
Leony telah melakulan daftar ulang dan merima segala perlengkapan untuk persiapan ospek.
Leony letakkan perlengkapan itu di dalam tas kain berwarna biru. Saat memasukkan baju dan perlengkapan itu ke dalam tas. Posisi kepala Leony menunduk saat itu, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang. Angin saat itu memang bertiup cukup kencang, rambut Leony yang pirang tergerai indah terlihat mendayu dayu di terpa angin. Leony torehkan kepala pada sumber tangan yang menyentuh pundaknya.
Dia bukan melihat pada sosok yang menyentuh pundaknya. Tapi pada sosok yang berdiri dibelakang orang itu. Lama Leony pandangi sosok yang sangat dia rindukan itu. Rambutnya yang mendayu itu membuat wajahnya semakin terlihat cantik.
Antony yang menepuk pundaknya pun tidak bisa menutupi rasa kagumnya. Dia terkagum dengan sosok Leony yang boleh dibilang ini pertemuan kedua mereka. Walau dulu pernah melihat lagi sekali saat Leony membawakan baju untuk Doni tapi Antony tidak menganggap itu sebuah pertemuan karena hanya dia yang melihat Leony, tapi Leony tidak.
"Ingat sama aku?" pertanyaan Antony menyadarkan keterkejutan Leony melihat sosok itu. Suami masa depannya. Siapa lagi kalau bukan Wingky. Kulit sawo matangnya telihat pucat, akibat terlalu lama diluar negeri. Leony jadi yakin kalau Wingky memang menetap di luar negeri melihat perubahan warna kulitnya.
Leony tersenyum.
"Apa kabar kak?" sapa Leony lembut.
"Kirain lupa" balas Antony cengengesan, "Oh iya kenalin temen aku" kata Antony memperkenalkan Wingky.
"Hay Ky, apa kabar?" tanya Leony ramah pada Wingky.
"Kalian saling kenal?" tanya Antony.
"Halo Leony, senang bertemu dengan mu lagi" balas Wingky tidak sedingin awal pertemuan mereka dulu.
"Kami dulu satu tempat kursus" Wingky yang menjawab.
__ADS_1
"Oh..." Antony hanya ber oh ria.
"Kamu kuliah disini?" tanya Antony pula.
Leony pun mengangguk sebagai jawaban.
"Jurusan apa?" Antony mengajukan banyak pertanyaan.
"Aku dapat beasiswa kak, maunya ambil ekonomi tapi dapatnya bahasa Inggris. Kakak Kuliah lagi?" tanya Leony basa basi. Walau dia sudah tahu jawabannya.
Antony merangkul Wingky.
"Iya, berarti kita bertiga sama-sama bahasa Inggris. Semoga bisa sekelas ya" kata Antony semangat.
"Kalau gitu aku duluan ya kak, Ky" kata Leony berpamitan.
Wingky mengangguk sedangkan Antony seperti tidak rela.
"Yah... Baru juga ketemu. Mau langsung pulang?" tanya Antony kecewa.
Leony tersenyum. Senyuman yang membuat Antony terhipnotis seketika. Dia terlihat cantik sekali ketika tersenyum.
"Iya kak, aku haru pulang mempersiapkan alat ospek besok" jawab Leony.
__ADS_1
Antony pun terpaksa mengangguk.
Mereka pun berpisah. Leony menuju motornya sedangkan Antony dan Wingky melanjutkan proaes pendaftaran yang tertunda tadi.
"Waktu ini kamu bilang gak kenal sama Leony?" tanya Antony menginterogasi.
"Kapan?" tanya Wingky pura-pura tidak tahu.
"Itu waktu di futsal" jawab Antony.
Wingky yang sebenarnya ingat berpura-pura tidak ingat, mengingat Antony terlihat begitu tertarik pada Leony. Lebih baik pura-pura lupa. Itu yang ada dipikiran Wingky.
"Gak inget aku. Emang ada bahas Leony? Aku kenal Leony saat kelas 11, kami sekelas saat kursus" jelas Wingky.
Antony pun menganguk tanda mengerti.
"Gimana dia di kelas?" dari pertanyaannya sangat terlihat kalau Antony begitu antusias.
"Kamu lihat tadi dia cantik banget, tambah cantik dari pertama kali aku ketemu. Baru sekali ketemu aku sudah bisa mengingat wajahnya. Jarang aku bisa ingat wajah seseorang" imbih Antony.
Jujur Wingky bingung menanggapi keantusiasan Antony.
Bersambung...
__ADS_1