
"Alana.."
panggil seorang pria disela tawa alana dan rival.
alana dan rival sama-sama menoleh kesumber suara.
"Raynad!" gumam yulia melihat raynad yang berdiri disampingnya.
"Hai!" sapa raynad.
"Iya, sini duduk!" ajak alana.
sekarang alana semakin akrab dengan raynad apalagi setelah kejadian dirumahnya, alana sudah merasa ringan pada raynad meski ia belum melupakan cintanya pada pria itu tapi kini alana berubah fikiran dan menganggap bahwa raynad adalah sahabatnya.
raynad duduk disisi kanan alana dan rival duduk disisi kiri alana, kini posisi alana ditengah dan dia hanya tersenyum tanpa tau jika raynad juga rival saling memandang dalam diam.
"Kamu kesini ada apa?" tanya alana.
raynad menatapnya. "Enggak kok. aku tadi kebetulan lewat gak sengaja liat kalian lagi berduaan sambil ketawa kayaknya asik jadi aku samperin kalian deh!" jawab nya.
"Ganggu aja lo!" bukannya alana namun rival yang menyahutinya dengan sinis.
alana menoleh kearah rival dengan wajah bingung sedangkan rival terlihat begitu kesal.
"Maaf kalo saya ganggu kalian." jawab raynad merasa tak enak hati.
alana sontak memutar pandangannya pada raynad dan menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak kok. kamu gak ganggu, jangan tersinggung rival hanya asal bicara saja." jelas alana.
namun raynad dan rival sama-sama diam dan membuat alana semakin bingung, kenapa suasana jadi begitu sunyi dan mencekam antara rival dan raynad.
alana pun membuka kotak makannya. "Kalian mau gak?" tanya nya sambil menyodorkan kotak bekalnya berisi sandwich yang ia beli.
"Buat kamu aja!" saut rival dan raynad berbarengan, alana sontak memandang mereka berdua secara bergantian.
"Kalian ternyata kompak ya?" ucap alana sambil terkekeh pelan.
sedangkan rival dan raynad hanya memandang satu sama lain dengan wajah datar.
"Kalian kenapa diam aja sih? kalo gitu aku pergi aja deh!" ucap alana lagi yang mulai merasa kesal karna suasana tak kunjung berubah meski alana sudah berusaha mengubahnya.
namun baru saja bangkit dari kursinya tangan kanan dan kiri alana dipegang oleh masing-masing tangan rival juga raynad dan alana menatap bingung kearah dua pria itu.
alana menepis tangan rival dan raynad dari tangannya.
"jangan ngomong sama aku sampai kalian berdua mau saling bicara dan gak bersaing lagi!" ucap alana lalu pergi meninggalkan rival dan raynad yang menatap kepergian alana dengan bingung.
sedangkan dari tempat tak jauh dari mereka, empat mata sedang mengintai alana, rival juga raynad.
"Siapa yang lo incar?" tanya rena pada kania yang berdiri disampingnya.
kania langsung menoleh kearah rena dengan tatapan sinis kearah rena.
"Mau rival atau raynad mereka berdua berharga buat gue!" jawab kania dengan sinis.
__ADS_1
"Musuh kita sama, alana! mau kerja sama?" tanya rena.
"Kerja sama? apa maksud lo?"
"Gue raynad dan lo rival, singkirkan alana!" ucap rena penuh penekanan.
meski awalnya tak mengerti namun kemudian kania tersenyum miring, rena dan kania pun saling berjabat tangan sebagai bentuk deal dari kesepakatan mereka.
***
"Mari bersaing secara sehat?" ucap rival.
raynad menoleh kearah rival tak mengerti. "Maksudnya?" tanyanya.
"lo suka alana?"
"Masih belum tau, tapi saya ngerasa nyaman sama alana!"
Tanpa menatap raynad rival tersenyum tipis.
"Kalo gitu mari kita bersaing secara sehat, siapapun yang bisa dapetin alana antara lo sama gue harus terima dengan lapang dada."
raynad diam lalu tak lama ia menganggukan kepalanya, meski raynad belum terlalu yakin dengan perasaannya pada alana tapi raynad ingin memperjuangkan agar ia selalu bisa berdekatan dengan alana.
sedangkan rival, meski tau alana mencintai raynad tapi rival tidak akan menyerah dan akan memperjuangkan perasaannya. toh raynad tak tau perasaan alana yang sebenarnya dan rival masih memiliki kesempatan untuk mengubah itu semua.
raynad dan rival kembali kekelas.
alana melihat rival dan raynad yang masuk kekelas bersama berfikir mereka sudah berteman tapi sepertinya tidak karna alana bisa melihat dari ekspresi keduanya yang nampak tidak bersahabat.
alana harus melakukan mogok bicara pada mereka berdua sebelum mereka mau berteman.
"Al.." panggil rival namun alana tidak menyahutinya dan mengabaikan rival.
raynad yang melihat kearah rival dan alana mengernyit heran, ia pun menatap rival dengan tatapan bertanya, rival mengedikkan bahunya pertanda ia tak tau.
bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai.
alana terus mengabaikan rival meski rival bertanya tentang pelajaran, rival merasa tak kuat jika alana marah padanya.
sampai bel istirahat berbunyi bahkan raynad yang bicara pada alana pun alana abaikan, gadis itu menelengkupkan kepalanya dan pura-pura tertidur.
rival dan raynad saling memandang, rival menarik tangan raynad hingga keluar kelas.
"Apa sih?" tanya raynad.
"Udahlah kita bersaing tapi tetap jadi teman didepan alana, dari pada kayak gini alana jadi diam sama kita terus!" jelas rival.
"Saya oke aja!" jawab raynad seadannya.
"Oke."
raynad dan rival kembali kekelas.
"Al aku sama raynad berteman loh!" ucap rival pada alana.
__ADS_1
alana yang belum merasa yakin pun masih terdiam dan pura-pura tertidur.
"Iya al kita udah temenan kok, kamu jangan diam lagi ya sama kita?" bujuk raynad.
akhirnya alana mengangkat kepalanya dan menatap rival juga raynad secara bergantian.
"Kalian yakin?" tanya alana menatap keduanya dengan tatapan penuh keyakinan.
rival dan raynad saling merangkul bahu satu sama lain.
"Yakin!" jawab rival dan raynad bersama.
"Kalian gak bohong kan?"
"enggak!" jawan rival dan raynad bersama lagi.
alana pun tersenyum pada rival dan raynad, ia pun memegang masing-masing tangan rival dan raynad.
"Kalian harus terus berteman!" tegas yulia.
"Iya pasti!" jawab raynad.
sedangkan rival hanya tersenyum pada alana.
***
alana jalan sendirian menuju kamar mandi, saat jam pelajaran berlangsung tiba-tiba alana merasa ingin buang air kecil jadi dia izin pada guru dikelasnya untuk ketoilet.
Rena dan kania, mereka tidak masuk kelas sejak bel sehabis istirahat, tidak ada yang tau kemana dua wanita itu.
alana masuk kedalam bilik kamar mandi, tiba-tiba pintu terkunci dari luar dan lampu kamar mandi tiba-tiba mati.
"Eh siapa? tolong buka pintunya!" pekik alana ketakutan.
terdengar suara dua orang wanita tertawa renyah.
"Itu hukuman buat lo cupu!" ucap salah satu wanita itu dan alana kenal dengan suaranya. itu pasti kania.
"Kania itu kamu, tolong bukain pintunya kania aku takut gelap!" titah alana pada kania.
"Lo fikir gue mau hah? gue udah peringatin lo kan tapi lo nya masih aja bandel, jadi rasain akibatnya!" kecam kania.
"Gue juga udah pernah memperingatkan elo kan? jadi lebih baik terima hukuman lo ini, dan gue pastiin lo gak akan bisa keluar dari sini!" ucap satu wanita lainnya dan alana juga kenal suaranya, itu adalah suara rena.
"Tolong...tolong bukain pintunya, aku takut!" ucap alana lirih dengan isakan tangis.
rena dan kania pergi dari toilet dan memasang tulisan dipintu depan toilet.
tertulis jika 'Toilet rusak, harap gunakan toilet lantai satu!"
itulah yang tertulis, karna memang digedung sekolah ini ada dua toilet untuk siswa juga siswi, satu dilantai dua dan satunya lagi dilantai satu.
alana sangat takut, gelap dan sepi.
alana duduk sambil memeluk dirinya sendiri, alana menangis dengan isakan kuat, entah siapa yang akan menolongnya, karna alana sangat takut, mengingat dia memiliki trauma pada kegelapan.
__ADS_1