DREAM

DREAM
Lagi


__ADS_3

"Alana..." panggil raynad, alana yang sedang berjalan dikoridor itu menoleh, raynad menghampirinya dengan berlari.


"Al ayo aku anter!" ajak raynad.


"Kemana?" tanya alana dengan polos.


"Kamu mau pulang kan?"


alana diam saja.


bagaimana mungkin alana membiarkan raynad mengantarkan pulang, jika mama atau adik tirinya melihat maka alana akan terkena masalah.


"Tidak usah, nanti ngerepotin kamu." tolak alana.


"Oh gapapa kok. aku anter sampai tempat tujuan kamu!"


"Tapi ray...


"Plis al..."


Melihat raynad yang begitu ingin mengantarnya alana tidak tega untuk menolaknya terus-menerus.


"Gimana?" tanya raynad.


mau tak mau alana pun mengangguk mengiyakan ucapan raynad, raynad terlihat senang lalu menggandeng tangan alana menuju parkiran.


raynad tidak sadar bahwa perlakuannya pada alana membuat alana semakin sulit untuk menghilangkan rasa cinta alana pada raynad.


"Nih al pake helmnya." titah raynad seraya memberikan helm pada alana.


alana diam tak bergeming, ia bingung menatap helm yang diberikan padanya.


"Kamu gak tau cara pake helm?" tanya raynad.


alana menggeleng pelan.


"Bukan tidak tau, tapi kenapa kamu bawa helm dua kesekolah?" tanyanya penasaran.


"Oh itu.. kadang kan rena suka minta dianter pulang kalo gak dijemput, jadi aku selalu bawa helm buat jaga-jaga kalo dia mau minta dianter pulang lagi."


sontak ucapan raynad membuat alana tersenyum getir, seharusnya alana tidak bertanya agar ia tak merasakan sakit hati lagi dan lagi.


alana memakai helm yang selalu senantiasa digunakan oleh rena, alana hanya bisa pasrah dan langsung naik kemotor raynad.


"Kamu gak anter rena pulang?" tanya alana ragu.


"Rena hari ini dijemput jadi gak aku anter." saut raynad.


raynad segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.


jalanan yang lumayan ramai itu membuat alana hanya bisa memandangnya, alana begitu senang melihat banyak orang-orang tertawa dan bahagia disekitarnya, bukan hanya para pengendara, alana juga melihat beberapa orang yang berjalan kaki bersama dan mereka tertawa bahagia, alana sangat iri akan hal itu dan alana ingin mengingat kapan terakhir kali alana bahagia.


"Al.." panggil raynad.


alana yang sedang melamun pun terkejut.


"Iya?" sautnya.

__ADS_1


"Kenapa bengong?" tanya raynad lewat kaca spion, saat ini mereka sedang berhenti dilampu merah.


"Gapapa kok, cuma cape aja!"


"Kamu pegangan ya aku takut nanti kamu ketiduran terus jatuh."


alana hanya tersenyum tipis. "saya gak ngantuk!"


lampu merah berganti warna menjadi hijau, raynad kembali melajukan motornya.


keduanya hanya diam, namun tiba-tiba rasa penasaran raynad kembali muncul.


raynad pun kembali melirik kearah alana. "Al mau nanya boleh gak?"


"Apa?" tanya balik alana.


"Kamu sama rival itu pacaran ya? kalian keliatan deket?"


sontak mata alana membulat lebar mendengar ucapan raynad.


"Ti..tidak.. ke..napa kamu berfikir seperti itu?" tanya alana gugup.


"Aku melihat kalian begitu romantis saat dikelas tadi, rival juga tiba-tiba pindah tempat duduk jadi disamping kamu jadi aku fikir mungkin kalian pacaran!"


"Enggak kok. saya dan rival hanya berteman!"


raynad mengangguk mengerti. "Baru aja aku mau minta traktiran kalo kamu beneran pacaran sama rival."


alana diam, kenapa raynad begitu ingin alana jadian dengan orang lain padahal hati alana hanya untuknya, alana pun menggeleng pelan, ia menghapus segala perasaan sedihnya dan kembali ke logikanya. kenapa alana berharap raynad akan menyukainya dan cemburu jika alana berdekatan dengan orang lain, itu tidak akan terjadi.


raynad menatap rumah alana yang megah nan mewah itu. Raynad benar-benar terperangah dengan rumah alana.


"Rumahnya bener-bener mewah ya, kamu pasti hidup dengan sangat bahagia."


alana tersenyum samar. "Iya. terima kasih raynad sudah mengantar saya!" ucap alana.


"Gak mau ajak aku mampir dulu gitu sambil sediain minuman?"


alana terkejut. "saya..


Tiba-tiba raynad terkekeh. "Bercanda kok. aku gak mau ngerepotin kamu!"


alana bernafas lega, untunglah itu hanya bercanda jika serius maka alana akan bingung nanti akan mengatakan apa pada mayang.


"Aku pamit ya udah mau gelap nih!" pamit raynad.


"Iya. makasih sekali lagi ray!"


"Oke. aku pamit ya sampai ketemu besok al!"


"Iya.."


raynad pun pergi dengan mengendarai motornya, alana menatap motor raynad yang semakin menjauh.


baru lah alana memasuki rumahnya.


"Siapa tuh tadi?" tanya seorang tiba-tiba. alana terkejut saat melihat kania sudah berdiri didepan pintu masuk rumahnya.

__ADS_1


"Bu...bukan siapa-siapa!" jawab alana gugup sambil menundukan kepalanya.


tiba-tiba kania mendekat dan menarik rambut alana dengan kencang hingga alana terpekik kesakitan.


"Aww..aww.. kania tolong lepasin..sakit!" rintih alana.


"Udah berani lo hah bawa cowok kerumah? udah berani?" bentak kania.


"Enggak..i..tu hanya temen sekelas aku kania..dia..cuma nganter aku pulang!"


"Ada apa ini?" tanya mayang yang baru saja keluar.


kania mendorong tubuh alana hingga jatuh kelantai dan membuat alana lagi-lagi kesakitan.


"Tuh ma.. anak gak tau diri itu udah berani bawa cowok kerumah!" ucap kania pada mayang.


"Apa?" kejut mayang.


mayang jongkok dan menyamai tinggi alana yang duduk sambil menunduk dan menangis.


plak...


tiba-tiba mayang menampar alana cukup keras hingga alana merasakan sangat sakit pada pipi kanannya.


"Berani kamu hah? berani kamu dengan seenaknya membawa cowok kerumah?!" bentak mayang.


"Enggak ma..dia hanya mengantar alana pulang..dia hanya teman alana ma.." ucap alana kini gadis itu sudah terisak.


baru saja pulang sekolah dia sudah disambut dengan kejam seperti ini, alana memang selalu mendapat perlakuan kasar dari mama juga adik tirinya.


mayang menarik rambut alana dengan kencang hingga mau tak mau alana mendongakan kepalanya dan melihat kearah mayang yang menatapnya dengan penuh amarah.


"Jika kamu berani mengadukan apapun pada siapapun, jangan harap kamu dan pamanmu itu bisa hidup dengan tenang!" kecam mayang.


mayang langsung menghempaskan alana begitu saja hingga membuat kepala alana terbentur dengan lantai dan meninggalkan bekas memar.


alana hanya bisa menangis penuh dengan isakan memilukan.


alana pun masuk kerumahnya dan masuk kedalam kamarnya.


alana mengambil foto dirinya saat bersama dengan ayah dan bundanya dulu saat mereka pergi liburan.


alana melihat dirinya difoto itu hidup dengan bahagia, senyum tanpa beban itu dulu dengan mudah alana tampakan, namun saat ini tidak ada yang bisa membuat alana tersenyum seperti dulu.


alana memeluk foto itu dengan erat sambil menangis, air mata tak henti-henti keluar dari mata gadis itu.


"Ayah..bunda.. alana kangen kalian, alana mau bersama kalian, alana gak kuat disini, alana sendirian yah..bun.." gumamnya.


"MALAM INI KAMU GAK BOLEH MAKAN DAN SAYA AKAN KURUNG KAMU DIKAMAR!" mayang berteriak dan mengunci alana dikamar.


alana sama sekali tak perduli, ini bukan kali pertama alana tidak diberi makan dan dikunci dikamarnya sendiri, alana sering kali mengalaminya.


alana bahkan tidak mengobati lukanya, semua rasa sakit yang alana rasakan pada tubuhnya tidak lebih sakit dari perasaannya yang selalu tersakiti dan merasakan kesepian.


semalaman penuh alana menangis dan terus menangis, ia bahkan belum mengganti pakaian sekolahnya juga belum melepas sepatu sekolahnya.


perasaan alana kini semakin sulit untuk dikendalikan, alana merasa hidupnya sudah hancur dan tidak ada yang bisa mengubahnya.

__ADS_1


__ADS_2