
saat istirahat...
Alana bergegas pergi keperpustakaan untuk mengambil buku yang ia butuhkan, tadi guru kelasnya mengatakan akan ada ulangan dadakan untuk pelajaran matematika, alana pun pergi keperpustakaan untuk belajar.
alana menikmati membaca buku pelajarannya, ia memahami segala yang mungkin nanti akan ada saat ulangan.
untunglah diperpustakaan yang besar ini disediakan meja dan kursi untuk mereka yang akan membaca juga belajar diperpustakaan, dan alana mengambil tempat paling pojok agar lebih tenang dan ia bisa melihat langsung pemandangan diluar.
"Al..." panggil seseorang dengan pelan.
alana yang awalnya fokus seketika langsung buyar saat mendengar suara yang begitu ia kenal.
"Raynad.." gumamnya.
alana hanya melamun membuat raynad bingung.
"Al.." ucapnya lagi sambil mengibaskan tangannya didepan wajah alana.
alana pun tersadar.
"Ahh...iya...maaf saya ngelamun!" ucap alana. ia pun kembali tertunduk malu.
"Boleh aku duduk disini?"
"Ngapain?"
"Aku juga mau belajar kayak kamu!"
alana melihat kesekelilingnya, perpustakaan sepi yang duduk dikursi hanya ada alana juga raynad.
"Boleh gak?" tanya raynad lagi.
"Ini tempat umum. kamu gak perlu minta izin sama saya kalo mau duduk." saut alana.
"Oke."
akhirnya raynad duduk didepan alana, sebenarnya sejak raynad datang alana sudah merasakan debaran jantungnya berdetak cukup kencang, bahkan ia malu saat raynad duduk ditempatnya, namun alana mencoba bertingkah biasa saja dan tetap fokus pada bukunya.
"pantes sih kamu ngalahin aku terus, kamu rajin baca sih!" ucap raynad tiba-tiba.
alana menurunkan bukunya dan menatap raynad.
"Maksud kamu?" tanya alana.
"Kamu pantes kok jadi siswi terpintar disekolah, aku perhatiin kamu selalu aja megang buku walaupun lagi istirahat!"
"Oh..itu...saya gak tau lagi harus ngapain, jadi cuma baca buku saya bisa tenang dan semua beban bisa hilang!"
raynad mengangguk.
"yang aku tau kamu juga orang berada, maksud aku kamu salah satu anak pengusaha terkenal, tapi kenapa kamu sekolah pake beasiswa?"
alana hanya tersenyum samar.
"Selagi saya bisa sendiri saya akan berjuang sendiri!"
alana pun merapihkan buku-bukunya, lama-lama dengan raynad membuat alana sama sekali tidak fokus belajar.
sejak dulu alana selalu memuja raynad, tentu jika berdekatan dengan raynad alana akan merasa malu atau mungkin tersipu.
"Saya permisi duluan kekelas ya?" pamitnya.
__ADS_1
raynad dengan cepat-cepat merapihkan buku-bukunya.
"Kalo gitu bareng aja!"
alana hanya bisa mengangguk pasrah, menolak juga alana bingung harus dengan cara apa.
alana dan raynad keluar dari perpustakaan secara bersama-sama sambil membawa buku masing-masing.
suasana diantara mereka begitu sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Ehmm al..." panggil raynad terdengar ragu.
alana pun menoleh kearah raynad. "Iya?" sautnya.
"Kalo hari ini aku anter kamu pulang boleh gak?"
deg...
alana terkejut dengan ajakan yang secara tiba-tiba itu, alana bingung harus menjawab apa.
"Sa..saya dijemput sama...supir!" ucap alana ragu.
"Bilang dari sekarang sama supir kamu, kamu gak usah dijemput."
"Gak bisa. soalnya saya ada acara sama keluarga dan saya harus langsung ketempatnya setelah pulang sekolah." opini alana.
"Aku anter sampai tempat acara keluarga kamu."
alana diam. apa lagi yang akan dia katakan sekarang.
"ALANA!"
pria yang memanggil alana itu adalah rival, dan pria itu berlari menghampiri alana.
"Ada apa?" tanya alana menatap rival penuh tanda tanya.
rival memanggilnya begitu keras hingga sampai sekarang semua orang masih menatapnya.
"Ikut gue!" titah rival dan langsung menggandeng tangan alana begitu saja.
meski terkejut alana tetap diam karna ini bisa jadi alasan ia jauh dari raynad.
namun sebelum pergi alana menoleh kearah raynad dan tersenyum pada pria itu lalu dibalas oleh raynad.
Rival membawa alana ketaman yang ada disamping sekolah, alana sempat bingung kenapa rival menariknya jauh dari orang-orang.
"Rival ada apa?" tanya alana lagi.
"Lo mau nyiksa hati lo sendiri hah?" tanya rival tiba-tiba.
alana bingung dengan apa yang diucapkan oleh pria yang ada dihadapannya itu.
"Gak ngerti maksud gue?" tanya rival.
alana mengangguk.
"Al, kalo lo sayang sama hidup lo, berhenti suka sama orang yang bahkan gak peka sama perasaan lo!"
"ka..kamu
"Iya gue tau, lo gak inget gue? gue rival yang pernah ada saat lo butuh, dan lo lupain begitu aja!" sela rival.
__ADS_1
"Rival? kamu... te..temen masa kecil ku dulu?" ucap alana gugup, alana mulai mengingat ketika ia menatap rival begitu dalam.
"Saat diuks, gue sengaja nyebut nama lengkap gue tapi lo tetep lupa sama gue!"
alana ingat sekarang.
rival adalah sosok pria yang berjasa untuknya, dulu sebelum alana dan bundanya tau jika ayahnya sudah menikah lagi tanpa sepengetahuannya alana juga sering melihat ayah juga bundanya bertengkar, dan semua itu karna ayahnya yang sangat jarang pulang.
dulu waktu alana kelas 4 sekolah dasar alana bertemu dengan rival yang memberinya coklat saat alana menangis, bahkan rival juga mengantar alana pulang kerumahnya.
sejak saat itu rival dan alana sering bertemu, namun sejak alana pulang saat bundanya meninggal alana tidak tau lagi kabar tentang rival dan semua ingatannya tentang masa kecil yang indah hilang seiring dengan hari-hari kelam yang ia jalani.
"Ri..val aku..
"sejak dulu gue emang kecewa sama lo al, tapi gak tau kenapa gue tetep mau deket sama lo." ucap rival.
"Aku minta maaf rival, aku gak ada maksud buat lupain semua kebaikan kamu sama aku." ucap alana sambil menggenggam kedua tangan rival.
rival melepas genggaman tangan itu, lalu ia mengusap kedua pipi alana.
"Al.. tolong lupakan dia, lo sudah mencintai dia sejak dulu tapi apa yang lo dapat hah? lo hanya bisa mencintai dia sendiri dan sakit hati sendiri!" ucap rival penuh dengan kelembutan.
alana meraih tangan rival yang ada dipipinya.
"Alana udah coba kok, sejak dulu aku coba. tapi sekeras apapun aku mencoba, aku tetep gak bisa melupakan dia, aku gak bisa berhenti mencintai dia."
"Perlahan al, gue janji bakal bantu lo!"
alana mengangguk mengiyakan saja ucapan rival.
alana dan rival pun kembali kekelas mereka, alana tak canggung lagi dengan rival karna kini ia ingat bahwa rival adalah orang yang dulu pernah memberinya semangat juga dukungan untuk alana yang dulu selalu terpuruk.
karna alana duduk sendirian, akhirnya rival pindah dan duduk disamping alana, dan alana sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
"Gimana ayah dan bunda lo? mereka udah akur sekarang?" tanya rival.
alana langsung diam dan tidak bicara sama sekali, alana tau bahwa rival tidak mengetahui bagaimana keluarganya juga tentang kematian ayah dan bundanya.
dulu sebelum berita bundanya yang telah tiada itu disiarkan, rival hilang entah kemana.
alana menoleh kearah rival sambil tersenyum samar.
"Mereka baik-baik aja sekarang dan selalu bersama." jawab alana.
alana tidak berbohong.
ayah dan bundanya pasti sudah bersama dialam mereka, hanya alana yang hidup didunia dengan hampa dan tinggal dengan dua wanita yang selalu menyiksanya.
"Lain kali ajak gue main kerumah!" titah rival.seraya menyenggol bahu alana tanpa melihat alana yang sudah meneteskan air mata karna mengingat ayah juga bundanya.
alana menundukkan kepalanya dan mencoba untuk menahan perasaannya saat ini.
"Ayah..bunda..alana kangen kalian.." batin alana.
dari jarak yang tidak jauh raynad melirik kearah rival dan alana.
ia ingin bertanya kenapa tiba-tiba rival bisa duduk disamping alana dan terlihat tidak canggung mengobrol berdua, namun raynad urungkan niatnya untuk bertanya. dia bukan siapa-siapa, hak warga kelas jika mereka memlilih tempat duduk mereka masing-masing selagi tidak merepotkan maka tidak ada masalah.
raynad menahan hatinya meski ia ingin tau apa yang terjadi antara raynad juga alana.
"Apa mereka pacaran ya?" gumam raynad.
__ADS_1