
Saat Wingky memasuki kamar ternyata istrinya sudah terlelap dengan posisi duduk. Tidak biasanya Leony seperti itu. Biasanya dia akan mencuci wajah, sikat gigi dan melakukan skincare malamnya. Mungkin karena hari seharian ini benar-benar full day dan menegangkan. Pelan-pelan Wingky baringkan tubuh istrinya, kemudian dia selimuti. Leony sama sekali tidak terusik padahal dia sangat sensitif dengan suara maupun pergerakan kecil.
"Istirahat ya sayang. Kamu pasti capek banget" kata Wingky sambil mencium kening istrinya itu. Dibawanya Leony kedalam pelulannya.
"Gak apa-apa Papa puasa dulu sebulan demi kamu" kata Wingky yang merasa konyol dengan diri sendiri. Dia berkata sambil mengusap perut rata istrinya, seolah berbicara dengan calon anak mereka.
Entah di menit keberapa dia pun akhirnya ikut masuk ke alam mimpi.
Pagi pun datang, Leony sudah bangun lebih dulu. Tidak seperti biasa yang dia akan membuat sarapan. Kali ini dia memilih memandangi wajah pria yang begitu sangat dia cintai itu.
Dia belai wajah suaminya mulai dari alis, mata, hidung dan terakhir bibir tebal itu.
Mungkin karena masih sangat mengantuk, Wingky tidak menyadari belaian istrinya. Dia masih terperangkap di alam mimpi padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Papa bangun" panggil Leony lembut. Dia berinisiatif sendiri merubah panggilan suaminya menjadi papa.
Wingky masih juga belum terbangun.
Leony pun mempunyai ide untuk memberikan ciuman dalam untuk suaminya itu. Dan benar saja, walau matanya terpejam Wingky masih bisa membalas ciuman itu.
"Pagi sayang" sapa Wingky saat ciumannya telah berakhir.
"Pagi suami ku sayang. Ayo bangun sudah siang" balas Leony tersenyum.
Bukannya bangun Wingky malah mengeratkan pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Leony. Dia hisap leher itu hingga menimbulkan tanda merah. Hal yang baru pertama kali dia lakukan karena tidak ingin membuat istrinya malu dengan adanya tanda cinta di leher. Toh sekarang istrinya tidak akan bekerja dan seharian di rumah.
__ADS_1
Leony sampai melenguh mendapatkan rangsangan dari suaminya.
"Sabar... Tahan" batin Wingky. Hasratnya sudah naik ke ubun-ubun tapi harus dia tahan mati-matian demi keselamatan calon anak dan istrinya.
Wingky mengecup kening istrinya.
"Aku mau mandi dulu" kata Wingky dan buru-buru ke kamar mandi. Leony yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
Cukup 15 Menit Wingky sudah selesai mandi dan bersiap. Style ala dosen dengan kemeja hitam lengan panjang, celana bahan dan sepatu pantofel. Tubuhnya yang tinggi tegap semakin membuat Wingky terlihat mempesona.
"Sayang maaf hari ini aku gak bisa nemenin kamu sarapan. Aku ada rapat dengan dekan dan wakakurikulum. Gak apa-apa ya? Tapi nanti aku usahain jam istirahat untuk makan siang bersama" kata Wingky sambil mengelus-elus puncak kepala istrinya.
Leony pun mengangguk walau dalam hati merasa tidak rela. Entah kenapa dia selalu ingin berada disamping suaminya.
Melihat wajah sedih istrinya Wingky pun sebenarnya tidak tega. Apalagi kondisi istrinya yang harus bed rest. Tapi mau bagaimana lagi pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
...
Hari sudah menunjukkan pukul 1 siang tapi Wingky belum juga mengabarinya. Padahal tadi pagi Wingky sudah berjanji akan pulang makan siang bersama. Leony tidak mungkin menunggu suaminya, dia tidak mau sampai telat makan dan calon anak mereka kekurangan asupan. Terpaksa Leony makan siang di kamar sendirian. Rahma sudah membawakan makan siang ke kamar. Ada telur rebus tanpa bumbu, bening bayam dan Ayam suir bumbu kuning. Leony sendiri yang merequest menu itu pada Rahma.
Saat sudah selesai makan, Leony meletakkan nampannya di atas nakas bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Leony yang mengira itu telepon dari suaminya dengan cepat mengambil ponselnya. Tapi ternyata itu panggilan dari Alan. Leony menarik dan menghembuskan nafasnya sebelum menerima panggilan itu. Dia tidak ingin emosi ketika menerima panggilan itu.
"Halo pak" sapa Leony.
"Besok apa kamu sudah bisa bekerja?" tanya Alan. Leony heran, apa Alan belum membaca suratnya. Padahal disana sudah tertera kalau Leony harus bedrest minimal 3 hari karena sedang hamil. Tapi kenapa Alan terlihat seperti tidak peduli?.
__ADS_1
"Maaf pak, Saya masih harus bedrest selama 3 hari" jawab Leony.
Alan nampak berdecak sebal tapi dia tidak mencak-mencak seperti kemarin.
"Suara kamu terlihat sehat. Kamu sakit apa?" tanya Alan akhirnya.
"Bapak belum baca surat saya?" tanya Leony pula.
"Belum" jawab Alan singkat.
"Saya sedang hamil muda pak dan sempat pendarahan makanya harus istirahat total" jelas Leony.
Alan terdiam. Dia bahkan lupa kalau Leony sudah menikah.
"Maafkan saya. Saya tidak tau kalau kamu sedang hamil muda. Saya hanya sedang kalut karena kamu dan Imel libur bersamaan. Semoga kamu dan bayimu sehat selalu. Selamat ya Leony" kata Alan penuh penyesalan.
"Terima kasih pak atas doanya."
Mereka masih berdiskusi tentang beberapa hal terkait dengan perencanaan event tahunan. Tapi again Leony berusaha menenangkan hatinya walau dia sedikit kesal dengan Alan yang tidak mengerti dengan istilah istirahat.
Selesai bertelpon ria dengan Alan, Leony pun mematikan ponselnya. Dia tidak mau diganggu lagi oleh urusan pekerjaan Dia benar-benar mau beristirahat.
Ditempat lain, Wingky baru saja selesai dengan rapatnya. Bukan hanya 1 x rapat tapi sampai 3 kali. Persiapan Wisuda mahasiswa memang menguras waktu dan tenaga. Apalagi Wingky menjadi salah satu panitia.
Wingky melirik jam dipergelangan tangannya. Sudah tidak ada waktu untuk makan siang dirumah. Dia kemudian memutuskan untuk menghubungi istrinya sekaligus menanyakan kabarnya hari ini. Tapi sayang nomor ponsel istrinya tidak aktif.
__ADS_1
Wingky pun langsung menghubungi telepon rumahnya tapi hingga panggilan kedua tidak juga diangkat. Wingky jadi khawatir sesuatu terjadi pada istrinya.
Bersambung...