Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 35 : Sedikit Perdebatan


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘


Jenar menundukkan pandangannya kala berhadapan langsung dengan Wisnu. Kenikmatan lontong opor yang sedang ia kunyah seakan menguap begitu saja. Gadis itu merasa bersalah karena sempat berpikiran yang tidak-tidak terhadap orang tua Citra. Ia yang sempat mengumpat dengan mengatakan orang tua Citra begitu keterlaluan karena meninggalkan gadis kecil itu sendirian, rupa-rupanya lelaki itu adalah bosnya sendiri. Rasanya benar-benar tidak enak di hati.


"Kalian ke sini juga?" Wisnu berujar bermaksud untuk membuka obrolan kepada dua orang yang sedang menikmati sajian lontong opor masing-masing.


"Iya Pak. Saya dan bang Firman memang memiliki agenda untuk datang kemari. Sekaligus untuk menikmati hari minggu pagi."


Wisnu menganggukkan kepala sembari menyeruput jeruk hangat yang ada di hadapannya. "Mengapa bisa kebetulan seperti ini ya? Kata orang jika sering dipertemukan di dalam ketidaksengajaan seperti ini itu artinya berjodoh. Jangan-jangan saya dan kamu memang berjodoh?"


Ucapan Wisnu yang terdengar sedikit frontal sukses membuat Firman dan Jenar menghentikan aktivitas kunyahan mereka. Hampir saja keduanya tersedak lontong yang ada di dalam kerongkongan, namun buru-buru mereka meneguk es teh yang dipesan sehingga acara tersedak itu dapat dihentikan.


"Maksud ucapan Anda apa Pak? Mengapa Anda memakai kata-kata berjodoh di dalam hal ini?"


Firman sedikit geram mendengar pimpinan perusahaan tempat sang kekasih ini mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal lelaki bernama Wisnu ini tahu, jika Jenar adalah kekasihnya, namun seakan-akan lelaki itu menabuhkan genderang perang dengan cara membuatnya cemburu.


"Saya tidak memiliki maksud apa-apa. Namun, seperti itulah yang saya dengar. Jika dua orang yang sering dipertemukan di dalam ketidaksengajaan, itu artinya dua orang itu berjodoh."


Masih bersikap santai, Wisnu mencoba untuk menanggapi ekspresi wajah Firman yang sudah dipenuhi lautan emosi dan bercampur dengan rasa cemburu yang melilit hati. Padahal, niat duda berusia empat puluh tahun itu hanya untuk bersendau gurau agar keadaan jauh terasa lebih hangat dan akrab.


"Anda jangan macam-macam ya Pak. Jenar ini adalah kekasih sekaligus calon istri saya. Jadi bisa dipastikan bahwa Jenar ini adalah jodoh saya. Bisa-bisanya Anda mengatakan bahwa Anda dan juga Jenar berjodoh."


Firman melayangkan tatapan membidik ke arah Wisnu. Dadanya juga terasa bergemuruh seakan tidak rela jika calon istrinya digoda seperti ini. Sedangkan Jenar, yang menjadi objek pembicaraan kekasih dengan sang bos hanya bisa terperangah tiada percaya karena perkara remeh seperti ini yang mereka bahas.

__ADS_1


"Kakak cantik tidak perlu bingung ya. Papa memang suka bercanda seperti itu. Tapi karena papa yang suka bercanda inilah yang membuat Citra sayang sekali dengan papa. Atau malah disayang banyak orang juga."


Jenar meringis, memamerkan barisan gigi-gigi putihnya. Ia baru paham jika Citra merupakan salah seorang anak yang berani membela papanya di hadapan orang lain dan terdengar seperti mempromosikan kelebihan yang dimiliki oleh sang papa. Ia pun hanya mengangguk samar. "Iya Sayang, tidak apa-apa kok."


Wisnu yang mendengar celotehan kecil sang putri hanya terkikik geli. Hampir saja ia lupa jika harus menanggapi apa yang dikatakan oleh Firman.


"Jangan terlalu dibawa serius. Saya hanya bercanda. Meski hanya bercanda, namun saya tetap percaya bahwa sebelum janur kuning melengkung, masih akan banyak hal yang bisa terjadi."


Alih-alih hati Firman dibuat tenang oleh Wisnu, pemuda itu justru semakin kian meradang. Hampir saja ia mendobrak meja namun buru-buru dicegah oleh Jenar.


"Bang sudah!" Jenar beranjak dari posisi duduknya. Ia merasa keadaan seperti ini sudah sangat tidak kondusif lagi. Ia pun memutuskan untuk mengajak Firman untuk bersegera meninggalkan tempat ini. Firman juga mengambil langkah untuk segera meninggalkan lelaki yang ia anggap sebagai perusak mood yang ia punya.


"Pak Wisnu, saya pamit terlebih dahulu ya," ucap Jenar berpamitan kepada bos perusahaannya ini.


"Loh Kakak cantik mau pulang? Mengapa tidak bareng sama papa saja Kak? Enak loh Kak kalau pulang bersama Papa. Nanti Kakak cantik bisa minta apa saja dari papa."


"Tidak Sayang, Kakak pulang bersama Abang yang tadi saja. Kakak pamit ya."


"Hati-hati Jen!"


Jenar memutar tumitnya untuk bersegera menyusul Firman yang sudah lebih dahulu keluar dari tempat ini. Ia begitu menghawatirkan Firman jika sampai merasa tidak enak hati ataupun merasa cemburu. Ia menyapu pandangannya ke seluruh penjuru hingga sosok yang ia cari dapat ia temukan. Dengan langkah kaki lebar, Jenar berusaha untuk menyusul Firman yang sudah berjarak jauh dari dirinya.


"Bang, pelan-pelan!"


Jenar nampak tergopoh-gopoh kala berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Firman. Ia semakin merasa jika kekasihnya ini tengah cemburu buta. Terlihat dari raut wajah Firman yang sudah memerah seperti menahan rasa marah, kesal dan tidak rela melihat sang kekasih digoda.

__ADS_1


"Aku benar-benar heran, apa yang sebenarnya menjadi kemauan bosmu itu? Mengapa dia seperti sengaja memancing emosiku?"


"Sudahlah Bang, Abang yang tenang. Lagipula pak Wisnu tadi juga mengatakan bahwa hanya bercanda bukan? Jadi tidak perlu Abang masukkan di dalam hati."


Ucapan Jenar ini terdengar begitu bijak. Seharusnya bisa meredamkan api amarah yang dirasakan oleh Firman. Namun sia-sia saja, pemuda itu masih terperangkap dalam emosi jiwa.


"Dasar lelaki genit. Sudah punya anak masih saja ganjen dengan gadis-gadis ABG. Pokoknya, aku tidak mau melihatmu terlalu dekat dengan lelaki itu loh Sayang."


"Iya Bang. Lagipula pertemuan kita dengan pak Wisnu juga tanpa sengaja kan? Jadi jangan terlalu dipikirkan."


"Aku benar-benar tidak habis pikir jika..."


Perkataan Firman terpangkas kala merasakan getaran ponsel dari dalam saku celana yang ia kenakan. Ia keluarkan ponsel itu dan melihat siapa gerangan yang mengiriminya pesan via WA. Kedua bola mata Firman terbelalak lebar saat membaca isi pesan di aplikasi WA yang ia miliki itu.


Aku merindukanmu Sayang. Saat ini aku ingin kamu menemuiku di kolam yang berada di dekat toilet. Aku ingin melihat wajahmu, kekasihku...


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Yang bertanya kapan Firman akan ketahuan, sabar ya Kak.. Dia pasti akan ketahuan tapi nanti.... masih lama... hihihi ☺☺


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2