Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 30 : Pecel Lele


__ADS_3


Selamat membaca 😘😘😘😘


Pukul tujuh malam, keramaian terlihat di sepanjang jalanan kota. Sorot lampu kuda-kuda besi mulai menghiasi ruas demi ruas jalan beraspal dan sesekali terdengar bunyi klakson bersahutan dari beberapa kendaraan yang melintas seolah menambah keramaian suasana malam hari ini.


Nampak sang rembulan membulat sempurna. Ditemani dengan ribuan bintang yang bersinar terang dengan sedikit awan tipis yang terbentang di cakrawala. Seolah semakin menegaskan betapa agung sang Maha penggenggam kehidupan dengan menggoreskan keindahan di hamparan langit malam ini. Angin berhembus pelan. Seolah ikut melantunkan kalimat tasbih, memuji keagungan Ilahi.


Krucuk... Krucuk... Krucuk...


Keheningan yang membalut atmosfer di dalam mobil dipecahkan oleh suara perut yang terdengar begitu menggelitik telinga. Dua orang yang sedang larut dalam pikirannya masing-masing kini bersamaan saling melempar pandangan dengan raut wajah datar dan kemudian...


"Ahahaha... Apakah kamu lapar?"


Wisnu terbahak kala mendengar bunyi perut gadis yang duduk di sampingnya ini. Nampaknya Jenar belum sempat mengisi perutnya dengan makanan, sampai-sampai membuat peliharaan yang ada di dalam perut gadis ini menabuhkan genderang perang.


"Eh, kok saya Pak? Bukankah itu suara perut Bapak?"


Jenar menyanggah ucapan Wisnu. Ia akui jika perutnya terasa begitu lapar karena terakhir, ia hanya makan mie instan di saat jam istirahat kantor siang tadi. Dan kini wajar, jika cacing-cacing di perutnya berunjuk rasa ingin diisi. Namun, gadis itu memilih untuk mengelak. Akan terlihat sangat memalukan jika sampai bosnya ini tahu bahwa ia tengah dilanda oleh rasa lapar.


Wisnu hanya mengulas sedikit senyumnya ketika gadis ini bersikeras untuk mengelak. "Jelas-jelas itu suara perut kamu Jen. Masih saja kamu mengelak? Di dalam mobil ini hanya ada saya dan kamu, tidak ada yang lainnya."


"Tapi Pak, itu bukan suara perut saya. Saya sama sekali tidak lapar," ucap Jenar berdusta.


Lagi-lagi Wisnu hanya menggelengkan kepala, karena gadis ini masih tidak mau mengakuinya. "Mau makan apa Jen?"


Tanpa basa-basi, Wisnu membrikan sebuah penawaran kepada Jenar. Sungguh akan sangat bertentangan dengan hati nuraninya jika sampai membiarkan gadis ini kelaparan.


Jenar sedikit tersentak. Ia mengira, jika Wisnu akan membahas perihal lain, namun ternyata ia masih membahas perihal perut. "Tapi Pak, saya...."


"Steak? Spagetti? Pizza? atau apa?"


Jenar hanya tersenyum kikuk. Ia sungguh tidak terbiasa dengan makanan seperti itu. Baginya, ada makanan lain yang lebih nikmat daripada makanan-makanan asing seperti itu. "Pecel lele!"


Entah sadar atau tidak, Jenar mengucapkan sebuah kata yang seketika membuat Wisnu tergelak lirih. Rupa-rupanya, gadis itu terpancing dengan tawarannya. Dengan cara seperti ini akhirnya ia tahu jika Jenar ingin makan pecel lele.


"Baiklah, kita cari penjual pecel lele."


"Eh, Pak!"

__ADS_1


Jenar menjadi salah tingkah sendiri. Ia seketika sadar bahwa antara perut, bibir dan otaknya sama-sama tidak bersinergi dengan baik. Ia yang mencoba untuk menolak ajakan Wisnu untuk makan malam, namun rasa lapar yang ia rasakan jauh memiliki pengaruh yang begitu besar. Pada akhirnya, dari bibir gadis itu terucap salah satu menu makanan favoritnya.


"Sudah, saya anggap ucapanmu itu sebagai salah satu permintaan. Sepertinya di sekitar sini ada penjual pecel lele yang dagangannya begitu laris."


Sebenarnya, aku merasa tidak enak hati diajak makan oleh pimpinan perusahaan. Namun, tidak apalah. Bagaimanapun juga ini adalah rezeki yang datang dari Allah. Dan aku harus mensyukurinya.


Wisnu semakin terkikik geli kala netranya menangkap raut wajah yang mengeluarkan ekspresi terbengong-bengong. Wisnu paham betul jika seperti ini, Jenar pasti sedang bermonolog dalam hati.


"Itu benar Jen. Kamu memang harus mensyukurinya. Dan salah satu cara untuk kamu bersyukur yaitu jangan pernah menolak jika saya mengajakmu makan."


"Pak Wisnu? Bapak benar-benar memiliki indera keenam kah? Mengapa sedarii di pos security tadi pak Wisnu dapat mendengar suara hati saya?"


Jenar sungguh keheranan. Sudah dua kali, lelaki ini berhasil menebak apa yang dikatakannya dalam hati. Bukan merasa kagum, tubuh Jenar justru tiba-tiba diserang oleh sensasi rasa merinding. Ia takut jika bosnya ini memang memiliki kemampuan untuk membaca isi hati seseorang.


"Ahahahaha ... saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendengar suara hati orang lain. Saya hanya menebak saja. Dan kebetulan tebakan saya benar. Lagipula, jika saya bisa mendengar suara hati seseorang, pastinya salah satu produser sinetron di salah satu stasiun televisi akan mencari-cari saya untuk dijadikan pemain."


Dahi Jenar sedikit mengerut. Nampaknya gadis itu sudah mulai tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu. "Maksud pak Wisnu bagaimana?"


"Ya, jika saya bisa mendengar suara hati seseorang pastinya saya akan bisa mendengar suara hati seorang istri bukan? Jika sudah seperti itu, pastinya di salah para pemain sinetron televisi itu tidak akan sampai mengalami proses perceraian bukan? Karena suara hati mereka sudah bisa di dengar oleh suaminya."


"Ahahaha hahaha, apa sih Pak? Tidak nyambung sekali alasan Bapak ini? Justru para pemain sinetron itu sengaja dibuat bercerai Pak. Dan kalau Bapak yang memerankan suaminya, pasti hidupnya adem-adem saja dan tidak ada konflik sama sekali."


Keduanya larut dalam gelak tawa itu. Bagi Wisnu, mengenal gadis belia ini seperti menumbuhkan kembali jiwa mudanya. Masa-masa muda yang pastinya hanya berselimut kebahagiaan saja. Tak selang lama, mobil yang dikemudikan oleh Wisnu tiba di mana lesehan pecel lele itu berada.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa Pak? Jenar sudah pulang?"


Sampai di tempat kerja Jenar, tepatnya di depan pos security, Firman setengah terkejut kala mendapati sebuah kabar dari dua orang security yang mengatakan bahwa kekasihnya sudah pulang. Ia mengira Jenar masih menunggu namun kenyataannya gadis itu sudah pulang terlebih dahulu.


"Ya jelas pulang lah Mas Bro. Lagipula kasihan neng Jenar satu jam lebih menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Jangan-jangan Mas Bro ini hanya PHP in neng Jenar?"


Dengan tatapan sinis Kahar melayangkan sebuah pertanyaan yang menghunus tepat di jantungnya. Meski Jenar bukan merupakan salah satu anggota keluarganya namun melihat seorang gadis diombang-ambingkan keadaan hanya untuk menunggu sesuatu yang belum pasti sungguh membuatnya bersimpati. Oleh karenanya, ia berani menanyakan perihal itu.


"Tidak, tidak seperti itu Pak. Tadi aku memang ada keperluan mendadak jadi baru bisa menjemput Jenar sekarang."


"Alaahhh banyak alasan kamu mas bro. Dikiranya kami ini tidak pernah muda. Model-model seperti Anda ini, pasti ada main belakang dengan wanita lain di luar sana. Kalau tidak ada, mana mungkin Anda dihubungi neng Jenar berkali-kali tapi tidak merespon."


Firman hanya bisa terperangah dibuatnya. Dua security ini ternyata bisa menerka apa yang telah dilakukannya. Tak ingin dua security ini terlalu jauh menerka, Firman menghidupkan kembali mesin motornya kemudian mengambil langkah untuk bisa segera meninggalkan kantor ini.

__ADS_1


"Nah loh, langsung pergi saja itu pacar neng Jenar. Sepertinya memang benar Mar, kalau lelaki itu bukan lelaki baik-baik."


Kahar mengutarakan pendapatnya sembari menatap lekat motor yang dikendarai oleh Firman yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


"Aku pun juga berpikiran seperti itu Pak. Aku mencium aroma-aroma biawak dari tubuh lelaki itu."


"Ckckck .... kamu ini ada-ada saja Mar."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua porsi nasi lengkap dengan lele goreng, terong goreng, tahu, tempe dan sambal bawang terhidang di hadapan pimpinan dan salah satu karyawannya itu. Dengan lahap, dua orang itu nampak begitu lahap dalam menikmati hidangan yang ada. Desisan-desisan lirih sesekali terdengar kala sensasi pedas sambal bawang itu mulai menggoyang lidah mereka.


"Sssshhh .... ini benar-benar enak Pak. Pantas saja yang mengantre banyak sekali. Ternyata rasanya benar-benar nikmat."


Sembari menikmati hidangan yang memanjakan lidahnya, Jenar mencoba untuk memberikan penilaian terhadap rasa menu lele goreng dan juga sambal bawang ini. Ekspresi wajah sang gadis yang menampakkan ekspresi orang kelaparan bercampur kepedesan sungguh hanya membuat Wisnu tiada henti tersenyum lebar. Wajah Jenar kali ini sungguh menggemaskan.


"Apa kamu mau nambah? Untuk dibawa pulang mungkin?"


"Ssshhh ... Haahhhh ... tidak perlu Pak. Ini saja sudah cukup. Setelah sampai di kontrakan, saya akan mandi setelah itu tidur. Saya sudah mengantuk berat."


Wisnu hanya tergelak lirih. Pantas saja gadis itu diserang oleh rasa kantuk, karena memang hampir satu setengah jam mereka mengantre untuk dapat menikmati pecel lele ini. Wisnu membasuh tangannya di cawan kecil yang berfungi sebagai tempat air kobokan setelah hidangannya tandas tanpa bekas. Ia lap tangannya dengan tisu dan meneguk jeruk hangat di hadapannya.


Wisnu kembali menatap lekat wajah Jenar. Entah mengapa wajah gadis ini seperti medan magnet yang bisa menarik kedua netranya. Wajah yang memiliki kecantikan natural meski tanpa dipoles dengan make-up. Sejenak, lelaki itu larut dalam pikirannya sendiri. Tanpa terduga, ia menjulurkan tangannya untuk dapat meraih bibir Jenar dan mengusap bibir salah satu karyawan di pabriknya ini.


Jenar terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Wisnu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tiada beraturan. Sejenak, ia hentikan aktivitas mengunyahnya. "A-ada apa Pak?"


"Pelan-pelan Jen, saya tidak akan meminta makananmu ini. Lihatlah, nasi yang kamu makan sampai belepotan di mana-mana," ucap Wisnu sembari menunjukkan beberapa butir nasi ke arah Jenar.


Ya Tuhan ... mengapa yang dilakukan Pak Wisnu ini terlihat manis sekali. Sama seperti adegan-adegan di FTV yang sering aku lihat. Astaga Jenar... sadar!!! Kamu sudah memiliki calon suami!!!


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2