaya iya di acuhkan begitu saja oleh anak nya.



Saat aji sudah menjauh angga baru lah sadar dan iya pun memutar badannya untuk kembali kepada yang lain.



"Ehhh.... anak itu... dingin sekali mirip siapa??? " gumam angga.



"Paman adik saya mana??? bukanya tadi pergi dengan anda...? " tanya Galuh yang tak melihat aji kembali dengan angga.



"Aa... emh.. dia sudah terlebih dulu kembali ke hotel katanya iya lelah" jawab angga dengan sedikit gugup.



Bili yang melihat raut wajah angga yang merasa sedikit kecewa karena di panggil paman oleh anak nya sendiri.


Bili berjongkok di hadapan Galuh sembari memegangi bahu kecilnya.



"Sayang mau tau satu rahasia gak...?? " tanya bili pada Galuh



Mia yang mendengar jika aji kembali terlebih dulu ke hotel dia pun menyusulnya dan Galuh yang masih ingin bermain iya titip kan pada bili dan angga.



"Rahasia apa paman??? " tanya Galuh dengan mata yang penasaran.



"Begini paman kasih tau satu rahasia ya, jika paman ini adalah ayah kalian sayang " ujar bili memberi tahu kan.



"Benarkah... paman jangan bohong bunda bilang ayah kami sedang merantau jauh dan tak pernah sempat untuk pulang, jika memeng paman ini ayah ku lalu kenapa tak mengenali aku putrinya??? " tanya Galuh dengan wajah yang berubah tak percaya dan ada rasa kecewa.



"Sayang ayah buka tak ingat sama kalian, tapi ayah canggung saat melihat kalian, selama ini ayah ada di sini nak, lima tahun lalu ayah mau ajak bunda sama kalian untuk hidup bersama, tapi tiba-tiba bunda menghilang sayang , ayah udah cari tapi gak menemukan kalian, sampai kemaren ayah bertemu bunda di restoran hotel.


" Jelas angga dengan air mata di pipinya sembari memeluk sangat putri.



Galuh hanya diam, tak merespon perlahan iya merasakan hangatnya pelukan sangat ayah, dia juga memang tak membenci sangat ayah namun iya belum terbiasa.



Saat sedang adegan seperti itu ayura yang sudah kembali dan tahu kalo putrinya di titipkan pada bili dan angga ayura langsung bergegas menuju ke taman tersebut.




"Galuh..... " Ayura memanggil sangat putri yang masih ada dalam pelukan sang ayah.



Keduanya mendengar suara ayura langsung melepas pelukan nya dan melihat ayura.



"Bunda.... bunda apa benar paman ini adalah ayah...?? " tanya sang putri dengan polos pada ayura.



Ayura bingung harus Jawab apa jika di jawab bukan tapi dia memeng ayahnya, jika di jawab iya takutnya iya ikut dengan angga dan dia akan kehilangan putrinya itu.



"Sayang kamu sudah makan..?? " ayura mengalihkan pertanyaan sang putri.



"Ih... bunda kan Galuh nanya, bunda kok nanya balik sih...!!! " desis gadis kecil itu sembari menghentikan kakinya ke tanah.



"Ayura.... kenapa kau tak menjawab nya, bukan kah kau juga tau jika aku memeng ayah nya kenapa yur.....???? kenapa kau tak memberi tahunya ...?? " ujar angga yang meminta di akui statusnya sebagai ayah dari anak nya.



"Maaf tuan saya harus m ngajak anak saya, kembali ini sudah siang waktunya untuk iya tidur siang " ujar ayura dingin sembari berlaku dan mengendong Galuh.



"Ayura........??!!!!!! berhenti di sana......!!!!! " angga yang mulai terbawa amarah dia pun berteriak pada ayura.



Ayura terkejut dan berhenti dan menoleh dengan muka kesalnya pada angga.



"Sampai kapan pun aku tak akan membiarkan mereka kau ambil begitu saja tuan, meski anda memang ayah dari mereka.... ..!!! " ucap ayura dengan dingin dan berlalu pergi.



"Bunda jadi benar dia ayah kami??? " tanya Galuh lagi yang kini ada di pangkuannya.



Ayura hanya diam tak menjawab pertanyaan gadis kecilnya itu dia terus berjalan ke arah hotel.



Bili yang baru saja kembali yang entah dari mana dia mencari keberadaan Galuh iya juga melihat angga yang sedang emosi terduduk di bangku taman.



"Tuan di mana nona muda??? " tanya bikinyang tak tahu apa-apa.



"Ayura telah membawanya " Jawab angga singkat.


__ADS_1


Dia hanya menatap langit siang itu, dan berpikir bagai mana caranya agar ayura mau mengakui jika dia adalah ayah dan memberi tahu kebenarannya pada kedua anak nya itu.



Kini ayura yang sudah berada di kamar hotel nya menurunkan Galuh dari pangkuannya, iya melihat putranya yang sedang tertidur lelap.



"Bunda jawab dulu pertanyaan Galuh tadi bunda, benarkan tadi itu adalah ayah kami...?? " tanya Galuh untuk kesekian kalinya pada ayura.



Ayura kesal karena mendengar pertanyaan yang sama sedari tadi yang ditanyakan putrinya pada dia.



"Jika iya memang kenapa .....!!! " bentak ayura pada Galuh.



Galuh terkejut karena baru pertama kalinya iya di bentak oleh ayura, Galuh terdiam dan berjalan ke arah aji yang sedang tertidur.


Ayura sadar jika iya baru saja membentak anak nya tersebut, pastikan dia terkejut ayura menghampiri putrinya itu yang bersembunyi di bawah selimut.



"Sayang..... maafin bunda sayang...??? bunda gak ada maksud buat bentak kamu sayang " bujuk ayura pada Galuh yang meraja menyesal telah membentak nya .



"Bunda jahat.... bunda bentak Galuh.... Galuh gak mau Galuh mau sama ayah saja... " ucap nya lirih di balik selimut.



"Sayang maafin bunda ya... bunda gak sengaja sayang, bunda tadi lagi banyak pikiran jadi gak sengaja bentak kamu nak " Ayura terus membujuk Galuh yang ketakutan.



"Ya udah kalo Galuh gak mau bicara sama bunda, bunda sedih bunda pergi aja lah nanti biar kalian di bawa ayah kalian saja, bunda gak bakal ganggu kalian lagi " Ujar ayura dengan sendu sembari beranjak dari tempat tidur ayura.



"Bun..... bunda... " Ucap lirih anak nya memanggil ayura.



Ayura berhenti dan menoleh ke arah Galuh dengan raut wajah sedihnya.



"Bunda panggil ayah kalian buat jaga kalian, maaf sayang selama ini mungkin kalian gak bahagia sama bunda " Ayura hanya diam tak menghampiri setelah mengucap kan perkataannya ayura pergi keluar kamar.



Galuh merasa bersalah telah membuat ayura menangis, dan pergi dari situ tapi iya juga ada rasa takut saat melihat ayura, karena iya tadi melihat wajah ayura yang sedang marah,jadi iya hanya diam saja di tempat tidur sambil melihat ayura pergi.



Ayura terdiam di depan pintu kamar hotel nya dan terduduk lemas sembari berlinang air, karena merasa menyesal telah membentak putrinya tersebut.



Bili yang baru saja datang untuk mencari ayura dia melihat ayura yang sedang terduduk langsung bergegas menghampirinya.



"Nona ayura....?? " panggil bili.



Ayura yang ngeh siapa yang memanggil nya iya pun dengan cepat menyeka air matanya.



"Ada apa tuan?? " tanya ayura dengan acuh.



"Anda sedang apa disini.??? " tanya bili.



"Bukan urusan Anda, jika ingin membahas hal yang terjadi tadi malam , itu tak usah di bahas sudah anggap saja angin lalu " ujar ayura sembari membuka berlalu pergi meninggalkan bili.



Bili bingung dengan ucapan ayura dia pun mengikuti ayura pergi kemana.



"Untuk apa anda mengikuti saya...? " tanya ayura yang sadar sedari tadi di ikuti oleh bili.



"Takut nya anda akan seperti tadi malam nona, mabuk akan bahaya jika anda sendiri " ujar bili.



"Tak usah mengikuti ku....!!! jika tidak kita juga tak usah bertemu lagi " ujar ayura yang masih dalam emosinya.



Bili terdiam tak mengikutinya lagi iya hanya melihat ayura dari kejauhan.


Ayura menghampiri pria muda di depan hotel yang membuat bili bertanya pada dirinya sendiri siapa pria itu hingga memeluk ayura



"Siapa pria itu....?? " tanya bili namun iya tak berani mendekat karena perkataan ayura padanya tadi.



"Kak... kenapa..???!! apa kakak.. habis menangis lalu kemana keponakan ku yang imut itu...??? " ternyata radit yang di temui ayura di depan hotel, iya menyusul kakak nya ke Bandung karena iya kangen dengan keponakanya padahal belum lama.



"Tidak.... kakak. hanya kurang tidur saja, mereka sedang tidur siang di kamar. oh iya besok sepertinya kita akan pindah ke rumah yang kakak beli, tadinya mau lusa tapi sebaiknya besok saja lah kau bantu kakak" ujar ayura.



"Ok.... kurang tidur kok sembab jujur aja kali kak?? " ujar radit yang mendesak kakak nya.



"Nanti kakak ceritakan tak enak jika di sini " sahut ayura sembari menggandeng tangan adiknya itu.



"Eh... bukanya kamu mau satu minggu di palembang lah ini kan bari dua hari kok udah nyusul aja??? " tanya ayura yang teringat akan ucapan sang adik beberapa hari lalu.



"Heheh.... gak betah gak ada mereka mah " ucap radit sembari cengegesan.



Keduanya menaiki lift yang masih di ikuti sedari jauh oleh bili, karena iya penasaran siapa pria muda itu.

__ADS_1


__ADS_2