
"Sudahlah Jen, jangan terlalu kamu pikirkan perihal ciuman itu. Sudah ya, putri Bunda yang cantik ini jangan murung lagi."
Rukmana terpaksa harus mendekam di kamar Jenar mengingat sedari tadi putrinya ini nampak begitu murung. Hidangan nasi goreng petai yang menjadi menu makan malamnya, sama sekali tidak ia sentuh. Ia biarkan teronggok begitu saja dan hanya ia aduk-aduk dengan sendok tanpa ia masukkan ke dalam mulut.
Jenar masih menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Ada beberapa bentuk perasaan yang berhasil mengobrak-abrik hatinya. Rasa malu, rasa bersalah dan juga tidak enak hati. Ia benar-benar tidak menyangka jika tidurnya di acara talkshow tadi menyisakan sebuah cerita yang mungkin tidak akan pernah lekang oleh masa.
"Jenar sungguh bingung Bunda. Jenar sampai tidak tahu harus berbuat apa."
Rukmana hanya menggelengkan kepalanya lirih. Ia ayunkan kakinya untuk dapat lebih rapat ke tubuh putrinya ini. Ia daratkan bokongnya di tepian ranjang dan ia usap kepala Jenar dengan penuh kasih sayang.
"Memang apa yang kamu rasakan Jen? Mengapa kamu begitu merasa sangat bersalah? Padahal apa yang menimpamu merupakan suatu hal yang berada di bawah alam sadarmu kan? Dan kamu sama sekali tidak menyadarinya?"
"Entahlah Bunda, Jenar merasa bersalah kepada pengusaha itu karena telah berpikir dan bersikap buruk. Dan Jenar pun juga merasa bersalah kepada bang Firman, karena Jenar tidak bisa menjaga kesucian bibir Jenar ini. Jenar harus bagaimana Bunda, harus bagaimana?"
Jenar mengacak rambutnya sedikit kasar. Ia frustrasi karena kejadian seperti ini baru sekali ia alami. Dan itu sungguh sangat mengganggu hati dan juga pikirannya.
"Kira-kira bang Firman marah tidak ya Bun, jika Jenar melakukan hal itu?" sambung Jenar sembari mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rukmana dengan sorot mata yang begitu menyedihkan.
Rukmana hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan dengan kasar. Ternyata rasa cinta sang putri untuk lelaki bernama Firman ini begitu besar. Sampai-sampai ia takut melukai hati Firman meski apa yang terjadi padanya merupakan suatu hal yang di luar kendalinya.
"Jen, sudahlah. Kamu tidak perlu larut dalam perasaan bersalahmu itu. Karena kamu sama sekali tidak bersalah. Karena itu semua terjadi tanpa adanya unsur kesengajaan, oke?"
Jenar masih tak bergeming sedikit pun yang membuat Rukmana hanya tersenyum simpul. "Sudahlah, anggap saja ini bonus untukmu Jen!"
Jenar terperangah, tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh bundanya ini. "Bonus? Bonus apa Bunda?"
__ADS_1
Rukmana tergelak lirih. "Bonus karena kamu bisa mencium bibir pengusaha itu. Kapan lagi kamu bisa merasakan manisnya bibir orang kaya, iya kan?"
Kedua bola mata Jenar terbelalak dan membulat sempurna. Bisa-bisanya sang Bunda memiliki pikiran seperti itu. Padahal ia sama sekali tidak mengingat bagaimana rasanya bibir pengusaha itu.
"Iihhhh Bunda apaan sih? Mengapa Bunda mengatakan hal seperti itu? Jenar bahkan tidak tahu, rasanya bagaimana!"
"Hahaha Bunda yakin rasanya pasti manis Jen."
"Ihhhh Bunda ini malah bercanda!" protes Jenar dengan bibir sedikit mengerucut.
Rukmana hanya terkikik geli. Setidaknya ia sedikit lebih tenang karena sang putri bisa kembali tersenyum. "Sudahlah Jen, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Rukmana kembali menatap lekat wajah Jenar yang semakin hari nampak semakin cantik. Seiring bertambahnya usia, entah mengapa Rukmana merasa bahwa wajah putrinya ini justru semakin mengeluarkan aura kecantikannya. "Hmmm Bunda punya cerita ke kamu Jen."
"Cerita? Cerita apa Bunda?"
Wajah Rukmana nampak berbinar. Ia teringat akan pertemuannya dengan lelaki yang tadi ia antar ke sekolah sang putri. "Tadi siang, Bunda berboncengan dengan laki-laki tampan Jen."
"Laki-laki tampan paripurna yang benar-benar membuat Bunda merasa, aaahhhh pokoknya bahagia sekali Jen." Rukmana menjeda ucapannya. Ia kembali menatap lekat manik mata sang putri. "Tunggu, tunggu. Lelaki tampan itu tadi hadir di sekolahmu loh Jen. Katanya ia yang menjadi pembicara acara talkshow di sekolahmu."
Tubuh Jenar sedikit terperanjat. "Pengisi acara talkshow?"
Rukmana menganggukkan kepalanya. "Iya Jen, dia itu salah seorang pengusaha sukses. Usianya sudah empat puluh tahun tapi masih nampak seperti usia tiga puluhan tahun gitu." Rukmana menyipitkan mata, kala menatap wajah Jenar. "Jangan-jangan pengusaha itu yang kamu cium tadi Jen. Dia memakai setelan jas modern warna biru navy. Dan ia nampak gagah sekali!"
Mendadak tubuh Jenar melemas seketika saat sang Bunda menceritakan pakaian yang dikenakan oleh pengusaha itu. Sama persis dengan lelaki yang ia cium tanpa sengaja. Jenar kembali membenamkan wajahnya di permukaan bantal sembari mengangguk pelan. "Iya Bunda, lelaki itu yang sudah Jenar cium dan peluk."
"Oh ya Tuhan... ternyata lelaki yang kita ceritakan ini sama. Ahahahaha kehadiran lelaki itu sungguh menjadi berkah untuk kita Jen!"
Ucapan sang Bunda benar-benar membuat Jenar menguras otaknya untuk dapat memahami lebih dalam lagi. "Berkah? Berkah apa Bunda?"
__ADS_1
"Ya berkah. Berkah karena Bunda merasa bahagia bisa berboncengan dengan lelaki tampan. Dan juga berkah untukmu karena kamu bisa mencium dan memeluk lelaki tampan itu. Hahaha hahaha!"
Ehemmmm...
Suara deheman dari seseorang berhasil membuat pandangan mata ibu dan anak itu mengarah ke sumber suara. Terlihat Sutha sudah berdiri di ambang pintu kamar Jenar sembari bersedekap dada.
"Ayah mencium aroma-aroma posisi Ayah sudah tergeser di hati Bunda nih, gegara lelaki itu. Apakah dua wanita yang begitu berarti di hidup Ayah ini sudah berpaling ke lelaki tampan itu, hemmmm?"
Jenar dan Rukmana saling melempar pandangan tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Namun setelah itu mereka sama-sama tergelak lirih dan beranjak dari atas ranjang. Dengan langkah kaki lebar, ibu dan anak itu mendekat ke arah Sutha, dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Jelas tidak dong Yah. Meski ada berjuta-juta lelaki tampan di luar sana, Ayah tetap menjadi cinta terakhir untuk Bunda."
"Dan, meskipun nanti Jenar sudah memiliki seorang pendamping hidup, Ayah akan tetap menjadi cinta pertama untuk Jenar, yang tidak akan pernah Jenar lupakan dan tinggalkan."
Rasa hangat seketika menjalar, menyelimuti hati Sutha. Inilah harta paling berharga yang ia miliki. Seorang istri yang sudah puluhan tahun mendampingi hidupnya. Menjadi teman dalam menjalani pasang surut kehidupannya. Dan seorang putri yang menjadi sumber kebahagiaan yang selalu membuatnya bersemangat untuk menapaki hari-harinya ini.
Bagi Sutha sendiri, Jenar merupakan anugerah terindah yang ada di dalam kehidupannya. Sempat divonis susah memiliki keturunan karena ada sesuatu yang memicu berkurangnya tingkat kesuburan yang Sutha miliki, namun berkat kegigihan dalam berupaya dan berdoa, pada akhirnya Tuhan memberikan sebuah kepercayaan untuk menjadikannya sebagai seorang ayah yang sempurna. Hal itulah yang membuat Sutha begitu mencintai dan menyayangi putri semata wayangnya ini.
"Ayah juga sangat mencintai kalian. Sangat-sangat cinta."
Tiga orang itu nampak berpelukan erat sembari tertawa. Sebuah potret kehidupan keluarga kecil yang sederhana namun nampak begitu bahagia. Saling memeluk untuk mencurahkan segala rasa cinta yang ada dan sungguh membuat siapapun terpana dibuatnya.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1