DREAM

DREAM
tanpa tau


__ADS_3

plak.....


alana memegang pipinya yang terasa perih, baru saja luka kemarin sembuh dan sekarang lagi-lagi alana menerima tamparan keras itu.


"Makin berani kamu hah! berani kamu bawa dua sekaligus cowok kerumah ini?" bentak mayang seraya mencengkram dagu alana.


alana hanya menangis diam diperlakukan seperti itu, alana tidak tau lagi harus berbuat apa? ia hanya bisa pasrah saat mama tirinya itu menyakiti dirinya.


"Ma udah hentikan!" titah kania.


mata alana dan mayang menatap kearah kania yang justru seperti membela alana.


"Kenapa? bukannya kamu suka kalo alana mama sakiti seperti ini?" tanya mayang.


"Tentu saja! tapi hentikan itu dulu dan kania mau mama pindahkan kania kesekolah alana, kania ingin sekolah disana!"


"Kenapa? kenapa tiba-tiba?" tanya mayang tak mengerti.


"Mama tau dua cowok yang tadi di ajak cupu kesini adalah anak pengusaha terkaya ma, rival dari keluarga ananta dan tadi raynad dia dari keluar mahendra, mereka berdua adalah anak dari bilioner ma!" jelas kania.


"Apa?" kejut kania.


"Kania udah pernah deketin rival tapi rival adalah pria dingin dan datar, susah menaklukan hatinya. beda dengan raynad, meski kania belum kenal dengannya tapi rumor mengatakan raynad penuh perhatian dan kasih sayang, dia pasti mudah ditaklukan ma!"


alana langsung menatap kania sedih, jadi adik tirinya itu pun tau soal raynad dan berniat mengambil hati raynad.


alana hanya bisa menunduk, kini hatinya bukan sakit hanya karna perlakuan mama tirinya tapi juga kenyataan bahwa mendapatkan raynad semakin mustahil untuk alana.


mayang kembali menoleh kearah alana yang hanya duduk sambil menunduk dan menangis.


"Bagaimana kamu bisa kenal dengan mereka hah?" tanya mayang membentak.


"Mereka hanya teman sekelas alana ma."


tiba-tiba kania menghampiri alana dan menarik kencang rambut gadis itu.


"Denger ya! jangan mimpi buat dapetin rival tau raynad, mereka berdua adalah incaran gue dan gue peringatin lebih baik lo ngejauh dari dia atau gue akan ngelakuin hal yang gak pernah lo duga!" kecam kania lalu menghempaskan kepala alana begitu saja.


"Sana masuk kamar dan kamu tidak akan makan malam ini!" bentak mayang, alana langsung berlari menuju kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya.


tubuh alana merosot begitu saja setelah menutup pintu, hati nya benar-benar tidak kuat lagi menerima semua kenyataannya.


sejak usia kecil alana sudah kehilangan orang tuanya, alana kehilangan semua orang yang dia sayangi, dan kali ini dia harus merelakan orang yang ia cintai demi adik tirinya, bukan! lebih tepatnya untuk keamanan nya juga pamannya yang tinggal diluar negri.


meski alana yakin tidak mudah menaklukan pamannya tapi lebih baik alana mencegah dari pada alana kehilangan satu-satunya orang yang menyayangi dirinya.


***


Keesokannya.


alana diam saja sejak dia masuk kedalam kelas, entah kelas ramai atau sunyi alana hanya terfokus memandang keluar jendela dan melihat begitu damainya pepohonan juga angin yang berlalu, alana sangat suasana seperti itu karna bisa menenangkan dirinya.


akhirnya kelas dimulai, rival hari ini masuk dan terus bertanya kenapa alana terlihat murung, namun alana hanya diam saja tak menjawab.

__ADS_1


"Selamat pagi anak-anak!" sapa guru bahasa indonesia 'Sari'.


"Pagi bu!" sapa balik warga kelas.


"Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, ayo silahkan masuk!" ajak bu sari.


semua dikelas penasaran siapa anak barunya, namun alana diam saja karna alana sudah tau bahwa itu adik tirinya, kania.


dengan menggunakan uang perpindahan kania dipercepat dan itu semua adalah permintaan mayang.


"perkenalkan nama kamu!" titah bu sari.


kania mengangguk, dengan menampakkan senyumnya kania memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya kania putri, saya pindahan dari SMA 6, salam kenal semua!" sapa kania.


kania akhirnya duduk, untunglah tempat duduk untuk kania belakang pojok kiri jauh dari alana.


sedangkan raynad hanya bisa mengernyit heran, bukankah itu adik alana? kenapa bisa masuk kelas yang sama dengan alana? seharusnya setidaknya dia beda satu tahun dengan alana dan ada dibawah alana, namun kenapa mereka sekelas?


pelajaran dimulai, kelas berlalu dengan tenang selama pelajaran, semua fokus! hanya alana yang tidak fokus karna fikirannya yang benar-benar belum tertata, alana masih bingung harus bagaimana.


bel istirahat...


alana tetap diam dikursinya dan membuat rival semakin mencemaskan alana karna alana sejak pagi hanya diam, bahkan dia tidak fokus pada pelajaran.


"Al kamu kenapa sih?" tanya rival seraya memegang bahu alana, namun alana masih tidak bergeming.


sedangkan raynad yang mendengar suara rival langsung menghampiri rival dan juga alana, dan rena gadis itu selalu mengikutinya.


rival mengedikkan bahunya. "sejak pagi dia cuma diem, sama pelajaran juga gak fokus!"


"Sakit?" tanya raynad, raynad segera memegang dahi alana untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu, namun suhunya normal.


merasakan tangan raynad menyentuh dahinya tiba-tiba alana menangis dengan isakan dan tangisan itu terdengar pilu.


hiks.....hiksss.....hiksss....


tangisan itu membuat mereka semakin bingung, kania hanya menatap dengan benci kearah alana yang menurutnya hanya mau diperhatikan.


"Udahlah kenapa peduli? alana emanh cengeng diemin aja nanti juga baik sendiri!" ucap kania, semua mata langsung tertuju padanya.


mendengar ucapan kania itu, alana berdiri dan langsung lari dengan cepat meninggalkan kelas.


"Alana!" panggil rival.


rival pun mengejar alana, sedangkan raynad yang ingin mengerjar juga ditahan oleh dua tangan, satu ditangan kanan dan satu ditangan kiri.


raynad menoleh kedua sisi dan ternyata rena dan kania ada disampingnya memegang tangannya.


Rena menatap sinis kearah kania begitu juga dengan kania yang menatap sinis balik rena.


"Ngapain lo megang raynad anak baru!" tanya rena sinis.

__ADS_1


"Lo juga kenapa megang tangan dia? pacarnya?" tanya balik kania tak kalah sinis.


mendengar kedua gadis itu bertengkar raynad melepas kedua tangan gadis itu dan tanpa perduli raynad berlari untuk mengejar alana.


sampai digerbang sekolah raynad melihat rival yang sedang berdebat dengan satpam penjaga gerbang.


"Val mana alana?" tanya raynad yang baru saja menghampiri rival.


"Alana keluar sekolah, satpam gak percaya soalnya waktu alana lari keluar satpam gak ada!" jelas rival.


"Pak biarkan kami keluar dan menyusul alana, nanti kami akan kembali pak!" ucap raynad.


"Tidak! saya tau kalian hanya alasan untuk membolos kan?" ucap satpam bersikeras.


"Pak kami tidak beralasan!" ucap rival.


"Tidak bisa!" kukuh satpam.


rival dan raynad saling berpandangan lalu tiba-tiba mereka tersenyum smirk dan mengangguk tiba-tiba. melihat itu satpam bingung dengan kedua pria yang ada didepannya.


lalu tiba-tiba baik rival dan raynad mengecoh satpam dan ya rival memelintir tangan satpam kebelakang dan raynad mencari kunci gerbang dan akhirnya yang dicari ketemu.


raynad membuka pintu gerbang.


"ayo val!" ajak raynad, rival pun mendorong satpam itu lalu berlari bersama raynad.


"MAAF PAK!" teriak rival, bagaimana pun ia masih memiliki rasa hormat pada orang yang lebih tua.


rival dan raynad berhenti berlari dan mereka berusaha mengatur nafas setelah lelah berlari.


"Val tau gak alana kemana?" tanya raynad.


"Mana gue tau, kan tadi kita ditahan sama pak satpam!" saut rival


"Terus kita cari alana kemana?" tanya raynad.


"Mencar aja deh, lo kearah kanan gue kearah kiri!" putus rival dan raynad menyetujuinya.


"Eh inget ya lo harus kabarin kalo ketemu sama alana!" tegur rival.


"Tenang!" ucap raynad dan langsung berlari menuju arahnya.


ditempat lain..


alana datang kesebuah pemakaman umum, disana! dipusara ayah dan bundanya yang bersebelahan alana menangis ditengah pusara mereka.


"Ayah..bunda..kalian udah baikan kan disana?" tanya alana, gadis itu terus terisak sambil mengelus kedua batu nisan orang tuanya.


"Alana baik kok yah, alana gak menyalahkan ayah karna ayah membawa mama mayang juga kania sebagai keluarga baru alana, tapi alana bingung ayah, alana sudah mengalah terus sama mereka, tapi kenapa alana juga harus menderita setelah semua yang alana lakukan ayah.." keluhnya.


dia memutar pandangannya pada pusara bundanya.


"Bunda.. gadis kecilmu ini, putrimu ini sudah jatuh cinta sejak masih kecil, apa bunda tau tentang seorang pria yang tidak alana sebutkan namanya dan selalu alana ceritakan kebunda?alana masih mencintainya bun, dia sumber kebahagiaan alana setelah ayah dan bunda!" alana terus mengoceh sambil menangis.

__ADS_1


"Tapi.. cinta alana hanya cinta bertepuk sebelah tangan bun, cinta alana tidak berarti untuknya, dia memiliki banyak gadis cantik disekitarnya hingga tidak akan mungkin dia memilih alana untuk bersamanya. juga kania, adik tiri alana itu juga sangat menyukai dia bun, alana bisa apa? toh sejak pertama memang cinta alana tidak terbalaskan dan hanya cinta alana seorang!"


alana terus bercerita pada bunda dan juga ayahnya sambil menangis, alana sangat merindukan ayah juga bundanya, meski alana sakit hati atas perlakuan mayang dan kania juga karna cintanya pada raynad, alana yakin ia akan kuat jika kedua orang tuanya bersama dengan dirinya, namun alana hanya sendiri hingga alana benar-benar tidak kuat bahkan untuk berdiri sendiri.


__ADS_2