
Leony masih terduduk di lantai. Tangisnya masih terdengar pilu. Dari pacaran hingga menikah, ini kali pertama Wingky benar-benar marah. Leony mulai merenungkan kesalahannya. Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk karena menjelang akhir bulan dan laporan yang menggunung. Belum lagi perusahaan banyak mengadakan event yang mengharuskan bagian keuangan sigap dengan RAB dan Laporan akhirnya. Sungguh tidak ada niatan Leony menelantarkan anak dan suaminya.
Tapi yang nampaknya membuat Wingky sangat marah bukan pulang terlambatnya Leony, tapi lebih kepada harga dirinya sebagai seorang pria yang tidak ada. Pria selalu ingin diandalkan, dia ingin menjadi sosok yang berperan penting dalam keluarganya. Sedangkan Leony apa-apa bisa sendiri. Bahkan untuk belanja keperluan pribadi Leony pun menggunakan uang sendiri. Ada sebagian pria yang menganggap itu hal yang merendahkan kredibilitasnya sebagai seorang suami.
Cukup lama Leony merenung. Dia kini tau apa yang menjadi puncak amarah suaminya itu. Setelah sedikit tenang dia kemudian memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi.
…
Wingky sendiri memilih duduk di tepi kolam renang. Rahma sudah menyiapkan kopi pesanan Wingky. Rahma mendengar pertengkaran kedua majikannya itu, tapi dia memilih untuk tidak ikut campur. Sedangkan Bian sudah aman di kamarnya karena Wingky mendesain kamar anaknya sedemikian rupa sehingga suara-suara di luar kamar tidak terdengar. Hal itu dilakukan agar tidur anaknya tidak terganggu.
Pelan-pelan Wingky menyesap kopinya. Sebenarnya tidak ada yang kurang dari istrinya. Mandiri, penyayang dan telaten dalam mengurus dia dan anaknya. Hanya sesekali saja dia harus lembur. Itu Pun bisa dihitung jari. Awal-awal Bian lahir Leony bahkan sangat kekurangan tidur. Harus menyusui, memompa dan begadang ketika anak sakit dan besok paginya harus pergi bekerja. Memang saat emosi semua kebaikan dan perjuangan yang sudah dilakukan bisa dilupakan begitu saja. Kini Wingky sangat menyesal telah membentak hingga membuat istrinya menangis seperti itu.
__ADS_1
Untuk meminta maaf pun dia masih malu. Wingky merenungi semuanya dan kolam renanglah yang menjadi saksinya.
Wingky kembali mengingat saat istrinya sakit dan tetap harus menyusui Bian setiap 2 jam sekali. Belum lagi setelah menyusui Leony harus memompa asi untuk stok saat ditinggal bekerja. Mengingat itu tanpa sadar air mata Wingky menetes. Hanya karena yang namanya ego dia sampai tersulut emosi seperti itu.
“Maafin papa Ma” batin Wingky.
…
“Malam bu” sapanya.
“Malam, malam ini minta tolong kamu temani Bian ya Amina. Nanti kalau ada apa-apa telepon saja ya” ujar Leony.
__ADS_1
“Baik bu” jawab Amina patuh.
Cukup lama Leony duduk disana. Setelahnya dia kembali ke kamar. Saat membuka kamar ternyata Wingky sudah masuk kamar. Wingky saat itu tengah duduk di ranjang , tepat saat pintu dibuka Wingky juga melihat ke arah pintu. Jadilah mereka berpandangan cukup lama. Wingky sampai berdehem karena canggung. Ini kali pertama mereka bertengkar cukup hebat sampai berteriak, walau hanya Wingky yang berteriak karena Leony hanya menangis saja.
Melihat suami yang salah tingkah membuat Leony tersenyum. Belum dirayu saja suaminya sudah salah tingkah begitu. Padahal Leony masih menggunakan baju tertutup. Leony tidak menyapa suaminya terlebih dahulu, tetapi dia langsung saja menuju kamar mandi untuk melakukan ritual malamnya.
Saat keluar dari kamar mandi ternyata suaminya sudah menunggu di depan pintu. Tanpa kata dia langsung memeluk istrinya.
“Maafkan papa, ma” kata Wingky memohon maaf. Dia sangat menyesali perbuatannya tadi.
Bersambung...
__ADS_1