DREAM

DREAM
Mengajar


__ADS_3

Antony menatap curiga pada gerak-gerik Wingky. Bagaimanapun dia yang paling dewasa disana. Dia tau apa yang kemungkinan dilakukan oleh Wingky.


Antony bangkit dari duduknya berpura-pura pergi ke toilet. Dengan cepat Wingky meletakkan kembali ponselnya.


Antony yang melihat itu menyeringai tipis. 


“Ada yang mau ikut ke toilet?” tawar Antony dengan isengnya.


“Ke toilet aja ngajak-ngajak” celetuk Daniel tanpa melihat ke arah Antony.


Antony hanya terkekeh kemudian menuju toilet.


Mereka kembali berdiskusi sambil menunggu Antony yang tengah ke toilet. Leony dan Daniel nampak berdebat tentang cara pandang mereka masing-masing. Wingky rasanya gatal tidak mengambil gambar Leony yang terlihat menggemaskan itu. Dia kembali mengambil ponselnya dan berpura-pura mengirimkan pesan pada seseorang. Antony yang melihat jelas apa yang dilakukan Wingky hanya bisa tersenyum. Dia iseng mengambil gambar Wingky yang tengah mengambil foto Leony secara diam-diam. Dia juga membuat videonya. Antony kembali tertawa kecil mendapat bukti nyata kelakuan Wingky.


“Bisa ini dipakai buat malak dia” kata Antony terkekeh.


Antony kembali ke tempat duduknya saat Wingky sudah meletakkan kembali ponselnya. Antony masih terus terkekeh, tidak bisa dia hentikan. Teman-temannya sampai heran melihat Antony yang tertawa sendiri.


“Kamu kenapa?” tanya Sandra heran.


“Ah… nggak kok” jawab Antony kemudian kembali mesem mesem sendiri.


“Aneh” balas Sandra. Tapi Antony hanya terkekeh saja.


Selesai mengerjakan tugas Antony hendak mengantar Leony pulang.


“Pulang bareng ya?” tawar Antony.


“Aku bawa motor kak” jawab Leony sambil tertawa kecil. Jelas-jelas tadi Antony lihat sendiri dari kampus dia membawa motor.


“Tapi kayaknya mau hujan. Tinggal saja motornya disini” Antony masih berusaha membujuk.


Leony hanya terkekeh saja.

__ADS_1


“Ayahku bisa-bisa meledak kalau aku sampai ninggalin motor kak” kata Leony sebagai jawaban.


Wingky hanya mendengarkan saja, sedangkan Daniel dan Sandra sudah pulang lebih dulu.


“Sayang banget. Padahal aku pengen ketemu calon mertua” kata Antony iseng dan seketika membuat Wingky memelototkan matanya.


“Aku duluan ya” kata Wingky karena kupingnya terasa panas mendengar obrolan antara Leony dan Antony.


“Kenapa dia?” tanya Leony heran karena Wingky terlihat seperti sedang marah. Leony hafal betul bagaimana ekspresi Wingky kalau sedang marah, sedih bahkan berbohong. Telinganya akan memerah ketika dia berbohong.


Antony pun hanya tertawa saja menanggapi



Beberapa hari berlalu, Leony sudah mulai mengajar les private. Wingky juga mengajar di kelas berbeda tapi di jam yang sama. Tempat Kursus Bahasa Inggris yang dibuka Steve mendapatkan banyak murid. Dia pintar mempromosikan tempat kursusnya, baik melalui sosial media, baliho maupun iklan di radio. Tidak sedikit memang biaya yang dikeluarkan untuk biaya promosi tapi itu setimpal dengan pemasukan yang didapat.


Wingky selesai mengajar lebih dulu. Dia sengaja menunggu Leony agar bisa pulang bersama. Sudah hampir 10 menit menunggu tapi Leony tak kunjung selesai.


“Kenapa lama ya? memangnya orang tua murid tidak protes nanti karena anaknya pulang terlambat?” batin Wingky. Bukan tanpa alasan dia berkata begitu, karena dia sudah melihat banyak orang tua yang menunggu anaknya di parkiran.


Steve menepuk pundak Wingky dari belakang membuat Wingky seketika menghentikan langkahnya.


“Bagaimana mengajar hari pertama?” tanya Steve.


“Lumayan menyenangkan Mr” jawab Wingky jujur karena dia memang suka mengajar.


“Baguslah, Kamu memang berbakat menjadi guru” kata Steve apa adanya. Dia memang bisa melihat bakat mengajar pada Wingky. Dia tidak sembarangan memilih guru untuk mengajar di tempatnya.


“Terima kasih Mr” kata Wingky sambil melirik ke arah Leony yang seketika diam ketika berada didekatnya.


Steve berpamitan menuju ruangannya sedangkan Leony mendahului Wingky untuk menuju motornya. Mereka parkir bersebelahan. Wingky sengaja tadi parkir di sebelah motor Leony. Wingky kemudian memiliki ide gila di kepalanya. Dia berpura-pura menghidupkan motornya padahal dia hanya memasukkan kuncinya saja. Berulang kali dia mencoba menyalakan motornya tapi tidak mau hidup. Jelas saja orang dia belum menghidupkannya.


Leony merasa terusik karena Wingky terlihat kesusahan menghidupkan motornya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Leony dengan wajah datarnya.


“Gak tau nih. Gak mau hidup.” kata Wingky dengan wajah dibuat cemas.


“Coba starter bawah” saran Leony.


Wingky pun menuruti saran Leony dan tentu saja lagi-lagi gagal.


Wingky menghela nafas berkali-kali, ceritanya dia sudah pasrah.


“Boleh numpang gak?” tanya Wingky dengan wajah memelas.


Leony kaget tentu saja tapi dia juga tidak tega.


“Terus motor kamu gimana?” tanya Leony pula.


“Aku titip satpam disini” jawab Wingky santai.


Dengan terpaksa Leony pun mengangguk setuju. Berusaha keras Wingky menutupi rasa senangnya. Dia langsung menghampiri satpam yang masih berada di dalam ruangan dan menitipkan motornya kemudian dengan cepat menghampiri Leony.


“Tapi aku motor matic, kaki kamu kan panjang. Pasti susah” kata Leony yang seketika membuat Wingky tersenyum. 


“Gak papa, sini kuncinya” kata Wingky meminta kunci motor Leony. Leony pun menyerahkan kuncinya pada Wingky.


“Pegangan ya” kata Wingky sebelum menjalankan motornya. Leony bergeming. Tentu saja dia tidak mau memeluk Wingky. Wingky tidak kehabisan akal, dia sengaja memutar gas nya kuat-kuat hingga mereka hampir melompat. Reflek Leony memeluk tubuh tegap Wingky dan memukulnya cukup keras.


“Kamu ini sengaja ya?” tanya Leony kesal.


“Sorry, sorry. Ini kali pertama aku pakai motor matic”. Wingky tidak seratus persen berbohong. Biasanya memang dia memakai motor besarnya ke kampus.


Leony menghela nafas berkali-kali. Dia sangat terkejut tadi saat Wingky dengan kuatnya memutar pedal gas motornya.


“Makanya pegangan” titah Wingky. Wingky tersenyum ketika mengatakan itu tapi sayang Leony tidak bisa melihat senyum manis dari seorang Wingky.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2