
Selamat Membaca... ππππ
Sayup suara isak tangis seseorang memaksa langkah kaki Sutha yang baru saja pulang dari ronda terhenti tatkala melintas di kamar sang putri. Sejenak tubuhnya mematung, mencoba menerka suara siapa yang ada di dalam kamar putrinya ini. Dahinya mengerut, diiringi dengan bulu kuduk yang perlahan mulai meremang. Kamar sang anak sudah kosong sejak pagi tadi namun lelaki paruh baya itu begitu keheranan mengapa ada suara seseorang di dalam sana? Seakan kamar ini berpenghuni.
"Ya Tuhan, apa mungkin kamar milik Jenar sudah dihuni oleh makhluk dunia lain? Padahal baru tadi pagi putriku meninggalkan kamar ini, namun mengapa sudah ada saja makhluk lain yang mengambil alih dan menguasai kamar Jenar?"
Sutha bermonolog lirih sembari mencari jawaban atas apa yang terjadi. Batinnya seakan berperang antara masuk ke dalam kamar atau tetap membiarkannya. Meski dilanda oleh rasa takut, namun pada akhirnya langkah kaki lelaki itu terayun jua untuk semakin mendekat ke arah pintu. Tangannya terulur untuk menarik tuas pintu.
Ceklek....
Daun pintu terbuka separuh. Yang nampak di depan mata Sutha hanya suasana gelap yang nampak begitu mendominasi. Pandangan matanya yang menyapu seluruh sudut kamar ini tiba-tiba terhenti kala menangkap bayangan sesuatu yang sedang duduk di kursi belajar milik Jenar dengan posisi membelakanginya. Rambut panjang dengan pakaian berwarna putih yang terpantul jelas di gelapnya kamar ini, seakan membuat Sutha semakin bergidik ngeri.
Tanpa berpikir panjang, tangan Sutha meraih saklar yang menempel di dinding yang berada sisi kanannya. Tubuhnya benar-benar terperanjat kala makhluk itu tidak segera beranjak dari posisi duduknya.
Aneh, padahal yang aku tahu biasanya makhluk tak kasat mata seperti ini akan lagsung pergi jika ada sinar yang menerangi. Namun, mengapa ia malah diam saja?
"Hei, kamu siapa? Mengapa kamu masuk ke dalam kamar putriku? Apakah kamu berupaya untuk menguasai kamar ini?"
Seorang wanita yang tengah menenggelamkan wajahnya di atas meja itu seketika menegakkan kepala. Ia menoleh ke arah di mana sumber suara itu terdengar. "Apa salahnya menguasai kamar putriku sendiri sih Yah?"
"Astaga, ya Allah!" pekik Sutha saat melihat siapa gerangan wanita itu. Ia mendekati sosok wanita yang tengah menahan isak tangis itu. "Bunda! Mengapa Bunda menangis malam-malam seperti ini? Dan ini lagi, pakai gaun tidur warna putih seperti ini. Aku kira hantu penunggu kamar Jenar."
Wanita yang ternyata Rukmana itu mengusap sisa-sisa air mata yang masih bergelayut manja di pipinya. Ia raup udara dalam-dalam untuk menghalau segala rasa sesak yang masih terasa.
"Bunda tidak bisa tidur Yah. Bunda kepikiran Jenar. Jenar bagaimana ya Yah? Apa kamar milik Jenar senyaman kamar ini? Apakah ia nyenyak tidur sendirian di tempat asing? Bunda benar-benar khawatir tidak bisa tenang Yah."
Sutha hanya bisa tersenyum simpul. Ia rengkuh tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam dekapannya. Sebagai seorang suami, ia paham betul jika sang istri belum bisa sepenuhnya melepaskan Jenar yang saat ini berada di kota perantauan.
"Bunda jangan seperti ini. Jika seperti ini, Jenar pasti tidak akan pernah bisa tenang di sana. Percayalah, putri kita itu bisa menjaga dirinya baik-baik Bunda. Dan dia pasti setiap malam akan tidur nyenyak. Bukankah jika sudah mencium aroma bantal, putri kita itu bisa langsung tertidur pulas?"
Ucapan Sutha sukses membuat Rukmana teringat akan apa yang pernah terlewati. Ya, seperti itulah Jenar. Jika sudah menemukan dan mencium aroma bantal, Jenar memang bisa langsung tertidur meski di tempat yang asing. Namun, entah mengapa malam ini ia merasakan hal yang berbeda. Ia merasa jika sang putri tidak nyenyak dalam tidurnya.
"Tapi Bunda merasakan sebaliknya Yah. Atau Bunda hubungi Jenar saja ya Yah?"
__ADS_1
Ketika jemari tangan Rukmana hampir menyentuh ponsel yang berada di dekatnya, gegas Sutha menahan tangan sang istri hingga niatan itu pun urung dilakukannya.
"Tidak perlu, Bunda. Sejak Jenar berangkat pagi tadi sudah dua puluh kali lebih loh Bunda menghubungi Jenar. Biarkan sekarang Jenar beistirahat ya. Besok Bunda bisa telepon lagi."
"Tapi Yah..."
"Ssst sudah, sudah, ayo kita kambali ke kamar Bun. Ini masih tengah malam loh."
"Bunda ingin tidur di kamar Jenar Yah!"
Sutha hanya bisa menghela napas sedikit dalam dan ia hembuskan perlahan. Mau tidak mau ia akan menuruti permintaan istrinya ini daripada sang istri tidak mau untuk beristirahat kembali.
"Baiklah kalau begitu. Ayo lekas tidur Bun! Ayah bersih-bersih badan terlebih dahulu, setelah itu Ayah temani!"
Rukmana beranjak dari posisi duduknya. Ia ayunkan kakinya untuk segera naik ke atas ranjang. Perlahan, wanita itu mencoba untuk memejamkan mata dan mulai memeluk mimpi.
ππππππ
Di sebuah kamar berukuran empat kali lima meter, keheningan begitu terasa memenuhi atmosfer kamar ini. Hanya denting yang berbunyi dari dinding kamar yang seakan lirih memecah keheningan yang ada. Seorang gadis terlihat tidak begitu nyenyak dalam tidurnya. Sedari tadi ia hanya bergulung-gulung ke sana kemari dengan berbagai macam posisi, namun matanya tidak bisa terpejam sama sekali. Hingga ia pun hanya bisa berbaring pasrah di bawah selimut tebal sembari mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.
"Haduuhhh... Mengapa aku justru tidak bisa tidur seperti ini? Mata sudah mengantuk, tapi mengapa tidak bisa dipejamkan?"
Jenar mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, ia lirik penunjuk waktu yang menempel di salah satu sisi ruangan. Jarum jam menunjukkan waktu pukul tiga lebih tiga puluh menit dan ia belum memejamkan mata sama sekali.
"Aaahhh... Lebih baik aku shalat malam saja sambil menunggu masuk waktu subuh. Lagipula, sudah agak lama aku tidak shalat malam, terakhir aku shalat malam saat aku akan menghadapi ujian nasional. Dasar Jenar, ingat shalat malam hanya pas sedang ada maunya saja!"
Gadis itu pun mulai mengayunkan kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengambil air wudhu dan segera mengerjakan Qiyyamul Lail. Gadis itu terlihat begitu khusyuk dalam setiap gerakan shalatnya. Sebelas rakaat selesai ia tunaikan dengan sempurna. Ia ambil Al-quran kecil yang berada di atas nakas dan mulai bertilawah sambil menunggu masuk waktu shalat subuh.
ππππ
Dug.. Dug... Dug....!!!
"Jenar bangun! Ayo kita berangkat sama-sama!!"
Dug... dug.. dug...!!!
__ADS_1
"Jenaaaaarrrrrr!!!!"
Suasana pagi hari ini terdengar begitu gaduh dengan suara gedoran pintu milik salah satu pintu penghuni kamar rumah ini. Hampir satu jam orang-orang yang berada di depan kamar Jenar berteriak memanggil sang pemilik kamar, namun hasilnya tetap sama saja. Gadis itu tidak memberikan respon sama sekali. Bahkan hanya untuk menjawab teriakan teman-temannya ini.
"Aduhhh, ini kita harus bagaimana? Sudah pukul tujuh, seharusnya kita sudah mulai berangkat!" ujar salah seorang teman Jenar yang akan magang juga di PT WUW. Takut jalanan macet.
"Benar juga ya. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja, daripada telat. Baru hari pertama magang, masa sudah terlambat?"
"Tapi Jenar bagaimana? Kasihan dia, kalau tidak dibangunkan?"
"Hmmmm... Sudah, kita tinggal saja. Lagipula salah dia sendiri bukan? Mengapa tidurnya seperti kerbau?"
Pada akhirnya, keempat teman Jenar yang sudah terlihat rapi dengan seragam kerja masing-masing, melenggang pergi meninggalkan depan kamar Jenar. Mereka mulai berangkat ke PT WUW menauki angkot yang melintas di dekat rumah ini.
Sedangkan gadis yang berada di dalam balutan mukena warna biru dongker itu masih terlihat begitu lelap dalam tidurnya. Ia tertidur di atas sajadah yang masih membentang dengan posisi meringkuk layaknya sebentuk janin yang berada di dalam rahim. Suara pintu yang digedor berkali-kali sama sekali tidak dapat menembus alam mimpi sang gadis. Entah apa yang berada di dalam mimpinya itu. Namun jika dilihat secara lekat, ia seperti sedang bermimpi yang sangat indah karena ia sama sekali tidak tergoda dengan teriakan teman-temannya.
Hingga sampai pada saat di mana anak-anak sinar matahari yang masuk menembus celah-celah jendela, mulai sedikit mengusik kedua bola mata milik Jenar yang masih terpejam itu. Kedua bola mata itu nampak bergerak-gerak meski kelopaknya masih terkatup dan pada akhirnya ia mengerjabkan mata berupaya untuk meraih kesadaran sepenuhnya.
Ia menggeser tubuhnya untuk mengambil posisi duduk. Sesekali gadis itu nampak menguap seraya meregangkan otot-otot yang terasa begitu kaku. Ia mencoba menyapu pandangan matanya ke sekeliling dan sambil mengingat-ingat apa yang terjadi. Ya, ia mulai ingat. Selepas shalat subuh, tiba-tiba ia diserang oleh rasa kantuk yang begitu luar biasa. Dan pada akhirnya ia terlelap.
Wajah gadis itu masih nampak begitu santai. Hingga di saat manik mata coklatnya menangkap benda yang menggantung di salah satu sisi kamar, membuatnya terperanjat seketika.
"Mati aku! Sudah jam setengah delapan. Aaaaaa.... Aku kesiangan!!!!"
Gadis putri pasangan Sutha dan Rukmana itu berlari memasuki kamar mandi. Namun saat berada di depan pintu kamar mandi... "Ya Allah, ini mengapa mukena masih aku pakai? Dasar Jenar! Seperti ini kok ingin segera punya suami! Mengurus diri sendiri saja belum bisa, lalu bagaimana mau mengurus bang Firman!"
.
.
ππππππ
Sabar, part berikutnya Jenar akan bertemu dengan sang bos ya Kak... π₯°π₯°π₯°
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca