
Samuel telah menceritakan semua yang terjadi pada teman-temannya melalui BBM Group. Leony yang membaca pesan dari Samuel itu merasa terkejut tentu saja. Tidak pernah terpikirkan olehnya orang seperti Devi yang nyaris sempurna bisa iri dan sampai memfitnahnya hanya gara-gara Dion. Dulu Leony memang merasa iri karena Dion memperlakukan Devi berbeda dengannya. Dion terlihat begitu menyayangi dan memanjakan Devi, sangat berbanding terbalik dengan perlakuannya dulu pada Leony saat masih berpacaran. Tapi hal itu tidak serta merta membuat Leony menaruh dendam pada keduanya. Mungkin memang benar setiap orang mempunyai cara berpikir yang berbeda, terbukti dengan pendek akalnya seorang Devi yang hanya karena sesuatu yang bernama iri bisa membuatnya gelap mata. Yah… walaupun bagi seorang Leony difitnah telah ditolak seorang cowok dan disebarkan di sekolah tidak akan menyebabkan sesuatu yang berarti padanya. Itu tidak akan merusak image nya karena dia memang belum mencari yang namanya pacar. Dan ditolak seseorang juga bukan sebuah aib menurutnya.
“Apa benar seorang Devi bisa melakukan hal itu?” tanya Leony tidak percaya pada dirinya sendiri.
Leony melihat jam di dinding kamarnya. Sudah pukul 7 malam dan dia belum makan malam. Dirumah hanya ada dia dan adiknya, Ayah dan Ibunya sedang menginap di kampung halaman sang Ibu. Leony dan adiknya tidak ikut karena masih sekolah. Sedangkan sang kakak sedang bekerja.
“Mau masak dulu ah” kata Leony sambil bangun dari duduknya. Dia berjalan dengan gontai menuju dapur. Membuka lemari pendingin dan begitu berbinar melihat ada udang kesukaannya. Kalau dulu boro-boro masak udang, goreng telur saja dia tidak bisa. Karena bahan makanan lengkap tersedia, Leony mulai memasak udang asam manis, perkedel kentang serta capcay. Dengan telaten Leony mengolah makanannya hingga sang adik yang masuk ke dapur karena mencium bau masakan yang menggugah selera.
“Ini beneran kamu yang masak kak?” tanya Fero terheran melihat udang asam manis dengan potongan nanas yang terlihat begitu lezat.
“Enggak, aku beli di luar tadi. Sekarang tinggal di angetin aja” jawab Leony santai dan kembali mengolah capcay nya.
Fero menyendok udang asam manis yang telah Leony masak kemudian memasukkannya ke mulutnya. Mata Fero langsung bersinar tidak percaya.
“Enak banget kak, sejak kapan kamu bisa masak?” tanya Fero masih tidak percaya.
Leony tidak menjawab hanya tertawa saja.
“Bawa ke meja makan ya” titahnya pada sang adik.
Fero menurut kemudian membawa udang asam manis itu ke meja makan.
Leony meletakkan capcaynya yang sudah siap ke dalam mangkok.
“Fer, sekalian capcaynya. Kakak mau goreng perkedel kentang lagi satu” teriak Leony dari dapur.
“Iya” jawab Fero sedikit berteriak juga. Jarak antara meja makan dan dapur tidak terlalu jauh, tapi karena terhalang tembok harus sedikit berteriak agar didengar.
Aurel dan pacarnya yang baru saja tiba melihat udang asam manis buatan Leony juga seketika menjadi lapar.
“Siapa yang masak? bukannya Ibu lagi diluar kota?” tanya Aurel pada Fero.
__ADS_1
“Leony’ jawab Fero singkat kemudian kembali ke dapur untuk mengambil capcay yang sudah jadi.
Aurel dan pacarnya saling berpandangan.
“Tumben dia masak?” tanya Aurel tidak percaya.
Tak berapa lama Fero sudah kembali dengan capcay dan perkedel kentang di masing-masing tangannya kemudian dia tata di atas meja, menyusul Leony datang dengan membawa rice cooker.
“Ayo makan” kata Leony semangat.
“Eh ada kak Izam. Sekalian makan kak” kata Leony ramah.
Aurel menatap heran pada adiknya ini. Dulu Leony jangankan mau bertegur sama dengan Izam, setiap Izam datang dia pasti ngumpet di kamarnya.
Izam pun tak kalah heran. Ini kali pertama dia melihat Leony dari jarak dekat. Ternyata Leony dan Aurel sangat mirip. Bagai pinang dibelah dua.
Mereka berempat pun mulai menyantap makan malam buatan Leony.
“Enak banget dik” puji Aurel karena masakan Leony memang enak rasanya.
“Iya enak banget, kakak gak nyangka kamu bisa masak” kata Izam sambil menatap Leony dengan tatapan yang sulit diartikan.
Seingat Leony, Izam dan Aurel tidak lama lagi akan putus. Tapi Leony tidak pernah ikut campur urusan kakaknya dulu. Jadi dia tidak tahu alasannya apa. Tapi melihat tatapan Izam pada Leony sepertinya Izam bukan laki-laki baik.
“Makasih kak” jawab Leony lalu kembali melanjutkan makannya. Dia tidak mau melihat ke arah Izam karena sampai sekarang Izam masih menatapnya diam-diam. Leony jadi risih dibuatnya.
Selesai makan malam, Aurel mengobrol sebentar di ruang tamu bersama Izam sedangkan Fero dan Leony merapikan meja makan kemudian membawa semua sisa makanan dan alat-alatnya ke dapur. Leony juga langsung mencuci piring kotor. Kebiasaan baik yang dia lakukan semenjak kembali ke masa lalu.
“Kak, besok aku request ayam kecap sama sayurnya capcay lagi juga gak apa-apa, ehehe” kata Fero sambil nyengir.
“Masakan kakak enak ya?” tanya Leony sambil sibuk mencuci piring.
__ADS_1
“Iya, tapi masih enakan masakan Ibu sih. Cuma Ibu besok kan masih di kampung” Fero memuji dan membandingkan disaat bersamaan.
Kalau dulu dia pasti akan bertengkar dengan adiknya karena adiknya ini memang kadang menyebalkan. Tapi lebih sering Leony bertengkar dengan Aurel. Aurel sangat bawel dan jutek. Kalau Aurel kesal tanpa pandang bulu dia akan langsung meluapkan amarahnya. Sangat berbeda dengan Leony yang lebih bisa menahan amarahnya.
Pembawaan Leony lebih cengeng dan lembut. Kalau Aurel orangnya terbuka dan apa adanya. Semua mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.
“Menurut kamu kak Izam bagaimana?’’ tanya Leony pada Fero karena jujur dia merasa risih dengan Izam, apalagi saat makan tadi Izam terus memandangnya.
“Bagaimana apanya?” tanya balik Fero.
“Ya menurutmu cocok tidak kak Aurel?” tanya Leony. Leony lupa kalau adiknya masih SMP jadi mana mengerti tentang sudut pandang orang dewasa. Saat dewasa nanti pun adiknya ini sangat cuek. Terkesan tidak peduli, tapi sebenarnya dia sangat care dengan keluarga.
“Aku tidak mengerti yang begitu, jangan tanya aku” kata Fero yang tidak mau ikut campur. Fero telah selesai membantu Leony dan kembali ke kamarnya.
Leony sendiri masih membersihkan dapur setelah dia buat kotor karena bereksperimen 3 masaka. Saat ingin meletakkan piring di rak yang tempatnya cukup tinggi , tiba-tiba saja ada tangan besar dari arah belakangnya yang membantu Leony meletakkan piring tersebut. Leony tidak berani menoleh, salah-salah bisa-bisa tanpa sengaja dia mencium orang itu. Yang Leony sangat yakin itu adalah pacar kakaknya.
Setelah semua masuk dengan rapi, Leony menggeser tubuhnya ke samping. Setelah cukup jauh baru dia membalik tubuhnya.
“Makasih ya kak” kata Leony pada Izam.
Izam hanya tersenyum kemudian mengangguk.
“Kakak mau ambil air. Kakak kamu masih ganti baju di kamar” Izam menjelaskan padahal Leony tidak bertanya. izam seolah mengerti arti dari tatapn Leony.
“Ohh… silahkan kak. Aku tinggal ke kamar ya kak” tanpa menunggu jawaban Izam, Leony sudah berjalan cepat meninggalkan dapur.
Izam tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala. Dia menjadi penasaran dengan sosok Leony.
Di dalam kamarnya Leony mendumel. Dia sangat risih berdekatan seperti itu dengan pria asing.
“Dimana sih kakak kenal dengan orang gitu?” Leony bergidik ngeri.
__ADS_1
….
Bersambung...