
Raynad dengan setia menunggu alana bangun, tadi saat penjaga uks keluar dari ruang uks mengatakan jika alana pingsan karna terkejut juga karna lemparan bola basket itu, untung saja tidak ada yang parah namun mungkin alana mengalami pusing berat.
setelah itu raynad pun izin masuk dan menemui alana yang masih memejamkan matanya. raynad begitu tidak tega melihat alana yang terbaring lemah diatas brankar, raynad sedari tadi mencoba membangunkan alana agar gadis itu bicara padanya, namun tak berhasil.
tak lama pintu uks terbuka, raynad pun menoleh dan mendapati rena yang masuk keruang uks.
belum juga menghampirinya raynad berdiri dan mengajak rena keluar dari uks.
"Kenapa ray?" tanya rena bingung.
kini mereka berdiri didepan pintu ruang uks.
"Kenapa? aku yang seharusnya nanya kenapa kamu lempar bola dengan kencang sampai alana pingsan kayak gitu?" tanya balik raynad.
rena menunduk dan tersenyum miring. "Karna emang itu yang aku inginkan!" batinnya.
"Aku gak sengaja ray, aku liat alana begitu jago main basket jadi aku oper bola ke dia supaya dia bisa cetak point lagi!" jelas rena dengan memasang wajah bersalah.
"Tapi gak harus dengan kencang juga kan?"
rena pun dengan perlahan memegang tangan raynad. "Aku minta maaf ray, aku gak sengaja!"
tapi dari jendela dalam uks, alana yang sudah sadar melihat rena yang lagi-lagi memegang tangan raynad. alana tidak bisa dengar apa yang dibicarakan oleh raynad dan rena, tapi alana yakin itu adalah hal yang serius.
"Bahkan saat aku sakit seperti ini, aku masih harus melihat pemandangan ini..." batin alana. merasa tak kuat alana pun kembali duduk dibrankarnya dan menangis tanpa isakan.
ceklek...
pintu uks terbuka, alana dengan cepat menghapus jejak air matanya dan menoleh kearah pintu.
lelaki yang alana tidak begitu kenal bermata hitam legam itu menatap alana.
tak lama raynad dan rena pun masuk.
"Udah saya bilang...
ucapan raynad berhenti ketika raynad melihat alana yang terduduk dibrankar dengan mata terbuka.
"Alana.." panggilnya.
sontak alana pun tersenyum pada raynad.
raynad hendak menghampiri alana, namun pria yang datang tadi langsung menghalangi raynad dengan merentangkan tangannya.
raynad menatap pria itu dengan bingung.
"Tolong minggir val, saya mau melihat kondisi alana!" titah raynad.
"pergi!" titah pria itu dengan nada dingin.
"Apa maksud nya?"
"ada yang mau gue bicarain sama dia, jadi lo pergi dari sini!" tegas pria itu.
__ADS_1
"Apa yang mau kalian bicarakan?"
pria itu melirik kearah raynad dengan tatapan tajam. "Bukan urusan lo! pergi dan ajak cewek lo itu!" kecamnya.
raynad menghela nafas pelan, ia pun menatap kearah alana yang hanya menatap kearahnya dengan bingung.
"Al aku tunggu didepan, aku akan masuk kalo kalian udah selesai ngomongnya!" pamit raynad.
alana hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
raynad dan rena pun keluar dari ruang uks. tinggallah hanya alana dan pria itu yang menghampirinya dengan tatapan tajam, alana mulai ketakutan ketika pria itu mendekat.
pria itu menarik kursi yang ada disamping brankar alana.
"Razka Rival Ananta, rival!" ucap pria itu sambil duduk.
dan ya, itu adalah rival lawan tim basket raynad tadi.
tak ada yang bersuara lagi, alana hanya diam dan menunduk takut karna rival terus-terusan menatapnya dan membuat alana takut, apalagi tatapan itu sangat tajam.
"Lo?" tanya rival tanpa ekspresi apapun.
alana tambah takut, ia sama sekali tidak bisa membuka mulutnya untuk bicara.
rival hanya bisa tersenyum miring saat alana mengabaikannya.
rival pun memberikan sebuah kotak makan juga air mineral kedepan alana.
"Abisin. bekal gue!" ucapnya.
"Kenapa? kaget cowok kayak gue bawa bekal?" tanya rival.
Alana mengangguk tanpa ragu. "Bahkan cowok yang netral aja gak mungkin bawa bekal!" ucapnya tanpa sadar. alana menepuk mulutnya yang akhirnya bicara itu.
"Gue bawa bekal karna orang tua gue sayang sama gue dan gak mau gue jajan sembarangan!"
alana tersenyum getir lalu mengambil kotak bekal itu dan memberinya lagi kehadapan rival.
"Maka ini harus kamu habiskan sendiri, hargai selagi orang tua kamu sangat menyayangi kamu!" ucapnya.
rival yang melihat aura wajah alana yang menjadi redup pun memegang pipi alana.
"Kenapa?" tanya rival.
meski terkejut entah kenapa tangan rival dipipi nya sangat menghangatkan hatinya, sentuhan itu membuat alana merasa nyaman.
"tidak!" jawab alana sambil memegang tangan rival dan melepasnya ketika sudah terjauh dari pipinya.
"Bisakah kamu tinggalkan saya sendirian?" tanya alana.
"Makanlah dan gue akan pergi!"
"Itu makanan kamu, saya tidak mau memakannya."
__ADS_1
"Tidak baik menolak rezeki."
alana diam, kemudian ia menghela nafas pelan lalu kembali mengambil kotak bekal juga air mineral yang disodorkan rival.
"Saya sudah mengambilnya, sekarang bisa tolong tinggalkan saya?" ucap alana.
rival menganggukan kepala sambil berdiri. "gue bakal balik kesini buat mastiin makanan itu habis!"
setelah mengatakan itu akhirnya rival keluar dari ruang uks dan meninggalkan alana yang hanya menatap nanar kearahnya.
alana bukan sombong atau tidak mau berdekatan dengan rival, hanya saja suasana hati nya saat ini benar-benar buruk dan alana butuh waktu untuk menenangkan hatinya.
sementara itu diluar uks..
rival menutup pintu uks setelah keluar dari sana dan ia melihat raynad juga rena masih ada didepan ruang uks.
rival enggan menatap kedua orang itu, begitu pula dengan raynad saat raynad ingin melangkah masuk tiba-tiba rival merentangkan tangan kanannya dan menghalangi pintu masuk.
"Tolong minggir!" ucap raynad.
"Alana butuh istirahat dan gak mau diganggu, kalo lo mau menghargai dia gue saranin jangan masuk!" ucap rival dengan wajah datar lalu melenggang pergi begitu saja.
mendengar itu sontak raynad mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam uks, ia menghargai keinginan alana.
"Udah yuk ray masuk kelas!" ajak rena.
"Kamu duluan aja."
"Tadi kan rival bilang alana lagi istirahat, kamu disini juga percuma."
"Kamu duluan aja, aku mau ketempat lain!"
setelah itu raynad melangkah sendiri meninggalkan rena yang hanya berdiri mematung melihat sikap raynad yang mendadak acuh padanya.
###
pulang sekolah...
alana segara mengambil tas nya dan hendak pulang, namun baru saja ingin keluar dari kelas alana dihadang oleh dua pria dan itu adalah raynad dan rival.
awalnya alana terkejut, namun ia hanya memasang wajah datar saja dan diam melihat kedua pria yang berdiri menghalangi jalannya.
"Biar gue anter pulang?" ajak rival.
"Terima kasih atas tawarannya, saya mau pulang sendiri saja."
"Gimana kalo aku yang anter?" tanya raynad tiba-tiba.
alana hanya menatap raynad bingung, alana memang menunggu moment ini, namun alana tidak bisa.
alana menggeleng pelan. "Terima kasih! saya duluan!"
alana pun melenggang pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
sementara rival dan raynad hanya bisa menatap kepergian alana.