Dia Alasan Aku Berubah

Dia Alasan Aku Berubah
Episode 35


__ADS_3

Jadilah ayah dan anak itu makan di pinggiran jalan tapi menurut kedua anak itu tempat itu lebih nyaman dan enak untuk makan.


"Sayang kenapa kalian malah memilih tempat ini dari pada restoran mewah tadi...?? " tanya angga yang penasaran.


"Di sini lebih nyaman ayah " jawab singkat gadis kecilnya.


"Sedang makan tak usah bicara makan lah dengan tenang " ujar aji menegur keduanya.


"Iya sayang maaf kan ayah " ujar angga yang menurut pada perkataan anak nya.


Kini hanya lah ke heningan tanpa ada suara dari ketiganya hanya terdengar sendok dan piring yang berdenting beradu. Tak lama mereka pun selesai dengan sarapan nya.


"Ini sangat enak sekali bukan aji...?? kita sudah lama tak makan seperti ini dengan bunda ya kan?? " ujar Galuh sembari mengusap perutnya.


"Hem... " Jawab aji singkat.


Di saat sedang asik berbincang ponsel angga tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk padanya saat angga melihat ternyata itu bili yang menelpon.


"π™ΊπšŠπšπšŠπš”πšŠπš—....???! " πšžπš“πšŠπš› πšŠπš—πšπšπšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— 𝚝𝚎𝚐𝚊𝚜.


"πšƒπšžπšŠπš— πšŠπš—πšπšŠ πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš”πšŽπš”πšŠπš—πšπš˜πš› πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš πš”πšŠπš›πšŽπš—πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πšœπšŽπšπš’πš”πš’πš πš™πšŽπš”πšŽπš›πš“πšŠπšŠπš— πš’πšŠπš—πš πš‘πšŠπš›πšžπšœ πšŠπš—πšπšŠ πš”πšŽπš›πš“πšŠπš”πšŠπš— 𝚝𝚞𝚊..? " πšžπš“πšŠπš› πš‹πš’πš•πš’ πšπš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš—.


"𝚈𝚊 πšŠπš”πšž πš”πšŽ πšœπšŠπš—πšŠ πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš " πšŠπš—πšπšπšŠ πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš πš–πšŽπš–πšŠπšπš’πš”πšŠπš— πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŽπš•πš™πš˜πš— πš—πš’πšŠ .


"Ada apa ayah...???? " tanya Galuh


"Ayah harus kembali kekantor sayang, bagai mana kalo jalan-jalan nya jika hari libur clsaja ayah janji " ujar angga.


"Oh... baik lah tak masalah, tapi kami boleh kan ikut ayah ke kantor soalnya kan kita juga gak mungkin kembali ke hotel bosen di sana ayah, dan di sana juga tak ada siapa-siapa " ujar Galuh yang sedikit kecewa namu ya dia bersikap biasa saja.


"Bagai mana dengan kamu boy mau ikut...??? " tanya angga yang melihat aji sedari tadi diam dan memainkan ponsel di tangannya.


"Aku ikut saja .. " jawab naya singkat.


"Ya sudah ayok kita baik ke mobil dan berangkat... " seru angga sembari menggandeng kedua anak nya menuju ke arah mobil yang ada di sebrang jalan.


Berbeda dengan ayura yang kini sedang ada di kantornya bersama Mia yang sedang di sibuk kan dengan pekerjaan mereka hari ini.



"Mia... kamu tolong saya periksa ini, jika nanti sudah selsai kamu berikan pada saya " ujar ayura memberikan beberapa berkas untuk di perbaiki oleh Mia.



"Baik yur simpan aja dulu di sini nanti aku kerjakan, ini tanggung sedikit lagi " ujar Mia iya yang masih sibuk dengan laptop nya.



"Emh... oh iya aku selesai kerjaan ini masih ada pekerjaan apa lagi Mia...?? " tanya ayura sekali gus menanyakan kerjaan nya apada Mia.



"Sepertinya anda harus rapat di jam 13:45 dengan perusahaan milik keluarga malik, setelah itu anda juga masih harus bertemu klien dari Asia . " Mia menjelaskan semua pekerjaan yang harus iya kerjakan kali ini.



"Oh baik lah kalo begitu saya harus kembali " ayura kembali ke ruangannya dan menelpon putra nya untuk memberitahukan pada nak nya jika iya tak bisa pulang siang ini untuk pindah rumah.



Telepon terhubung namun masih belum ada jawaban dari orang yang di panggil.



"Kok... gak di angkat sih dia membawa anak-anak kemana sebenarnya...??! " gerutunya karena telponnya tak di angkat oleh sang putra.



Ayura terus mencoba menelpon lagi ke telpon milik putra dan putrinya namun masih saja tak ada jawaban, dia pun langsung menghubungi ke kontak milik angga, namun sama tak ada respon, sudah kehabisan kesabaran ayura merasa kesal dia menggerutu sendiri , dan iya pun baru teringat dengan bili iya pun langsung menghubunginya.



"π™·πšŠπš•πš˜.... πšŠπšœπšŠπš•πšŠπš–πšžπšŠπš•πšŠπš’πš”πšžπš–... " πšœπšŠπš‘πšžπš πšπšŠπš›πš’ πšœπšŽπš‹πš›πšŠπš—πš πšπšŽπš•πš™πš˜πš— πšπšŽπš—πšπšŠπš— πšœπš˜πš™πšŠπš— πšπšŠπš— πš–πšŽπš—πšπšžπšŒπšŠπš™ πš”πšŠπš— πšœπšŠπš•πšŠπš–.



"πš†πšŠπšŠπš•πšŠπš’πš”πšžπš–πšœπšŠπš•πšŠπš–... πšπšžπšŠπš— πšŠπš™πšŠ πšŠπš—πšπšŠ πšπšŠπš‘πšž πš”πšŽπš‹πšŠπš›πšŠπšπšŠπšŠπš— πšπšžπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ πšπš’πš–πšŠπš—πšŠ??? " πšžπš“πšŠπš› πšŠπš’πšžπš›πšŠ πš–πšŽπš—πš“πšŠπš πšŠπš‹ πšœπšŠπš•πšŠπš– πšπšŠπš— πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš πš–πšŽπš—πšŠπš—πš’πšŠπš”πšŠπš— πš”πšŽπš‹πšŽπš›πšŠπšπšŠπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ.



"πšƒπšžπšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ πšœπšŽπšπšŠπš—πš πš›πšŠπš™πšŠπš πš’πšžπš›... πš–πšŽπš–πšŠπš—πš 𝚊𝚍𝚊 πšŠπš™πšŠ...? " πšπšŠπš—πš’πšŠ πš‹πš’πš•πš’ πš’πšŠπš—πš πš™πšŽπš—πšŠπšœπšŠπš›πšŠπš— πš”πšŽπš—πšŠπš™πšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ πš–πšŽπš—πšŽπš•πš™πš˜πš— πšžπš—πšπšžπš” πš–πšŽπš—πš’πšŠπšπšŠπš”πšŠπš— πšŠπš—πšπšπšŠ πš™πšŠπšπšŠπš—πš’πšŠ.



"π™³πšŠπš— πšŠπš—πšŠπš”-πšŠπš—πšŠπš” πš”πšž πšπš’πš–πšŠπš—πšŠ πšŠπš™πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πš‹πšŽπš›πšœπšŠπš–πšŠ πšπš’πšŠ..??? " πšžπš“πšŠπš› πšŠπš’πšžπš›πšŠ πš•πšŠπšπš’


__ADS_1


"π™Ύπš‘ πšŠπš—πšŠπš”-πšŠπš—πšŠπš” 𝚊𝚍𝚊 πšπš’πšŠ πšœπšŽπšπšŠπš—πš πšπšŽπš›πšπš’πšπšžπš› πšπš’ πš›πšžπšŠπš—πš πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πš™πš›πš’πš‹πšŠπšπš’ πš–πš’πš•πš’πš” π™Ώπš›πšŽπšœπšπš’πš› πš’πšžπš›... 𝚊𝚍𝚊 πšŠπš™πšŠ??? " πš“πšŠπš πšŠπš‹ πš‹πš’πš•πš’ πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšπšŠπš—πš’πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πšŠπš™πšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ πš–πšŽπš—πšŠπš—πš’πšŠπš”πšŠπš— πš™πš›πš’πš‘πšŠπš• πšŠπš—πšŠπš”-πšŠπš—πšŠπš”.



"πšƒπš’πšπšŠπš” πšŠπš”πšž πš‘πšŠπš—πš’πšŠ πš’πš—πšπš’πš— πš–πšŽπš—πš’πšŠπš–πš™πšŠπš’πš”πšŠπš— πš™πšŠπšπšŠ πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ πšŠπš”πšž πšπšŠπš” πš‹πš’πšœπšŠ πš™πšžπš•πšŠπš—πš πšŒπšŽπš™πšŠπš πš”πšŠπš•πš’ πš’πš—πš’ πš”πšŠπš›πšŽπš—πšŠ πš–πšŠπšœπš’πš‘ πš‹πšŠπš—πš’πšŠπš” πš™πšŽπš”πšŽπš›πš“πšŠπšŠπš— , πšπšŠπš— πš”πšŠπšπšŠπš”πšŠπš— πš™πšŠπšπšŠπš—πš’πšŠ πš”πš’πšπšŠ πšπšŠπš” πš“πšŠπšπš’ πš™πš’πš—πšπšŠπš‘ πš”πšŽ πš›πšžπš–πšŠπš‘ πš‹πšŠπš›πšž πš‘πšŠπš›πš’ πš’πš—πš’ " πšžπš“πšŠπš› πšŠπš’πšžπš›πšŠ



"π™Ύπš‘... πš‹πšŠπš’πš” πš•πšŠπš‘ πš—πšŠπš—πšπš’ πšŠπš”πšŠπš— πšŠπš”πšž πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πš”πšŠπš— πš™πšŠπšπšŠ πš–πšŽπš›πšŽπš”πšŠ " πš“πšŠπš πšŠπš‹ πš‹πš’πš•πš’.



"π™Ύπš” πšπš›πš’πš–πšŠπš”πšŠπšœπš’πš‘, πš”πšŠπš•πš˜ πš‹πšŽπšπš’πšπšž πšŠπš”πšž πšπšžπšπšžπš™ πšπšžπš•πšž πšπšŽπš•πš™πš˜πš—πš—πš’πšŠ πšŠπš”πšž πš–πšŠπšœπš’πš‘ 𝚊𝚍𝚊 πš™πšŽπš”πšŽπš›πš“πšŠπšŠπš— " πšžπš“πšŠπš› πšŠπš’πšžπš›πšŠ πšπšŠπš—πš™πšŠ πš–πšŽπš—πšžπš—πšπšπšž πš“πšŠπš πšŠπš‹πšŠπš— πš‹πš’πš•πš’ πš’πš’πšŠ πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš πš–πšŽπš–πšŠπšπš’πš”πšŠπš— πšπšŽπš•πš™πš˜πš— πš—πš’πšŠ .



Ayura kembali mengerjakan semua pekerjaannya yang masih menumpuk di meja nya.



'Tok.... tok... tok... tok... tok... '



Suara ketukan di balik pintu membuat ayura menghentikan pekerjaannya sejenak dan melihat ke arah pintu.



"Masuk....!!! " ujar ayura menyuruh orang yang ada di luar untuk masuk.



"Permisi... ini yur berkas yang kami suruh akau perbaiki tadi udah di perbaiki, di situ gak ada yang salah juga sih hanya ada beberapa aja aku tambah dan kurangi aja dari setiap kalimat dan penataan kata-kata nya. "ujar Mia mengenai berkas yang ayura berikan padanya tadi.



" Oh... bagus lah kalo begitu, kamu boleh istirahat dulu ini juga waktunya makan siang aku juga akan makan siang terlebih dahulu baru kita pergi menuju pertemuan yang sudah terjadwal "ujar ayura mempersilahkan Mia untuk makan siang terlebih dahulu.



Mia mengangguk dan iya melangkah pergi keluar begitu juga ayura iya mematikan komputer nya terlebih dahulu, dan beranjak pergi keluar untuk makan siang di sekitaran kantornya.



" Bagai mana ya anak-anak apa sudah makan..?? "tanya ayura pada dirinya sendiri.



Aji terbangun dan melihat ke sekitar dan jam yang ada di dinding ruangan tersebut di sana ternyata jam sudah menunjukan pukul 14:56 aji bangun dan mencari kamar mandi untuk membasuh muka nya.


"Hais..... kenapa aku bisa tertidur pulas.... " Dengus aji merasa kesal sendiri iya pun mengambil ponselnya dan terkejut nya iya melihat banyak panggilan dari bundanya yang tak terjawab.


"Ada apa bunda menelpon??? ini pasti bunda mencari kita " aji kembali menelpon bundanya namun tak ada jawaban.


"Kenapa bunda tak menjawab naya apa dia sedang sibuk...?? " tanya nya pada ponsel yang iya pegang.


Aji melirik ke arah tempat tidur kakak dan ayah nya yang masih tertidur pulas . Aji menghampiri angga yang tidur pemeluk putrinya itu.


"Ayah... bangun lah ini sudah hendak sore aku lapar... " ujar aji sembari mengguncang tubuh angga pelan.


"Emhhh.... " Angga terganggu dan iya mengerjapkan matanya dan melihat ke arah belakang nya.


"Eh... ada apa sayang...??? " tanya angga dengan suara khas bangun tidur nya pada aji.


"Aku lapar... " jawab aji.


Angga langsung terperanjak dari tidur nya bangun duduk di tepi tempat tidur.


"Maaf sayang tadi ayah tak tega membangun kan kalian yang seperti nya sangat lelah dan pulas tidurnya. " ujar angga sembari mengusap kasar wajahnya.


"Emhhh... ada apa ini kok ganggu tidur aja..!!! " ujar Galuh yang terganggu akan pergerakan angga.


"Ini adik kamu lapar sayang..., bangun yok kita cari makan pasti kalian lapar kan??? " ujar angga.


"Apa bunda ada menelpon anda?? dan iya mengatakan apa?? " tanya aji terdengar formal pada sang ayah.


Angga bingung dengan pertanyaan anak nya itu dia pun melihat ponsel nya yang iya letakan di atas meja yang ada di tempat tersebut dan melihatnya banyak panggilan yang tak terjawab dari ayura.


"Pasti bunda mau tanyain kalian deh... ayah lupa aduh gimana dong ya udah yok makan nanti ayah antar kalian " ujar angga yang langsung mengajak kedua anak nya untuk makan terlebih dahulu.


Semua orang melihat ke arah angga yang menggendong kedua anak kecil bersamanya, yang mereka tau bahwa ceo mereka itu belum menikah.


Para karyawan banyak yang berbisik dan saling tatap dan sesekali melihat ke arah angga berjalan.


"Bili... saya akan pergi makan dan setelah itu akan mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu kau, bantu aku dengan pekerjaan di sini " perintah angga pada bili.


Bili yang baru teringat akan pesan ayura tadi baru lah iya angkat bicara.

__ADS_1


"Tuan tadi nona ayura menelpon saya karena telpon kalian tak ada yang bisa di hubungi, dia menitip kan pesan untuk tuan menjaga mereka untuk hari ini karena dia masih banyak pekerjaan yang harus di tangannya di perusahaan " ujar bili menjelaskan pesan ayura padanya tadi.


"Kenapa kau tak bilang sedari tadi, membuat aku cemas saja " gerutu angga.


"Maaf tuan saya lupa karena tadi saya harus, mengerjakan pekerjaan saya dengan cepat dan baru ingat saat tuan barusan bilang ingin mengantarkan mereka " jelang bili dengan ingatannya yang buruk itu.


"Ya sudah lah.. kau tetap kerjakan semua aku akan keluar bersama mereka " ujar angga yang langsung pergi kekuatan dengan muka dinginnya.


"Baik tuan " jawab bili, yang iya juga sadar akan kesalahannya itu.


Angga dan kedua anak nya itu menaiki mobil milik sang ayah yang cukup mewah itu.


"Ayah... ini mobil siapa bukanya tadi pagi bukan ini...??? " tanya Galuh dengan cerewet.


"Kau itu tak usah cerewet... dan tak usah pura-pura bodoh, dia ini kan orang yang terkenal kaya, jadi gak heran " ujar aji yang teras menyayat hati sang ayah tapi ya mau bagai mana ada benar nya kok yang iya katakan.


"Ini semua juga milik kalian kon sayang, kalian kan anak ayah.. jadi apa saja yang ayah miliki kalian bisa memilikinya dan semuanya akan menjadi milik kalian " ujar angga pada anak nya.


"Milik mu akan menjadi milik anak mu dan juga istri mu, kami mana ada hak, kami juga bukan pengemis harta, kami kelak sudah dewasa bisa mencarinya sendiri " ketus aji yang begitu menyakitkan bagi angga.


Entah dari mana iya belajar kata-kata yang pedas seperti itu, apa kah mungkin karena sering melihat ayura yang selalu tak akur dengan ibu tiri nya.


"Tidak sayang semua ini akan menjadi milik kalian " ujar angga lagi.


"Heh.... kami memang anak kecil tapi otak kami juga berjalan dan tak sebodoh itu " ketus aji lagi.


Angga hanya diam karena tak mungkin iya harus beradu argumen dengan anak kecil.


"Hai dek... kau tak boleh seperti itu terhadap orang tua, apa lagi ini ayah kita kamu nanti durhaka mau kamu di kutuk jadi batu...!!!?? "ujar Galuh yang membela sang ayah.


" Cih... terlaku banyak membaca buku legenda otak nya tak berkembang, hanya percaya thayul semacam itu " entah mengapa setelah bangun tidur aji menjadi banyak bicara tapi kata-kata nya tak enak untuk di dengar,.


Mungkin karena bawaan lapar kali ya jadinya menjadi ketus seperti itu, yang biasanya dia kalem dan tak banyak bicara raut wajah juga datar-datar saja tapi kali ini angga melihat wajah putranya itu masam dan mudah kesal.


"Yok kita sudah sampai kita makan dulu, baru nanti kita buat rencana untuk kemana " ujar angga dengan membuka pintu mobil dan keluarga terlebih dulu dari kedua anaknya.


"Ayah jangan dengarkan perkataan dia si muka eskimo mendingan kita makan aku sudah lapar " ujar Galuh dengan mengusap perutnya.


"Iya sayang ya sudah ayok... " mereka masuk dan memesan makanan yang mereka ingin kan dan mencari tempat duduk yang nyaman.


"π™±πšžπš—πšπšŠ... πšœπšŽπšπšŠπš—πš πšŠπš™πšŠ πšœπšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš??? πšŠπš™πšŠ πš‹πšžπš—πšπšŠ πšπšŠπš” πš“πšŠπšπš’ πš–πšŽπš—πšπšŠπš“πšŠπš” πš”πš’πšπšŠ πšžπš—πšπšžπš” πš™πš’πš—πšπšŠπš‘ πš›πšžπš–πšŠπš‘?? " πšŠπš“πš’ πš–πšŽπš—πšπš’πš›πš’πš– πš™πšŽπšœπšŠπš— πšœπšžπšŠπš›πšŠ πš™πšŠπšπšŠ πšŠπš’πšžπš›πšŠ.


"Kalian akan pindah kemana??? " tanya angga yang terkejut mendengar perkataan aji yang mana memang angga tak tau kalo ayura akan pindah ke rumah.


"Tidak tau kami juga ayah... cuman bunda kemaren malam bilang akan membawa kita pindah untuk segera mengisi rumah yang iya beli, tapi kalo tempat dan di mana nya bunda tak ada menjelaskan pada kami " pungkas Galuh menjawab pertanyaannya angga.


Tapi angga langsung berpikir mungkin rumah ayura lima tahun lalu, mereka akan pindah ke sana pikirnya karena angga tak tau kalo ayura telah membeli rumah baru untuk iya huni.


Makanan yang mereka pesan kini sudah terhidang di meja dan tinggal menyantap nya, angga uang sudah tau peraturan di meja makan saat makan dengan kedua anaknya, jika makan harus fokus dengan makan tak boleh mengeluarkan satu patah kata pun atau melakukan hal lain saat belum selesai makan.


Semuanya tenang makan dengan damai semua orang melihat ke keluarga itu yang makan dengan diam, ada yang merasa salut dengan mereka karena tatak Rama di meja makan bisa dijaga dengan baik.


Tak berapa lala mereka pun selesai makan.


"Eh... itu bukannya aji dan Galuh... mereka sedang jalan dengan ayah mereka ya??? " ujar pria yang berada di ujung ruangan restoran biru yang melihat ke arah meja angga.


"Coba aku samperin bener mereka apa bukan " ujar pria itu yang tak lain adah adit paman si kembar yang sedang ada di restoran tersebut juga yang baru saja selesai rapat dengan klien nya yang tak lain adalah ayura sendiri .


"Hai..... "sapa adit


" Eh.... paman paman ada di sini juga ya??? "ujar Galuh yang melihat ke arah adit.


" Iya sayang , paman baru selesai rapat dengan bunda kalian di sini baru beberapa menit yang lalu bunda juga pergi katanya sih masih ada pekerjaan lain " ucap adit pada ponakannya itu.


"Selamat siang menjelang sore tuan..?! " sapa adit pada angga.


"Ya... " jawab angga singkat namun masih sopan.


"Paman kau masih ada kerjaan lain kah...?? " tanya aji pada adit.


"Masih ada memang kenapa??? " tanya adit balik.


"Tidak tadinya aku ingin ikut balik dengan paman " jawab aji.


"Lah kenapa memang nya ajib tak senang jalan dengan ayah....??? '" tanya angga yang terkejut dengan ucapan putranya yang seakan tak bahagia berjalan dan bermain dengan nya.


"Ya aku malas...!! " jawab aji dengan ketus dan dingin.


"Aji memeng apa salah ayah hingga kamu tak suka dengan ayah...?? " tanya angga dengan raut wajah yang sedih menatap aji.


"Iya sayang kenapa... bukan selama ini aji sering bertanya di mana ayah, kenapa saat ayah mu sudah ada di hadapan mu kamu malah begitu cuek hah??! " ujar adit agak sedikit tegas dengan ucapan yang namun masih dengan nada rendah.


"Aku tak suka saja " ketus aji lagi.


"Katakan sayang salah ayah dimana biar ayah bisa memperbaiki nya untuk mu, agar kami bisa menyukai ayah??? " Tanya nya dengan penuh harap pada sang putra nya tersebut.


"Aji.... kamu harus menurut... kau ingat bukan ucapan bunda sebelum iya pergi kerja tadi, kamu harus menurut pada ayah mu dan jangan menyusahkan nya ... kamu jangan menjadi anak durhaka aji " jelas adit lagi.

__ADS_1


"Ah.... iya maaf tuan aku tak bisa membantu lagi aku harus segera kembali kepada kantor, dan biarkan saja dia tak usah di hiraukan terlebih dulu entar juga dia akan baik sendiri " saran adit pada angga dan dia langsung pergi untuk kembali ke kantor.


Setelah kepergian adit ketiganya hanya diam angga mengajak mereka untuk kembali dan menaiki mobil nya,angga berpikir mungkin aji lelah jadi iya bermaksud untuk mengantarkannya kembali ke hotel.


__ADS_2