
raynad terus berlari mencari alana, matanya yang terus melihat kesekelilingnya mencoba mencari keberadaan alana yang entah kenapa perginya gadis itu.
sedangkan alana yang sudah pergi dari pemakaman umum itu hanya bisa berjalan dengan kepala tertunduk, sudah bolos sekolah entah kemana alana akan pergi, alana juga tidak tau kenapa alana bisa sampai bolos sekolah hanya karna merasa sedih.
alana mengikuti jalan setapak tanpa melihat orang-orang, dia hanya jalan tertunduk tanpa melihat orang-orang disekitarnya.
"Alana.." pekik seseorang, kenal dengan suara itu alana mendongak dengan wajah terkejut.
"Raynad!" gumamnya. raynad lantas berlari ketika yang ia panggil ternyata benar adalah alana.
Sontak raynad yang menghampiri alana langsung memeluk alana dan alana sangat terkejut akan hal itu, alana tidak membalas pelukan raynad yang memeluknya dengan erat.
kini yang alana rasakan ia hanya merasa hangat bukan ditubuhnya namun dihatinya, begitu damai dalam pelukan orang yang ia cintai, seandainya ia bisa mendapatkan pelukan ini setiap harinya.
tanpa mau menyudahi pelukan itu raynad bicara. "Alana kamu kemana? kenapa kamu tiba-tiba menangis sambil berlari?" tanyanya.
alana diam tak menjawab, alana tidak akan mengatakan apapun biarlah ini hanya menjadi rahasianya saja.
raynad melepas pelukan itu lalu memegang kedua bahu alana dan menatap alana dengan penuh rasa khawatir.
"Jawab al? kok kamu diam aja sih?" tanya raynad lagi.
"Ka..lo kamu perduli dengan perasaan aku tolong jangan tanyakan kenapa, aku baru saja ingin melupakannya!" ucap alana sambil tertunduk.
mendengar itu raynad tertegun, meski ia sangat ingin tau alasannya namun raynad menghargai perasaan alana dan tidak akan bertanya lagi.
"Ayo kita kembali kesekolah!" ajak raynad.
alana mengangguk dan mereka hendak jalan namun..
"Oh iya belum kabarin rival!" ucap raynad seraya menepuk dahinya sendiri.
"Rival?" alana bertanya.
"Iya tadi aku sama rival berdua nyari kamu keluar sekolah, kami berpencar dan aku harus kasih tau rival kalo kamu udah ketemu!" jelas raynad.
"kenapa kalian mencari aku?"
"Emm.. kita cemas alana, kamu lari sambil menangis kami takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu!"
alana tersenyum getir sambil menunduk. "Terima kasih." ucapnya tanpa menatap raynad.
lagi-lagi air mata alana akan jatuh namun alana menahannya agar raynad tidak tau.
"Bentar ya aku telepon rival dulu!" izin raynad dan alana mengangguk saja.
untunglah meski raynad tidak punya kontak rival tapi digrup kelas rival masuk jadi raynad bisa menghubunginya.
hanya beberapa menit raynad menelpon rival lalu sambungan telpon selesai.
"Kita tunggu sini aja ya!" ucap raynad.
alana menatapnya. "Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Rival bilang dia gak jauh dari sini dan dia mau kesini, nanti kita kesekolahnya bareng."
alana mengangguk mengiyakan saja.
tak lama menunggu rival datang dengan berlari.
"Al.." panggil rival seraya mengatur nafasnya yang lelah sehabis berlari.
alana langsung menoleh kearah rival yang ada dibelakangnya.
"Rival." gumamnya lalu menghampiri rival.
"Al..lo gapapa?" tanya rival cemas.
"Aku gapapa kok, kamu gimana?"
"gue gapapa kok. gue khawatir sama lo. lo beneran gapapa?"
alana mengangguk. "Iya bener kok, maaf udah buat rival khawatir." ucapnya penuh sesal.
"Udah gapapa, ayo kita balik kesekolah."
alana mengangguk, lalu ia menatap raynad yang ada disampingnya.
"Ray ayo!" ajak alana.
raynad mengangguk saja.
rival dan alana jalan berdua sedangkan raynad dibelakang mereka, setiap alana bersama rival gadis itu banyak bicara dan selalu tersenyum pada rival namun dengannya alana selalu bicara gugup dan tertunduk apa dirinya semenyeramkan itu?
"Kita pasti bakalan dihukum!" ucap raynad bersama dengan rival dan alana yang menatap gedung sekolah dari luar.
"Ya mau bagaimana lagi." saut rival.
sedangkan alana merasa bersalah karna dirinya rival juga raynad akan terkena masalah.
"Maaf ya rival, raynad karna aku kalian jadi kena masalah!" ucap alana menyesal.
alana yang berdiri diantara kedua pria itu terkejut saat kedua pria itu sama-sama mengelus kepalanya.
sedangkan rival dan raynad hanya bisa saling pandang saat tangan mereka sama-sama berada dikepala alana.
"Bukan salah kamu kok al, kita harus hadapi ini bareng-bareng, kamu jangan merasa bersalah!" ucap raynad penuh perhatian.
"Iya al jangan nyalahin diri kamu sendiri, ayo kita masuk aja, toh belum tentu kita dihukum!" ajak rival.
raynad dan alana mengangguk lalu memasuki sekolah.
mereka bertiga berjalan dikoridor lantai satu lalu..
"RIVAL.. RAYNAD.. ALANA!" pekik seorang dari belakang mereka bertiga.
merasa terpanggil mereka bertiga langsung menoleh dan benar, tepat dihadapan mereka kini ada guru BP yang terlihat marah.
__ADS_1
guru BP bernama 'Ayu' itu menghampiri mereka bertiga.
"Kemana kalian? kenapa bolos disaat jam sekolah hah?" tanya bu ayu dengan tegas.
"Kami...
"ibu gak heran sama rival dia sudah sering melakukannya, tapi alana, raynad. kalian kenapa membolos?" tanya ayu.
alana hanya bisa menunduk dan merasa bersalah, sedangkan raynad melihat alana yang ketakutan dan mungkin juga merasa bersalah, raynad tidak mau alana semakin kefikiran karna alana baru saja membaik setelah menangis dengan alasan yang raynad tidak tau.
"Bu kami keluar sekolah sebentar saja untuk kesuatu tempat!" jawab raynad.
"Tetap saja kalian melanggar aturan sekolah!" tegas bu ayu.
"Kami minta maaf bu!" ucap rival.
"Sebagai konsekuensinya kalian harus membersihkan tempat penyimpanan peralatan olahraga sampai bersih!" titah bu ayu.
alana mendongak dan terkejut, bukan terkejut karna hukumannya namun terkejut karna raynad dan rival akan mendapat hukuman.
"Bu..i..ini salah saya, saya tiba-tiba lari keluar sekolah dan rival juga raynad menyusul saya karna merasa cemas, ini murni kesalahan saya jangan hukum mereka juga bu, biar saya saja yang dihukum!" jelas alana menatap dalam guru BP itu.
"Alana!" gumam rival dan raynad.
mereka tak tau jika alana akan mengaku begitu saja.
"Gapapa bu kita bakalan terima hukumannya!" ucap rival.
"Iya. kami akan lakukan sampai bersih!" timpal raynad.
alana hanya bisa menatap kedua pria itu secara bergantian, kenapa rival juga raynad malah mau mendapat hukuman saat alana akan meminta untuk mereka dibebaskan.
"Yasudah sana bereskan dengan benar, nanti saya akan cek kerjaan kalian!" titah bu ayu.
raynad, rival juga alana berjalan menuju ruang penyimpanan alat-alat olahraga yang memang ada dilantai satu, namun berada dilorong ujung dan sepi.
mereka masuk kedalam ruangan itu.
"Yaampun udah berapa abad nih tempat kaga dibersihin! debu semua." ucap rival.
pasalnya didalam ruangan itu semua sudah tertutup dengan debu.
alana menunduk sedih karna dirinya penyebab raynad dan rival harus mendapat hukuman.
"Maafin aku ya.. karna aku kalian dihukum, kalian boleh duduk saja biar aku yang akan rapikan semua!" ucap alana.
raynad dan rival menatap alana, gadis itu terlihat merasa bersalah bahkan sampai menangis, mereka berdua pun menghampiri alana namun lagi-lagi raynad yang memeluk alana.
"Hust. jangan ngomong gitu al. cuma hukuman kayak gini kita bisa kok lakuin sama-sama, jangan ngerasa bersalah kayak gitu!" jelas raynad.
alana terhanyut dalam rasa bersalah juga tangisannya hingga tanpa sadar ia juga membalas pelukan raynad, pelukan yang membuat alana merasa nyaman itu.
sedangkan rival, ia hanya bisa tersenyum samar melihat alana yang berpelukan dengan raynad, alana pasti merasa senang juga nyaman saat raynad orang yang ia cintai sejak kecil memeluknya, rival sama sekali tak mau mengganggu mereka dan akhirnya rival memulai saja pekerjaannya.
__ADS_1
"Kalo kamu bahagia, apapun itu akan aku dukung al!" batin rival, ia tidak mau menatap lagi kearah raynad dan alana yang semakin dekat. untuknya asal alana bahagia ia akan mendukungnya, namun jika alana tidak bahagia rival sebisa mungkin akan membantu alana melupakannya.