Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 10 : Putri Tidur


__ADS_3


Rukmana, wanita yang hampir memasuki usia paruh baya itu, nampak begitu lekat menikmati harum aroma parfum yang melekat di pakaian lelaki yang saat ini menjadi pengemudi motor maticnya. Apapun bisa terjadi di dunia pernovelan bukan? Wisnu yang sebelumnya sibuk mencari driver ojek online, dan akan berperan menjadi customer, kini ia malah bertransformasi menjadi driver itu sendiri. Tidak tanggung-tanggung, sesosok wanita hampir memasuki usia paruh baya, yang saat ini memboncengnya semakin membuat lelaki itu terlihat totalitas dalam menjalankan peran sebagai driver ojek online. Padahal sejatinya ia adalah pewaris PT WUW yang sebelumnya tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.


Setelah mengalami drama yang cukup berlebihan dengan sang suami, di mana ia tidak rela melihat Rukmana berboncengan dengan lelaki lain pada akhirnya wanita itu sanggup untuk meluluhkan hati Sutha. Keinginan Rukmana untuk bisa dibonceng lelaki tampan yang mengalami kebocoran ban ini pada akhirnya bisa terwujud. Ya, Sutha mengizinkan sang istri dibonceng oleh lelaki lain asalkan sang istri menjaga jarak (ckckckck udah seperti prokes aja nih)


"Kamu ini hebat ya Nak, masih muda tapi sudah sukses menjadi seorang pengusaha. Kalau Ibu punya dua anak perempuan, pasti akan Ibu kenalkan kamu dengan salah satu anak Ibu. Siapa tahu kamu bisa menjadi menantu."


Di sela-sela perjalanannya, Rukmana mencoba untuk membuka obrolan dengan Wisnu. Meski jarak bengkel motor sang suami tidak begitu jauh dari sekolah Jenar, namun Rukmana tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Kesempatan langka bisa ngobrol banyak dengan sang pengusaha muda yang sukses.


Wisnu yang fokus dengan kemudiannya hanya terkekej lirih. "Memang putri Ibu ada berapa?"


"Ibu cuma hanya punya seorang putri saja Nak. Itupun sudah dilamar oleh seorang laki-laki, jadi pupus sudah harapan Ibu untuk memiliki menantu seperti kamu."


Entah apa yang terjadi dengan Rukmana, sejak pertama kali ia melihat dengan intens wajah Wisnu, rasa-rasanya muncul sebuah hasrat untuk menjadikannya menantu. Namun sayang seribu sayang, Jenar sudah diikat oleh putra dari sahabat sang suami, jadi sudah tidak ada lagi kesempatan itu.


Wisnu yang mendengar penuturan Rukmana semakin dibuat tergelak. Wanita yang beru beberapa saat bertemu dengannya tanpa malu-malu menceritakan perihal sang anak dan berencana menjadikannya menantu. "Meskipun putri Ibu belum dilamar oleh lelaki lain, belum tentu juga putri Ibu mau dijodohkan dengan saya."


"Ckckckck gadis mana yang tidak mau dijodohkan dengan kamu Nak? Masih muda, tampan, pengusaha, dan berkharisma. Kalau Ibu masih gadis, Ibu pun mau jadi pacar kamu Nak."


Sembari terkekeh, Rukmana mulai mengeluarkan jurus banyolan yang ia miliki. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Rukmana. Cara berkomunikasi Rukmana yang seperti inilah yang membuatnya memiliki banyak kawan terlebih para tetangga. Sampai-sampai ia dan ibu-ibu tetangga membentuk sebuah genk yang diberi nama Teng-Teng Crit yang memiliki kepanjangan Tenguk-Tenguk Crito (duduk-duduk santai sambil bercerita)


"Memang usia putri Ibu berapa?"


"Sembilan belas tahun Nak. Dan dia juga merupakan salah satu siswa di sekolah yang akan kamu datangi ini."


"Nah ini, terlebih usia putri Ibu baru sembilan belas tahun. Saya semakin yakin jika ia pasti tidak mau dijodohkan dengan saya."


"Kok bisa begitu Nak?" Jiwa ingin tahu Rukmana sedikit meronta kala mendengarkan penuturan Wisnu. Namun tiba-tiba Rukmana menampilkan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan. "Oh astaga, kamu sudah punya istri dan anak ya Nak? Ya ampun, maafkan Ibu karena terlalu bersemangat untuk menjadikanmu menantu. Sampai-sampai Ibu tidak berpikir bahwa kamu sudah berkeluarga. Hihihihi maaf ya Nak."


Wisnu tergelak lirih. "Bukan Bu. Saya seorang duda. Namun bukan itu yang saya yakin membuat putri Ibu tidak mau dijodohkan dengan saya."


"Lalu apa Nak?"


"Usia saya empat puluh tahun Bu. Mungkin hampir sama dengan usia Ibu. Jadi, sepertinya putri Ibu lebih pantas dijadikan anak daripada istri."


Rukmana terperangah. Kedua bola matanya membulat sempurna dan bibirnya menganga. Ia teramat terkejut dengan ucapan Wisnu. Ternyata lelaki tampan yang ia temui ini sepantaran dengannya.


"Ya Tuhan, umur empat puluh tahun tapi mengapa masih terlihat seperti usia tiga puluhan tahun? Ini sebuah kamuflase yang sungguh membingungkan."


🍁🍁🍁🍁


Di sebuah ruangan yang cukup luas, nampak puluhan kursi telah berjajar rapi. Diduduki oleh orang-orang yang memakai seragam putih abu-abu yang mana mereka semua adalah para generasi penerus bangsa. Di mana nasib bangsa ini berada di pundak mereka. Aula ini mulai terdengar sedikit riuh dengan gelombang suara yang merembet ke dalam indera pendengaran. Sebelumnya, mereka nampak begitu antusias dalam mengikuti acara yang akan diadakan hari ini. Namun perlahan antusiasme dan wajah penuh semangat itu mulai memudar. Berubah wujud menjadi raut-raut wajah yang dipenuhi oleh kejenuhan yang begitu kentara. Mereka saling berbisik satu sama lain menanyakan ke mana pengisi acara talkshow ini.


Sebuah ungkapan bahwa menunggu itu melelahkan dan menjenuhkan sepertinya memang benar adanya. Para peserta talkshow ini nampak begitu jenuh karena sudah setengah jam lebih bahkan hampir satu jam pembicara itu belum tiba.


"Mana ini pembicaranya? Sudah lebih dari setengah jam mengapa belum datang juga?"


Namun bisik-bisik para pelajar itu seketika terhenti kala derap langkah beberapa orang mulai terdengar mendekat ke arah aula. Derap langkah kaki itu pula lah yang membuat para pelajar ini menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Dan tiba-tiba keheningan kembali menyergap, dan membalut atmosfer aula ini kala seorang laki-laki tampan berjalan dengan penuh percaya diri di hadapan mereka.

__ADS_1


Bak terhipnotis oleh ketampanan lelaki itu. Beberapa pasang mata milik peserta talkshow ini begitu intens menatap wajah lelaki itu. Sungguh, mereka begitu terkesima dengan pesona yang dimiliki oleh lelaki yang tak lain adalah pengisi acara talkshow ini. Bumi yang dipijak oleh para pelajar itu seakan berhenti berotasi. Karena saat ini porosnya bertumpu pada paras tampan lelaki itu.


"Selamat siang semuanya."


"Selamat siang!!!"


"Mohon maaf atas keterlambatan ini. Karena ada satu hal yang saya alami di tengah perjalanan sehingga membuat saya terlambat tiba di sini. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."


"Dimaafkan Pak!"


"Sebagai ucapan permintaan maaf, Bapak mengisi acara ini sampai sore ya."


"Agar kami bisa melihat wajah Bapak yang tampan ini lebih lama lagi."


Celotehan teman-teman Jenar yang terdengar begitu berlebihan hanya membuat Jenar mencebikkan bibir. Sebegitu berlebihannya teman-temanya ini ketika bertemu dengan lelaki tampan. Mereka sungguh sangat tidak bisa diajak kompromi. Mengungkapkan keterkesimaan mereka dengan kata-kata yang terdengar menggelitik telinga.


"Ya ampun Jen, pengusaha ini benar-benar tampan. Aku sungguh terpesona dibuatnya."


Jenar yang duduk di barisan kursi paling depan hanya bisa berdecak lirih kala mendengarkan ucapan Nania. Gara-gara sahabatnya yang begitu antusias berburu deretan kursi paling depan inilah yang membuatnya hampir terlibat perang mulut dengan salah seorang teman yang didaulat menjadi siswa paling cantik di sekolah ini. Ia dan siswa paling cantik itu saling berebut kursi. Namun karena pantang menyerah, akhirnya Jenar berhasil duduk di kursi paling depan.


"Percuma tampan kalau menghadiri acara seperti ini saja terlambat. Hampir satu jam lagi. Sungguh sangat tidak profesional dalam bekerja."


Wisnu yang berdiri tepat di depan Jenar hanya bisa tersenyum simpul kala suara gadis ini sayup-sayup terdengar di telinganya. Ingin rasanya ia menceritakan apa yang sebenarnya telah ia alami di jalan namun ia urungkan. Ia pun memilih untuk melanjutkan acara talkshow ini yang dipandu oleh salah seorang guru.


🍁🍁🍁🍁🍁


Selama hampir tiga jam, Wisnu menjadi pembicara di acara ini. Bibirnya tiada henti melukis seutas senyum karena para peserta talkshow ini begitu antusias dalam mengikuti acara yang ia bawakan. Terlebih melihat semangat-semangat para kawula muda seperti ini, seakan kembali mengingatkannya pada masa-masa muda dulu.


Nania terperangah kala melihat Jenar sudah larut dalam tidurnya. Sepanjang talkshow berlangsung, sahabatnya ini terlihat berkali-kali menguap dan pada akhirnya ia tertidur nyenyak.


"Ssttttt Jen, bangun. Ayo kita pulang. Acara sudah selesai ini!"


Sembari menepuk-nepuk pipi Jenar, Nania mencoba untuk membangunkan Jenar. Namun sayang, sahabatnya ini malah terlihat semakin lelap saja. Nania menyapu pandangannya ke arah sekitar. Satu persatu teman-temanya sudah meninggalkan aula. Hanya tinggal ia, Jenar, Anki, Wisnu, dan seorang guru di dalam aula ini.


"Tidak mau bangun Nan?"


Sembari beranjak dari kursi, Anki menyapa Nania yang sepertinya kehabisan cara untuk membangunkan Jenar. Sedangkan Nania hanya mengangguk pelan.


"Iya Ki. Jenar memang seperti ini. Susah sekali dibangunkan kalau sudah pulas seperti ini."


Anki yang juga dekat dengan Jenar, tiba-tiba tersenyum jahil. Ia memiliki ide untuk menjahili sahabatnya ini. "Nan, ayo kita tinggal Jenar di sini. Biarkan dia tidur. Ketika bangun dia pasti kaget karena tinggal sendirian di tempat ini."


Nania terperangah. "Tapi Ki, bagaimana kalau Jenar marah sama kita? Dia pasti uring-uringan karena kita tinggal."


Anki tergelak. "Tenang saja Nan. Jenar tidak akan marah. Lagipula di sini masih ada pak pengusaha itu dan bu Sonya kan? Jadi biar mereka saja yang membangunkan Jenar."


Entah pengaruh sihir apa, Nania mengiyakan dan setuju dengan apa yang menjadi rencana Anki. Rasanya akan sangat menghibur melihat Jenar dengan bibir mengerucut, mengungkapkan kekesalannya karena telah ditinggal sendirian di aula. Wajah itulah yang selalu dirindukan Nania terhadap sahabatnya ini. Terlebih ini merupakan detik-detik terakhir ia berada di sekolah ini. Sehingga tidaklah mengapa jika hal ini akan menjadi hal yang paling mengasyikkan untuk dikenang saat ia telah berpisah dengan Jenar.


Nania beranjak dari kursinya dan... "Ayo Ki, kita segera keluar dari aula. Keburu Jenar bangun!"

__ADS_1


Sembari cekikikan pada akhirnya kedua sahabat Jenar itu berlalu meninggalkan Jenar yang masih larut dalam buaian mimpinya. Sedangkan Jenar, gadis itu benar-benar seperti putri tidur yang sama sekali tidak bisa terbangun sebelum mendapatkan ciuman dari sang pangeran. Namun untuk Jenar sendiri bukan ciuman yang bisa membangunkannya, melainkan siraman air dari sang bunda.


"Kalau bagitu saya pamit terlebih dahulu ya pak Wisnu. Pak Wisnu jika ingin berkeliling area sekolah ini silakan. Pasti pak Wisnu sangat merindukan sekolah ini bukan? Karena selama dua puluh tahun lebih pak Wisnu tidak berkunjung di tempat ini?"


Sonya yang berdiri di depan aula bersama Wisnu, berpamitan untuk undur diri terlebih dahulu. Sedangkan Wisnu hanya tersenyum manis sembari menganggukkan kepala. "Silakan Bu. Saya memang berencana ingin berkeliling terlebih dahulu sebelum pulang."


"Selamat menikmati ya Pak. Saya pamit dahulu."


Sonya berlalu meninggalkan Wisnu hingga bayangan Sonya tak nampak lagi di penglihatannya. Dan Wisnu sendiri kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tas yang ia letakkan di atas meja.


Dahi lelaki itu mengernyit kala mendapati seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas. Sebenarnya ia tidak terlalu kaget, karena sedari tadi gadis ini sudah tertidur. Namun yang membuatnya begitu heran, sampai saat ini gadis itu belum juga bangun. Entah obat tidur apa yang diminum gadis ini.


Wisnu mendekat ke arah Jenar, bermaksud untuk membangunkan gadis ini. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk bisa menepuk pipi Jenar.


Puk.. puk... puk...


"Ssttt Mbak, ayo bangun. Ini acara sudah selesai!"


Jenar sedikit menggeliat seakan memberikan sebuah respon. Namun tanpa terduga, tangannya terulur untuk menarik tangan Wisnu. Alhasil tubuh Wisnu semakin melekat di tubuh Jenar sendiri.


"Bang Firman .... akhirnya Abang pulang juga. Jenar kangen Abang tahu."


Cup... cup... cup...


Entah mimpi apa gadis putri pasangan Sutha dan Rukmana itu. Sampai-sampai ia berani melabuhkan tiga kecupan di bibir Wisnu. Perilaku alam bawah sadar Jenar inilah yang membuat kedua bola mata Wisnu terbelalak dan membulat sempurna.


Ya Tuhan, gadis ini menciumku tapi yang ia panggil nama laki-laki lai. Astaga, sebenarnya sedang mimpi apa gadis ini?


"Bang .... mengapa Abang diam saja? Apa Abang tidak mau memelukku? Ayo Bang peluk aku!"


Sungguh konyol akan apa yang dialami oleh gadis ini. Bisa-bisanya ia mimpi ingin dipeluk. Sedangkan Wisnu tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya yang begitu dekat dengan Jenar seakan membuatnya tertarik oleh sebuah magnet.


Ini kamu yang minta ya. Jangan salahkan aku jika aku memelukmu. Lagipula tangan kamu begitu erat menarik tanganku.


Masih dengan mata terpejam, Jenar merasakan sensasi rasa hangat kala tubuh lelaki yang ia panggil dengan Firman itu ia peluk erat. "Sungguh nyaman pelukan ini Bang. Ini bukan mimpi kan?"


Dasar gadis aneh. Jelas-jelas ini mimpi. Ayo segera bangun agar kamu bisa sadar bahwa ini hanya mimpimu saja.


Perlahan kedua kelopak mata Jenar yang sebelumnya tertutup mulai terbuka. Sedikit demi sedikit akhirnya kelopak mata milik gadis itu terbuka sempurna. Ia terperangah akan posisinya saat ini. Ia merasa begitu erat memeluk tubuh seorang laki-laki.


Tiba-tiba perasaannya dihinggapi oleh sebuah rasa yang entah apa itu namanya. Jantungnya berdetak lebih kencang dan berdesir hebat. Ia lerai pelukannya dan....


"Aaaaaaaaa..... Apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda tiba-tiba memeluk saya?!!!!!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2