
Selamat Membaca πππ
"Papa?"
"Ya Sayang?"
"Apakah Papa jadi mencari bunda untuk menemani Citra di acara tutup tahun nanti?"
Pagi ini, kala sedang menikmati sarapan pagi, Wisnu dibuat terhenyak dengan celotehan polos dari sang putri. Celotehan yang mengingatkannya akan janji yang pernah ia buat, bahwa ia akan mencarikan sosok bunda 'settingan' untuk menemani mereka menghadiri acara tutup tahun, yang akan diadakan lusa.
"Sayang, Papa minta maaf ya. Papa belum bisa mencarikan bunda untuk hadir di acara tutup tahun nanti. Papa bingung ingin mengajak siapa Sayang."
Wisnu meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan dan mendekat ke arah Citra. Ia pegang pundak sang anak, untuk memberinya pengertian, bahwa mencari bunda 'settingan' untuk dibawa ke acara tutup tahun merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Citra menatap manik mata Wisnu dengan lekat. Sorot mata yang terlihat begitu sendu, dipenuhi oleh kabut pengharapan yang nampak begitu kentara. Harapan akan satu hal dimana ia menginginkan hadir ke acara itu dengan menggandeng seorang wanita yang bisa ia jadikan bunda meski untuk sementara.
"Seperti itu ya Pa? Padahal, Citra ingin sekali hadir di acara itu dengan membawa bunda. Biar sama dengan teman-teman yang lain. Tapi kalau memang Papa tidak bisa menemukannya, ya sudahlah, tidak apa-apa."
Jantung Wisnu seakan diremas, kala melihat raut sendu membingkai wajah cantik putrinya ini. Wisnu pernah berada di posisi Citra, di mana tidak ada kasih sayang orang tua yang mendekapnya setelah ia kehilangan keduanya. Mungkin saat ini keinginan Citra hanya sederhana, bisa kembali merasakan kebahagiaan memiliki orang tua yang utuh meski hanya sesaat.
Ya Tuhan, aku merasa menjadi seorang ayah yang gagal jika sampai tidak dapat memenuhi keinginan putriku ini. Namun aku harus bagaimana? Siapa yang harus aku mintai tolong? Ataukah aku harus meminta tolong kepada Jenar? Tapi apakah gadis itu bersedia membantuku? Ah.. Coba nanti aku meminta bantuannya. Barangkali ia bersedia membantuku.
Wisnu mencoba untuk tersenyum meski senyumnya itu nampak begitu getir. Ia peluk tubuh sang putri dengan erat sembari menepuk-nepuk punggungnya untuk memberi sedikit ketenangan.
"Citra jangan bersedih lagi ya. Coba nanti Papa minta tolong kakak cantik. Mungkin saja kakak cantik mau membantu kita."
Mendengar kata kakak cantik, membuat wajah Citra yang sebelumnya nampak begitu sendu kini berbinar seketika. Gegas, gadis kecil itu mengurai pelukannya dan tersenyum lebar di depan Wisnu.
"Benarkah? Benarkah kakak cantik yang akan menemani Citra datang ke acara tutup tahun Pa?"
Hanya dijawab dengan senyuman manis, Wisnu tidak mengiyakan atau membantah ucapan Citra ini. "Papa belum bisa memastikan Sayang. Namun, semoga kakak cantik mau untuk membantu kita. Dengan begitu kita bisa pergi ke acara tutup tahun itu bersama-sama."
"Pasti Papa, Citra pasti akan mendoakan Papa agar berhasil membujuk kakak cantik. Papa yang semangat ya."
"Iya Sayang. Semoga ya."
"Horeee!!!!"
Teriakan dan lompatan girang yang dilakukan oleh Citra, sungguh tidak ada yang mengaliri aliran darah Wisnu selain rasa hangat. Ia akan merasa sangat bersalah jika sampai tidak berhasil membujuk Jenar untuk mengikuti acara tutup tahun itu.
Semoga kamu bisa aku ajak untuk datang Jen.
πππππ
__ADS_1
Srekkkk.....
Suara gordyn yang digeser terdengar memenuhi tiap sudut kamar ini. Yang seketika membuat sinar sang mentari merembet masuk ke dalam ruangan. Membuat seorang laki-laki yang tengah terbaring di atas ranjang sedikit bergeliat karena terusik oleh kilau emas sinar mentari pagi ini.
Kelopak mata yang sebelumnya tertutup, kini perlahan mulai terbuka. Lelaki itu sedikit memicingkan mata untuk menghalau silau sinar matahari yang terasa menusuk kornea.
"Morning Sayang!"
Berdiri di depan jendela dengan lingerie warna hitam yang terlihat begitu menerawang, Stevi memberikan ucapan selamat pagi kepada sang kekasih. Wajahnya nampak mengeluarkan aura kebahagiaan yang begitu kentara. Bahagia karena semalaman ia memainkan adegan ranjang yang terasa begitu menggairahkan dan hanya menyisakan kenikmatan-kenikmatan ragawi yang terasa begitu memabukkan.
Diayunkannya langkah kaki Stevi ke arah ranjang sang kekasih. Ia kecup bibir Firman sekilas dan ia daratkan bokongnya di tepian ranjang.
"Jam berapa ini Stev?"
Dengan mode malas, Wisnu masih nampak ogah-ogahan beranjak dari posisi rebahannya. Bahkan ia tarik kembali selimutnya untuk menutupi tubuh dengan sempurna.
"Ini sudah jam tujuh lebih seperempat Sayang. Ayo bangun. Setelah ini aku kenalkan kamu ke Papa."
"Apa? Jam tujuh seperempat?" Tubuh Firman terperanjat kala mendengar jawaban dari Stevi. Buru-buru ia bangun dari posisi berbaring dan mulai memunguti pakaian-pakaian yang berserakan di atas lantai.
Rasa lelah bercampur nikmat yang ia rasakan setelah pergumulan itu, membuatnya tidak sadar jika semalaman ia tertidur dalam keadaan polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
"Hei, kamu mau kemana sih Sayang? Mengapa terburu-buru seperti itu?"
"Aku harus ke tempat Jenar, Stev. Setelah kemarin aku tidak bisa menjemputnya di kala pulang kerja. Sekarang aku harus mengantarkannya sampai ke tempat kerja. Agar dia tidak curiga."
Mendengar sang kekasih menyebut nama Jenar, membuat Stevi kesal sendiri. Ia sungguh tidak rela jika melihat Firman begitu perhatian terhadap gadis itu.
"Tidak boleh Sayang! Kamu tidak boleh ke tempat Jenar. Kamu harus tetap di sini. Aku ingin memperkenalkanmu dengan papa."
Firman terperangah. Setelah semalam ia menemani Stevi, ia pikir pagi ini ia bisa segera pergi. Namun ternyata sang kekasih gelap belum juga mengizinkannya untuk pergi.
"Tapi Stev, jika aku tidak mengantar Jenar ke tempat kerja, aku khawatir jika ia semakin curiga terhadapku. Sekarang, biarkan aku ke tempat Jenar ya. Nanti selepas dari kuliah, bisa kita lanjutkan lagi kebersamaan kita ini."
Firman mencoba bernegosiasi. Namun lagi-lagi wanita itu menggelengkan kepala seraya mendengus kesal. Dengan lantang, ia mengatakan. "Tidak Sayang. Aku tidak mengizinkanmu untuk menemui Jenar. Sekarang, bersihkan tubuhmu, setelah itu kita temui Papa. Aku akan memperkenalkanmu dengannya."
"Tapi Stev...."
"Tidak ada tapi-tapian. Dan aku tidak menerima sebuah penolakan!"
Stevi memangkas ucapan Firman dan segera melenggang pergi meninggalkan kamar. Ucapan yang keluar dari bibirnya bak sebuah titah yang tidak bisa dibantah dan memaksa Firman untuk mengalah, mengikuti apa yang menjadi keinginan Stevi.
Melihat Stevi sudah menghilang di balik pintu kamar, gegas ia mengambil ponsel untuk segera menghubungi Jenar.
Panggilan via telepon...
__ADS_1
"Hallo Jen!"
"Hooaaammnm... Iya Bang, ada apa? Pagi buta seperti ini mengapa menghubungiku?"
"Apa, pagi buta katamu? Ini sudah siang Jen. Bukan pagi buta lagi!"
"Apa? Siang?"
Terdengar dari seberang, Jenar menjeda ucapannya. Namun tak lama kemudian, suaranya kembali terdengar di telinga Firman.
"Ya ampun ... mengapa Abang baru menghubungiku sekarang sih? Ini aku pasti sudah terlambat sampai kantor. Sekarang Abang di mana? Apa sudah berada di depan kontrakan? Kalau iya, tunggu sebentar ya Bang. Aku mau mandi dulu."
"Eitss, eitss, eitss ... tunggu Jen, tunggu!"
"Ada apa Bang?"
"Maaf ya, pagi ini Abang tidak bisa mengantarmu kerja. Abang ada acara kampus bersama teman-teman Abang. Maaf ya Jen!"
"Oh begitu? Oke!!"
Tutt... Tutt... Tutt...
Firman terperangah dan sedikit terkejut kala Jenar memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak. Tidak biasanya Jenar melakukan hal seperti itu.
"Aneh, mengapa sekarang Jenar terkesan berani seperti itu ya? Apa dia sudah mulai mengendus dan mencurigai perselingkuhanku?"
Sedangkan di tempat yang lain, tepatnya di kamar milik Jenar, lagi-lagi gadis itu kembali menelan pil pahit akan janji yang diingkari oleh Firman. Meski sudah sedikit lebih kebal, namun tetap saja ada rasa dongkol di dalam dada.
"Padahal dia sendiri yang mengatakan ingin mengantar jemput. Namun kenyataannya.... Ah, sudahlah..."
Jenar berkata lirih sembari fokus terhadap layar di ponselnya. Tiba-tiba ia tubuhnya terperanjat seketika kala menyadari satu hal.
"Ya ampun Jenar, ini sudah jam setengah delapan lebih. Mana belum mandi, belum siap-siap. Haduh Jen...Kamu pasti terlambat lagi!!!"
.
.
ππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1