
Aurel melepas pelukan ibunya kemudian berlari ke kamar. Dia menangis sambil meraung-raung. Dia merasa semua tidak adil padanya.
Ayah dan Ibu tidak membujuk lagi. Mereka membiarkan Aurel untuk tenang dulu. Aurel bukan tipe yang gampang dibujuk saat sedang marah. Lebih baik menunggu reda dulu baru bisa dinasehati.
Ibu mengelus rambut Leony.
"Istirahat lah nak. Nanti kita bicara lagi dengan kakak mu kalau sudah lebih tenang" saran sang Ibu.
Leony pun menurut. Dia masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri dan mencari cara agar membuat kakaknya menyadari kalau Izam bukan pria baik-baik.
Leony heran kenapa kakaknya bisa begitu percaya dengan Izam dan malah merasa adiknya yang menggoda. Bukankah kalau sampai Izam tergoda dengan wanita lain itu artinya Izam bukan pria setia? Tapi kenapa Aurel malah mencari pembenaran? Pria yang mudah tergoda akan selalu seperti itu. Itulah yang ada di benak Leony. Tapi dia sendiri bingung cara menyadarkan kakaknya.
...
Pagi datang, mereka sekeluarga sarapan di meja makan tanpa Aurel. Ibu bangun dari duduknya dan mengetuk pintu kamar Aurel. Dia tidak ingin Aurel larut dalam kemarahannya.
Aurel tidak menjawab sama sekali. Ibu hanya menghela nafas berkali-kali. Rasanya sangat sulit membujuk sulungnya itu.
"Biarkan saja bu, biarkan Aurel tenang dulu" kata sang Ayah.
"Ibu pun mengangguk kemudian kembali ke meja makan.
__ADS_1
Saat sarapan yang ada hanya keheningan. Bahkan Fero yang banyak bicara pun memilih diam. Dia tahu keadaan rumah tidak baik-baik saja.
Selesai sarapan Leony berpamitan dengan Ayah Ibunya, saat itu juga Aurel keluar dari kamarnya dengan membawa koper besar.
Ibu yang melihat itu langsung menahan anak sulungnya itu.
"Mau kemana kamu nak?" tanya Ibu khawatir.
"Aku mau pergi aja, gak ada yang sayang sama aku" kata Aurel ketus.
Ayah yang memang memiliki tekanan darah tinggi seketika menjadi murka.
"Masuk ke kamar ! Jangan pernah pergi dalam keadaan marah!" bentak Ayah.
"Kak, kakak ini kenapa sih? Jelas-jelas Izam itu bukan lelaki baik, Kalau dia baik-baik mana mungkin dia tergoda sama aku kan?" tanya Leony marah.
Bukannya sadar Aurel malah semakin marah.
"Jadi kamu ngakuin kalau kamu godain dia? Wanita macam apa kamu?" bentak Aurel sampai menampar pipi adiknya itu. Leony yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu sampai terjatuh saking kagetnya.
"Aurel...!" bentak ayahnya.
__ADS_1
"Dasar suka nyari perhatian, baru aku tampar segitu saja sudah pura-pura jatuh" kata Aurel pula.
Leony sampai kehabisan kata-kata. Kakaknya ini perlu disadarkan segera.
Ibu sampai memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Dia syok melihat putrinya bisa sekasar itu. Tiba-tiba saja Ibu jatuh pingsan.
"Ibu...." teriak mereka bertiga hampir bersamaan.
Ayah segera menangkap tubuh Ibu dan meminta Aurel menyiapkan mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Dalam situasi seperti itu Aurel melupakan marahnya. Dengan panik dia segera menyiapkan mobil. Ayah dan Leony segera membopong tubuh Ibu menuju mobil. Fero yang sudah bersiap ke sekolah panik melihat Ibunya pingsan kemudian ikut membantu membopong Ibunya. Mereka semua naik ke dalam mobil dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Ayah dibantu Leony dan Fero membawa Ibu ke IGD. Sedangkan Aurel memarkirkan mobilnya. Dokter dan perawat jaga langsung memeriksa keadaan Ibu.
Tekanan darah Ibu naik karena syoknya tadi. Masih dilakukan rangkaian pemeriksaan. Selama Ibu diperiksa Aurel menangis begitu pula Leony. Mereka menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Ibu mereka.
Hanya karena masalah yang ditimbulkan oleh orang luar keharmonisan keluarga menjadi rusak. Bahkan Ibu yang mereka sayangi sampai jatuh sakit.
Ayah dari tadi hanya diam saja. Beliau juga mempunyai riwayat tekanan darah tinggi dan rutin mengkonsumsi obat. Tapi Ibu tidak memiliki riwayat itu, maka Ayah cukup syok karena ternyata tiba-tiba tensi Ibu mengalami kenaikan hingga pingsan.
Leony menghampiri ayah.
"Ayah maafin Leony. Ini salah Leony" kata Leony sambil memegang tangan Ayah. Dia sudah menangis sesenggukan.
__ADS_1
Aurel tertegun. Tidak menyangka malah sang adik yang mengaku salah. Padahal jelas-jelas dia yang salah. Aurel sudah sepenuhnya sadar. Tidak seharusnya dia menyalahkan Leony atas kesalahan yang adiknya tidak perbuat.
Bersambung...