DREAM

DREAM
Mengalah


__ADS_3

Orang tua Leony pulang di jam 1 siang hari minggu. Mereka tidak menyangka kalau rumah akan bersih saat ditinggal. Maklum anak-anaknya jarang yang peduli dengan kebersihan rumah. Biasanya Ibunya sendiri yang bersih-bersih.


Lebih terkejut ketika melihat makanan di atas meja. Fero sedang makan saat kedua orang tuanya baru sampai.


"Siapa yang masak Fer?" tanya sang Ibu heran.


"Kakak" jawab Fero singkat karena masih sibuk mengunyah.


"Aurel masak?" tanya Ibu yang mengira Aurel anak tertua yang masak.


Fero menggeleng.


"Leony" jawabnya kemudian.


Semakin heranlah si Ibu. Bagaimana anak nomor duanya itu bisa masak? Memang beberapa bulan ini banyak sekali perubahan pada anaknya dan tentu saja perubahan ke arah positif.


Ayah dan Ibunya kemudian juga ikut duduk di meja makan dan mencoba masakan Leony. Ada ayam bakar , kol goreng, sambal terasi dan udang goreng tepung.


"Beneran ini masakan Leony?" Ayahnya yang bertanya.


Fero mengangguk.


"Dari ayah dan ibu pergi dia yang masakin aku. Kemarin malam aja di gak pulang. Tadi jam 10 datang udah langsung masak" jawab Fero.


Ayah dan Ibunya saling berpandangan.


Heran tentu saja.


Bagaimana mungkin anaknya yang belum genap 17 tahun sama sekali tidak pernah masuk dapur, tiba-tiba bisa masak dan rasanya enak.


"Dimana kakak mu?" tanya Ayahnya lagi.


"Biasa, luluran. Tadi habis beresin rumah langsung ke kamar" jawab Fero sambil menjilat sisa sambel di tangannya. Sesuka itu dia dengan sambel terasi buatan Leony.


Ibunya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Cuma kebiasaan itu yang belum berubah dari anaknya. Kalu mandi pasti lama.


Fero terlah menyelesaikan makannya. Dia kemudian mengambil piringnya dan langsung mencucinya di dapur.


Lagi Ibunya terheran. Anak bungsunya ini ternyata mau mencuci piring selesai makan. Biasanya langsung ditinggal.


Fero yang seolah mengerti tatapan heran ibunya langsung menjelaskan ketika telah sampai di meja makan.


"Kakak ngomel kalau habis makan aku gak langsung cuci. Dia katanya sudah capek masak, masak aku cuci piring bekas aku aja gak mau" jelas Fero yangs sektika membuat ibu dan ayahnya tersenyum. Sangat bangga dengan anak-anaknya.


"Lalu Aurel mana?" tanya Ayahnya yang belum melihat Aurel dari tadi. Biasanya dia akan cerewet menanyai ini itu dan meminta oleh-oleh ketika ditinggal ke luar kota.

__ADS_1


"Pergi dari pagi. Leony pulang Aurel langsung pergi. Mereka berantem" sahut Fero santai.


"Berantem kenapa?" tanya sang ibu khawatir. Baru ditinggal beberapa hari anaknya sudah cekcok.


Fero pun menggidikkan bahu tanda tidak tahu.


Tak lama Leony sudah keluar dari kamar Wajahnya sudah terlihat sangat segar dan cantik.


Dia langsung memeluk Ibu dan Ayahnya yang masih makan masakannya sendiri.


"Enak tidak bu?" tanya Leony pada sang Ibu.


"Enak banget. Belajar masak dimana?" tanya Ibunya.


"Di Youtube" jawabnya santai. Padahal Ibunya tidak tahu apa itu Youtube.


"Apa itu? " ayahnya yang bertanya.


"itu platform yang isinya video tentang apa aja" jelas Leony.


Ayah dan Ibunya pun manggut manggut tanda mengerti.


Ibu dan Ayahnya telah selesai makan. Mereka mengajak kedua anaknya untuk berbicara di ruang tamu.


Leony pun mengangguk.


"Kakak salah paham. Dia kira aku sengaja habis masak langsung mandi untuk menggoda pacarnya." jawab Leony kesal.


"Ibu kan tahu habis masak itu memang gerah dan kalau aku mandi pasti lama" lanjutnya.


"Masak dia lebih percaya sama pacarnya" jelas Leony pula.


Ibunya mengangguk mengerti.


"Kemarin juga Kak Izam nyamperin aku di sekolah, dia nawarin mau nganter pulang padahal dia tahu sendiri aku udah bawa motor. Dia juga ngikutin aku bu, makanya aku nginap di rumah Jasmine".


Ayah Leony terlihat gusar ketika mendengar cerita anaknya. Dia percaya putri keduanya tidak mungkin berbohong.


"Kita harus kasi tahu Aurel untuk berhenti berhubungan dengan pria seperti itu" kata Ayah Leony tegas.


Ibu mengelus pelan lengan Ayah.


"Sabar, Ayah kan tahu Aurel wataknya gimana. Kita harus pelan-pelan ngasi tau nya" kata Ibu menenangkan.


"Jujur aku takut banget sama Kak Izam, dia liatin aku terus saat makan" Leony mengeluarkan semua isi hatinya.

__ADS_1


"Sekarang sudah ada Ayah sama Ibu di rumah, dia tidak akan berani macam-macam" kata sang Ibu.


....


"Rel, Ayah mau bicara sama kamu" Ayah langsunh mengajak Aurel bicara saat baru saja tiba dirumah. Ayah sengaja menunggu di teras agar langsung bisa bicara.


"Ini pasti Leony cerita macam-macam" batin Aurel sebal.


!1


"Ayo masuk dulu" kata Ayah sambil merangkul pundak Aurel. Ayah mengajak Aurel berbicara diruang TV. Ibu juga datang menghampiri bersama Leony.


Saat Leony sudah bergabung, Ayah meminta Leony menceritakan apa yang terjadi.


Leony mulai bercerita tanpa ada yang dia tambahkan.


"Gak mungkin Izam kayak gitu, bilang aja kamu suka sama pacar aku kan?" kata Aurel dengan suara meninggi. Aurel masih dibutakan oleh cintanya pada Izam. Izam yang setiap saat perhatian dan pengertian membuay Aurel tidak percaya dengan cerita adiknya sendiri.


"Rel, dengarkan dulu cerita adikmu" tegur Ayahnya.


"Ayah sama Ibu pasti belain dia karena dia anak kesayangan kalian kan? Dia pintar di sekolah, rajin membantu Ibu, terus sekarang pintar masak. Pantesan dia gede kepala" Aurel bahkan sudah berdiri dari duduknya.


Leony tidak menjawab sekali pun. Dia tahu kakaknya sedang dalam mode marah tidak akan mempan dibujuk seperti apapun. Tapi marahnya Aurel hanya sebentar biasanya, ketika dia mulai sadar, dia akan mulai bisa berpikir jernih.


"Rel, apa pernah ayah dan ibu membandingkan kalian semua?" tanya Ayah masih berusaha berbicara setenang mungkin. Ayah juga sudah sangat paham watak anaknya.


Aurel sudah menangis, dia kesal, marah, benci semua jadi satu.


"Kenapa sih selalu kamu yang dapetin yang aku mau, kamu pinter dan jadi kebanggaan orang tua terus sekarang pacar aku pun tertarik sama kamu, coba kamu diposisi aku sekali aja" Aurel berkata sudah berderai air mata.


Leony membelalakkan mata tidak percaya.


Bagaimana bisa kakaknya berpikiran seperti itu. Harusnya dia yang merasa malu memiliki saudara seperti Aurel.


Aurel sangat cantik, mempunyai banyak teman, apa adanya dan tentunya dia bekerja di tempat bonafit. Apa yang kurang dari seorang Aurel? Kenapa dia malah iri dengan adiknya yang bahkan belum menjadi apa-apa.


Ibu berdiri kemudian memeluk Aurel.


"Ibu bangga sama semua anak Ibu, kamu tidak boleh merasa kalau Ibu hanya bangga pada Leony. Ibu bangga pada semuanya. Ibu sayang sama semuanya" kata Ibu seraya mengelus rambut putri pertamanya.


Leony menghela nafas berkali-kali. Hampir saja dia meluapkan kekesalannya. Tapi mendengar Aurel yang ternyata iri padanya membuat Leony lebih baik mengalah.


Mengalah belum tentu kalah. Walau Leony tidak salah sedikitpun.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2