DREAM

DREAM
Razka Rival Ananta


__ADS_3

Rival mengajak alana untuk makan siang, sebenarnya rival bukan tidak punya teman tapi rival memang jarang bergaul disekolah dan cenderung lebih aktif diluar sekolah, teman disekolahnya pun menjadi teman satu mainnya diluar hanya saja mereka lebih tua dan berbeda kelas.


dan rival mengetahui dari salah satu temannya jika alana saat jam pelajaran, bagaimana teman rival tau padahal mereka bukan satu kelas? jawabannya simpel, teman rival itu hendak membolos dan tidur diuks namun ia berpapasan dengan alana yang dipapah oleh raynad.


"Kita kenapa kesini?" tanya alana bingung.


"Ya makan dong alana, emang mau ngapain lagi?" ucap rival.


"Aku kan mau pulang kenapa malah kemari?"


"Makan dulu baru pulang!"


"Nanti alana bisa makan dirumah."


"Nanti lo lupa dan gak makan lagi!"


"Maksud kamu?"


rival menghela nafas pelan. "Meskipun gue gak disekolah gue tau kok lo tadi sakit kan karna gak makan?"


alana terkejut, bagaimana rival bisa tau jika dirinya sakit tadi.


"Gimana...


"Gimana gue tau soal itu?" sela rival


"Iyaaa. " jawab alana mengangguk.


"Al gini-gini gue perhatian sama lo!"


alana hanya tersenyum menanggapi ucapan rival.


tak lama makanan sampai, padahal alana belum memesan bahkan sempat memilih menunya.


"Yuk makan, lo kebanyakan nanya jadi gue pesen duluan makanannya!" ucap rival.


alana hanya mengangguk.


dia cemas jika pulang terlambat, alana yakin mayang akan marah lagi padanya.


melihat alana makan dengan lahap membuat rival senang, ia melihat alana kesulitan makan karna rambut yang menghalanginya rival tanpa bicara lagi rival menyibakkan rambut alana dan alana terkejut.


sama dengan alana, rival juga terkejut saat melihat memar yang ditutupi dirambut alana itu.


"Al ini kenapa?" tanya rival.


alana sedikit meringis ketika rival memegang bekas memarnya yang kemarin jatuh saat mayang mendorongnya.


"Ini kenapa al?" tanya rival lagi.


alana hanya bungkam, alana tidak menjawab sama sekali karna ia tak berani membuka suaranya.


rival memegang bahu alana. "Al ngomong sama gue!" tegasnya.


belum alana buka suara tiba-tiba tangan rival yang ada dibahu alana terlepas begitu saja.

__ADS_1


"Udah tau ada memar bukannya seharusnya diobatin!" kecam seseorang.


alana sontak terkejut dengan suara itu, alana kenal dan sangat familiar dengan suara ini.


Alana menoleh kebelakang dan melihat raynad berdiri dibelakangnya.


"Ngapain lo disini?" tanya rival dengan tatapan dingin.


tanpa menjawab rival, raynad langsung berlutut dan menarik kursi alana agar alana menghadapnya, entah sejak kapan tapi raynad sudah membawa kompres es untuk mengompres memar didahi alana.


raynad memang tidak pergi dan terus mengikuti alana juga rival, raynad tidak tau apa yang ia lakukan hingga mengikuti mereka, namun entah kenapa raynad ingin sekali selalu bersama alana.


alana membeku saat raynad yang berlutut didepannya, mengompres memar didahinya dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah alana.


meski alana takut, namun ia merasa nyaman saat wajah raynad yang begitu menenangkan hatinya ada didepan wajahnya.


sedangkan rival hanya menatap dingin kearah raynad. entah datang dari mana pria itu hingga mengganggu dirinya juga alana.


"Apa ini sakit?" tanya raynad.


alana mengangguk ragu. "Se..dikit!" jawabnya.


"bagaimana kamu bisa memar seperti ini? aku juga tidak menyadarinya, padahal aku yang menemani kamu diuks!"


"A..aku menutupinya dengan ram..but!"


"Lain kali jangan ditutup-tutupi kalo terluka."


alana hanya mengangguk mengiyakan saja, alana tidak tau akan seperti ini, alana selalu mencoba untuk menyerah pada perasaannya yang tidak pernah tersampaikan dan tidak pernah terbalaskan namun kini raynad sudah dekat bahkan menjadi temannya, alana menjadi bimbang apa ia masih harus memperjuangkan cintanya atau dia harus tetap menyerah.


"Kania.." gumam alana.


****


alana sampai didepan gerbang rumahnya, pada awalnya alana menolak ajakan raynad juga rival namun kini dia justru diantarakan oleh keduanya dengan berjalan kaki.


"Terima kasih raynad, rival.." ucap alana hendak masuk kedalam rumahnya.


"Sama-sama!" jawab mereka berdua.


"Al jangan lupa makan ya!" ucap raynad.


rival hanya melirik kesal kearahnya.


"alana istirahat yang banyak ya, lo masih sakit!" ucap rival.


tiba-tiba pintu gerbang rumah alana terbuka dan kania beserta mayang yang sepertinya hendak pergi melihat adanya alana bersama dengan dua pria.


alana terkejut melihat mayang yang keluar dari rumah, yang membuat alana takut saat mayang melihat dirinya dengan raynad dan rival, entah apa yang akan terjadi lagi pada alana.


rival menyenggol bahu alana yang hanya melamun.


"Al dia siapa?" tanya rival berbisik.


alana diam, alana menatap mata mayang yang terlihat adanya api kemarahan disana.

__ADS_1


sedangkan mata kania melihat kearah dua pria tampan yang ada disisi alana, kania kenal kedua pria itu.


"Alana kenapa berdiri disitu? kenapa pulang terlambat?" tanya mayang dengan nada santai, namun alana yakin sebenarnya mayang sangat marah padanya.


"Alana tadi pergi sebentar ma sama rival juga raynad, mereka teman alana!" jawab alana.


raynad dan rival yang awalnya diam saja akhirnya tau jika wanita setengah baya yang ada didepan mereka adalah mama alana.


raynad dan rival menghampiri mayang lalu mengecup punggung tangan wanita itu.


"Halo tante saya raynad, teman alana!"


"Saya rival tante, teman kecil alana!"


sedangkan alana hanya diam, alana menunduk dan menangis. raynad dan rival sama-sama tidak tau apa yang akan terjadi pada alana nantinya jika mereka sudah pulang.


"Halo saya mayang, saya mama alana dan ini adik alana namanya kania!" ucap mayang.


sedangkan kania yang diperkenalkan oleh mama nya hanya bisa memasang wajah sok cantiknya dan terlihat malu-malu, melihat itu rival hanya tersenyum miring karna ia mengenal siapa kania.


"Kalo gitu kami permisi ya tante ini udah sore dan kami harus pulang!" ucap raynad.


rival mengangguk mengiyakan ucapan raynad.


"Baiklah. terima kasih ya kalian udah mengantar alana!" ucap mayang.


"Iya tante sama-sama!" jawab raynad dan rival bersama.


rival dan raynad menghampiri alana yang hanya berdiri menunduk.


"Alana gue pulang dulu ya!" ucap rival.


alana sama sekali tak merespon, alana hanya menangis dalam diam karna ia tak berani membuka suara.


"Al?" panggil raynad seraya menepuk bahu alana.


"I..ya terima ka..sih kalian udah anter aku." jawab alana dengan suara beratnya.


mendengar suara alana yang seperti seseorang habis menangis rival dan raynad saling berpandangan lalu kembali melihat alana.


"Al kamu kenapa?" tanya raynad.


"Alana ayo masuk!" ajak mayang.


alana mengangguk, tanpa mengidahkan pertanyaan dari raynad alana berjalan masuk kedalam rumahnya sambil menunduk terus. raynad dan rival yang melihatnya hanya kebingungan.


"Itu alana kenapa?" tanya raynad.


"Mana gue tau, kan tadi baru mau nanya!" jawab rival.


"perasaan saya gak enak!"


"Udahlah masih ada besok buat nanya, nanti gue yang nanyain, gue balik duluan!" pamit rival sambil menepuk bahu raynad.


namun raynad hanya menatap kearah gerbang rumah alana, entah kenapa ia merasakan hal lain dan membuat perasaannya tidak tenang pada alana.

__ADS_1


raynad tepis fikiran itu lalu melangkah pergi meninggalkan rumah alana.


__ADS_2